Himbauan Bijak Habib Nabiel Al Musawwa, Menanggapi Pelarangan Ahok


Islamedia - Larangan mengadakan tabligh Akbar di Monas oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat reaksi dari warga Jakarta.


Sebelumnya warga Jakarta, Kurniadi membuat petisi online untuk Gubernur DKI Jakarta agar mengeluarkan izin pelaksanaan tabligh akbar di Monas yang akan digelar oleh pengajian Majelis Rasulullah SAW.


Menanggapi pelarangan tersebut, salah satu pimpinan Majelis Rasulullah SAW, Habib Nabiel Al Musawwa (kakak kandung Alm. Habib Mundzir Al Musawwa-red), dengan bijak mengeluarkan sebuah himbauan kepada umat Islam lebih khusus kepada keluarga besar jama’ah Majelis Rasulullah SAW.


Berikut isi himbauan tersebut yang islamedia kutip dari suara-nu, Ahad (18/10/2015) :




Salaam..


Anak2 ku jama’ah Majelis RasuluLLAAH SAW, dan para pencinta Sayyidina Muhammad SAW..


Mengawali pagi ini dg doa : اللهم بك أصبحنا وبك أمسينا lalu kita membaca Al Qur’an kalam ALLAAH yg suci dan mulia, lalu melatih lisan kita dg Rathib dan zikir..


Sehingga hati dan lisan kita selalu bersih dan pembicaraan serta niat kita pun selalu suci dan tidak pernah terlintas untuk mencaci maki dan berburuk sangka pada orang lain..


Guru Mulia kita Habibana Umar bin Hafizh mengajari kita kelembutan dan kesantunan budi bahasa dan cinta terhadap orang lain, dan membalas kejahatan dengan kebaikan dan doa, bukan dg sesama kejahatan..


Saat Imam Ja’far Ash Shadiq berjalan bersama anaknya lalu dicaci maki orang lain di depan orang banyak, beliau diam seribu bahasa, padahal orang tsb mencaci dg kata2 yg kasar dan kotor, lalu anaknya bertanya pada Imam Ja’far : “Mengapa ayah diam saja..?” Jawab Imam Ja’far : “Ayah dan nenek moyangku tidak pernah mengajari ku mencaci maki, jadi aku tidak tahu bagaimana cara membalasnya wahai anakku..?”


SubhanaLLAAH.. Demikianlah para Imam2 Ahlus Sunnah dan ulama Habaib, ada diantara mereka yg saat dicaci maki menjawab : “Semoga memang yg kau katakan dan engkau tuduhkan itulah yang benar, sehingga engkau selamat.”


Demikian lah pula Guru Mulia kita Habibana Umar bin Hafizh tidak pernah membalas cacian dan makian, selain jika sudah berlebihan beliau menjawab : “HadakaLLAAH (semoga ALLAAH SWT memberimu hidayah).”


Jadi kita tidak perlu terprovokasi dg orang2 yg bermulut kotor atau yg memanas2-i kita, tetaplah jawab dg santun dan hindari berdebat, sebab jihad terbesar kita bukan melawan orang lain tetapi melawan hawa nafsu kita, terutama mulut dan hati kita dari menyakiti orang lain. Itulah yg paling sulit dan paling berat, mengangkat senjata itu anak kecil jika diajari bisa, tapi menahan nafsu seorang ulama atau ahli ibadah pun belum tentu mampu.


Terkait arogansi Ahok maka kita anggap wajar saja, dia non muslim dan dia obyek dakwah, yang lebih parah dari diapun banyak, yg penting jangan kita malah jadi sama dg dia, itu yg salah besar. Kita pasti akan bersikap terhadap Ahok, tapi sikap yg elegan dan penuh pertimbangan, bukan mencaci maki dia, kana idzan mitsluhum (nanti kita jadi sama dg dia).


Lalu terhadap kritik saudara2 kita yg lain yg diajari oleh guru mereka biasa bermulut kotor dan mencaci maki, mari kita katakan : “Aamiin, semoga Anda yg benar dan kami yg salah, sehingga dg kata2 Anda dan tuduhan anda itu tidak akan mencelakakan Anda di Hari Kiamat nanti.” Kalau mereka terus memaksa kita dan menyindir kita katakan : “Demi ALLAAH kami jama’ah Majelis RasuluLLAAH tidak pernah mendengar Guru kami mencaci dan memaki orang sekalipun, dan kami akan Istiqomah dg manhaj ini sampai kami wafat!”


Tegas itu perlu, mengambil sikap juga wajib, tapi kita tidak akan pernah mencaci dan memaki orang selama2 nya, jangan beralasan kita harus jihad karena jihad qital (peperangan) syaratnya harus dipimpin oleh penguasa resmi yg Islami. Sekarang marhalah (tahapan) dakwah kita, adalah saat Nabi SAW di Makkah, 13 tahun beliau berdakwah disiksa dan dicaci tidak pernah dibalas oleh beliau, bahkan ada 360 patung di Ka’bah BaituLLAAH tidak pernah satupun diusik oleh beliau padahal berhala seperti itu adalah kesyirikan terbesar, mengapa..? Karena periode itu adalah periode mendidik diri dan hawa nafsu lebih dulu.


Bagaimana mau berjihad kalau hawa nafsu saja belum bisa diperbaiki, bagaimana mau nahi munkar kalau mulut saja sering mengucapkan kata2 kotor dan menyakiti saudaranya sesama muslim? Bagaimana mau menegakkan syariat kalau hatimu masih dipenuhi su’uzhon dan menuduh tanpa tabayyun kepada saudaramu sendiri yg beriman? Bagaimana mau tegaknya Daulah atau Khilafah kalau engkau tak mampu menjadi Amir atau Khalifah bagi hawa nafsumu sendiri menjadi hamba yg benar2 menghamba pada ALLAAH SWT?


Jadi jangan sedih dan jangan ragu wahai anak2 ku, manhaj kalian adalah manhaj yg memiliki sanad dari Guru kalian, dari guru2 kalian dan dari Gurunya lagi, demikian seterusnya sampai Nabi Muhammad SAW. Kita akan segera memusyawarahkan langkah terbaik untuk acara Guru Mulia kita, dan kita akan melakukannya dg istikhoroh dan hati yg dipenuhi zikir. Kalau ada yg mencaci atau masih mengkritik kalian juga katakan : “Kami mendoakan dg benar2 khusyu’ dan ikhlas agar Anda yg benar dan kami yg salah.” Kalau mereka masih mendesak lagi maka katakan : “Jika Anda yg benar semoga ALLAAH memberi pahala kepada Anda, dan jika kami yg benar semoga ALLAAH tetap mengampuni Anda.”


Insya ALLAAH dengan makin kerasnya ujian dan tantangan serta cemoohan orang2 kepada Majelis RasuluLLAAH, ini adalah bisyarah akan kemenangan yg dekat dan tegaknya bendera2 Majelis ini di seluruh Indonesia bahkan di dunia. Ingatlah saat Sayyidina Muhammad SAW pemimpin kita dikepung musuh saat perang Ahzab/Khandaq, dlm keadaan terdesak demikian, tiba2 terdengar kabar Yahudi Madinah berkhianat, dalam keadaan demikian tiba2 orang2 munafik melarikan diri (desersi) dari pasukan kaum muslimin, dalam keadaan semua sahabat tercekat luar biasa, Sayyidina Muhammad SAW malah tersenyum dan berkata : ABSYIR BINI’MATIN MINALLAAHI WA FATHIN QARIIB (Bergembiralah kalian dg nikmat dari sisi ALLAAH SWT dan kemenangan yg sudah dekat)..


Akhukum wa muhibbukum bil khalishil Hubb,


Habib Nabil bin Fuad Al Musawa.



[islamedia/YL]