Kristen GIDI Beri Syarat, Umat Islam Terancam Tak Bisa Rayakan Idul Adha




Islamedia - Insiden pembakaran masjid di Tolikara, Papua yang menimpa warga Muslim pada saat hendak melaksanakan sholat Idul Fitri lalu, masih membekas hingga saat ini, apalagi aktor utama dari kerusuhan tersebut belum diungkap.


Kini, umat Islam Tolikara terancam tak bisa merayakan Idul Adha yang akan digelar 24 September mendatang, Pasalnya pihak Gereja Injili di Indonesia (GIdI) meminta syarat-syarat tertentu jika umat Islam ingin melaksanakan sholat Idul Adha.


Tokoh umat Islam Tolikara, ustadz Ali Muchtar dalam keterangan kepada media islampos, pada Jumat lalu mengatakan bahwa pelaksanaan sholat Idul Adha di Tolikara masih belum ada jaminan akan berlangsung aman.


Ini dikarenakan pihak Kristen dari Gereja Injili di Indonesia (GIdI) meminta beberapa syarat jika umat Islam Tolikara ingin merayakan lebaran Idul Adha.


“Tidak diizinkan sama mereka, kecuali permintaan mereka dikabulkan. Bisa diizinkan kembali seperti dulu yang penting dua tersangka yang ditahan di Polda dibebaskan, proses hukum mereka dihentikan dan diselesaikan secara adat, pembersihan nama baik tokoh-tokoh GIdI termasuk GIdI nya sendiri,” ujar pria baruh baya ini.


“Termasuk mereka juga minta gereja GIdI di Solo yang sempat ditutup oleh umat Islam di sana bisa dibuka kembali,” kata ustadz Ali.


Ustadz Ali Muchtar menyatakan bahwa dirinya datang ke Jakarta bersama dengan sejumlah tokoh agama, pejabat pemerintah dan aparat keamanan sejak beberapa hari yang lalu untuk bertemu Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan guna membahas proses rekonsiliasi dan persiapan Idul Adha di Tolikara.


Pada pertemuan pada Sabtu siang (5/9/2015) kemarin, antara tokoh Tolikara dengan Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan, pihak GIdI kembali menegaskan adanya beberapa persyaratan jika umat Islam ingin merayakan Idul Adha di Tolikara dengan aman.[islamedia/YL]