Kisah Sang Habib Pencipta Lagu 'Indonesia Merdeka'


Islamedia - Indonesia baru saja memperingati hari kemerdekaannya ke 70 tahun beberapa hari lalu, apakah anda tahu siapa pencipta puluhan lagu perjuangan nasional ? ya, selama ini kita hanya mengenalnya sebagai H. Muthahar, namun setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata beliau juga adalah seorang habaib, hal ini merupakan dari garis keturunannya yang masih terkait dengan Nabi Muhammad SAW.


Nama beliau adalah Habib Muhammad Husein Muthahar, ia juga dikenal sebagai penyelamat bendera pusaka asli (kisah heroik di Yogyakarta saat terjadi Agresi Militer Belanda II - red) dan pendiri Paskibraka.


Sebagaimana dikutip dari forum Gemuis Betawi, Habib Muhammad Husein Muthahar selain pelopor kemerdekaan ia juga seorang komposer lagu perjuangan Indonesia yang hebat, ia telah menciptakan ratusan lagu perjuangan Indonesia, seperti lagu nasional Hari Merdeka, Hymne Syukur, Hymne Pramuka, Dirgayahu Indonesiaku, juga lagu anak-anak seperti Gembira, Tepuk Tangan Silang-silang, Mari Tepuk dan banyak lagi yang lainnya, namun Lagu Hari Merdeka dan Hymne Syukur adalah salah satu lagu fenomenal yang diciptakan oleh Habib Muhammad Husein Muthahar.


Terkait penciptaan lagu Hari Merdeka, ada satu cerita yang menarik. Ternyata inspirasi lagu Hari Merdeka ini muncul secara tiba-tiba saat beliau sedang berada di kamar kecil salah satu hotel di Yogyakarta.


Bagi seorang komposer, setiap inspirasi tidak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Beliau pun cepat-cepat meminta bantuan Pak Hoegeng Imam Santoso (Kapolri pada 1968–1971). Saat itu Pak Hoegeng belum menjadi Kapolri.


Sang Habib menyuruh Pak Hoegeng untuk mengambilkan kertas dan pulpen. Berkat bantuan Pak Hoegeng, akhirnya jadilah sebuah lagu yg kemudian diberi judul “Hari Merdeka”. Sebuah lagu yang sangat fenomenal dan sangat terkenal dan banyak dinyanyikan oleh segenap lapisan rakyat Indonesia, bahkan anak-anak pun sangat hafal dan pandai menyanyikannya.


Sekilas Tentang Habib Husein Muthahar


"Husein Muthahar", lahir di Semarang, Jawa Tengah pada tgl 5 Agustus 1916. Perjalanan pendidikan formalnya dimulai dari ELS (Europese Lagere School atau sama dgn SD Eropa selama 7 thn) , kemudian dilanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Ondewwijs atau sama dgn SMP selama 3 tahun) dan dilanjutkan ke AMS (Algemeen Midelbare School atau sama dgn SMA selama 3 tahun) Jurusan Sastra Timur khususnya Bahasa Melayu, di Yogyakarta. Kemudian beliau melanjutkan ke Universitas Gajah Mada dengan mengambil Jurusan Hukum dan Sastra Timur yang khusus mempelajari Bahasa Jawa Kuno. Namun perkuliahannya hanya 2 tahun, drop out (DO) karena harus ikut berjuang.


Habib Husein Muthahar terlibat Pramuka sejak awal lembaga kepanduan berdiri. Beliau adalah salah seorang tokoh utama Pandu Rakyat Indonesia, gerakan kepanduan independen yang berhaluan nasionalis. Ia juga dikenal anti-komunis. Ketika seluruh gerakan kepanduan dilebur menjadi Gerakan Pramuka, Habib Husein Muthahar juga menjadi tokoh di dalamnya.


Habib yang  juga mantan duta besar Italia ini, meninggal dunia di Jakarta tanggal 9 Juni 2004 di usia 88 tahun.


Walaupun beliau berhak dimakamkan di Makam Taman Pahlawan Kalibata karena memiliki Tanda Kehormatan Negara Bintang Mahaputera atas jasanya menyelamatkan Bendera Pusaka Merah Putih dan juga memiliki Bintang Gerilya atas jasanya ikut berperang gerilya pada tahun 1948-1949, tetapi beliau tidak menginginkan itu.


Sesuai dengan wasiat beliau, akhirnya pada 9 Juni 2004 beliau dimakamkan sebagai rakyat biasa di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut Jakarta Selatan.[berbagai sumber/islamedia/YL]