Ustadz Idris Abdusshomad: Menghiasi Lisan dengan Kejujuran (1/2)


Kejujuran adalah akhlak yang sangat mulia. Pada beberapa ayat Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta'ala mensifati sejumlah Nabi dan RasulNya dengan sifat jujur. Seakan sifat ini adalah sifat yang mendominasi dalam kepribadian mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al kitab. (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang selalu jujur lagi seorang Nabi" (Maryam: 41).

FirmanNya juga: “Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan Dia adalah seorang Rasul dan Nabi”. (Maryam: 54).

Dalam ayat lain "Yusuf, Hai orang yang Amat jujur (dipercaya)" (Yusuf: 46).

Kemudian firmanNya: "Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat jujur dan seorang Nabi" (Maryam: 56).

Sifat shidiq adalah sifat Rasulullah Saw. yang paling populer dikenal penduduk Mekah ketika itu, sehingga mereka menjulukinya dengan ash-shiddiq al-amiin, orang jujur yang terpercaya. Dan Khadijah radiyallaahu 'anha juga pernah mensifati beliau tepat setelah peristiwa turun wahyu pertama: “Sungguh engkau senantiasa menyambung silaturahmi dan berkata jujur” (HR. Bukhari).

Setiap Muslim, terutama pada zaman ini, perlu kembali bercermin, untuk mengukur sejauh mana sifat mulia ini terpatri dalam jiwa dan karakter.

Lisan adalah fasilitas dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang begitu berharga. Dengan karunia ini, seorang hamba mampu melakukan ibadah secara lebih optimal. Betapa banyak ibadah lisan yang begitu bernilai di sisiNya.

Namun seseorang juga bisa terjerumus kepada murka Allah Subhanahu Wa Ta'ala, lantaran tidak menjaga lisan. Ia bagai pisau bermata dua. Betapa banyak kerusakan yang terjadi di muka bumi ini, lantaran tidak menjaga lisan. Maka Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasalam memerintah kita, untuk senantiasa menjaganya: "Siapa beriman kepada Allah dan hari Akhirat, maka berkatalah yang baik atau diam" (HR. Bukhari).

Dalam konteks personal pelaku, jujur lisan bisa membawa pelakunya kepada kondisi ketenangan, karena ia sudah berkata benar. Orang beriman yang jujur lisan akan merasa ketentraman. Itu karena ia yakin perbuatan jujurnya akan diridhai Allah Subhanahu Wa Ta'ala Dzat Yang Maha Mengetahui segala tingkah lakunya.

Namun siapa yang tidak jujur, akan merasakan sebaliknya. Si Pendusta akan merasakan ketidaknyamanan atau gelisah, meskipun sedikit kadarnya. Atau mungkin, ia sama sekali tidak merasa gelisah, tetapi yang demikian berarti bahwa hatinya sedang "sakit parah", wal'iyaadzu billaah.

Baik menimbulkan rasa gelisah ataupun tidak, dusta akan membawa pelakunya kepada keburukan dan kerusakan. Bersambung...

Sumber: Ikadi.or.id (dengan penyesuaian seperlunya)
close
Banner iklan disini