"Tegaknya" Masjid Ibadurrahman di Khuza'a Jalur Gaza, Walau Dirobohkan 11 Ton Bom Zionis


Islamedia - Masjid Ibadurrahman, Kota Khuza'a, Khan Younis, Jalur Gaza, menjadi saksi biadabnya serangan bombardir Zionis Israel setahun silam.

Seperti terdokumentasi dalam video yang sengaja direkam para tentara Zionis Israel, salah seorang pasukan penjajah itu terdengar berceloteh seraya menyorotkan kameranya ke kompleks Masjid Ibadurrahman dari kejauhan.

"Kami sedang menunggu peledakan sekitar 11 ton bom di atas dan di bawah tanah," kata seorang tentara dalam rekaman tersebut.

Mereka pun kontan bersorak sorai penuh kegembiraan ketika tampak asap debu mengepul menutupi bangunan masjid yang hancur lebur beserta kencangnya suara ledakan susul menyusul. Pihak Zionis Israel berdalih bahwa serangannya dilakukan secara tertarget untuk menghancurkan markas dan terowongan pejuang Gaza.

Namun kesaksian dari warga dan aktivis setempat menyatakan fakta sebenarnya yang berbeda. Walid Khuzaa, sebagaimana dikutip France24, menyebutkan bahwa serangan bom Zionis itu dilakukan secara acak, membom masjid-masjid, rumah-rumah, dan bangunan infrastruktur semuanya.

"Masjid (Ibadurrahman) bukan hanya satu-satunya yang diledakkan. Pasukan Israel juga menghancurkan kesemua 17 masjid dan rumah-rumah di pedesaan tersebut," tutur Walid.

Saat itu, ia menggambarkan Khuza'a sebagai "lapangan luas penuh puing-puing." Warganya yang mayoritas berprofesi sebagai petani, terpaksa pergi ke pusat kota Khan Younis dan mengungsi di sekolah-sekolah, sementara yang lainnya tetap di Khuzaa berusaha mencari korban jiwa yang terkubur di bawah reruntuhan.

Pengeboman tanggal 30 Juli 2014 lalu itu menyisakan puing-puing bangunan masjid hingga sekarang. Begitu juga rumah-rumah dan bangunan lainnya yang rusak masih belum terpulihkan.

Tetapi sebagaimana dilaporkan kantor berita Islam IINA pada Jumat (10/7/2015) kemarin, kedekatan dan semangat warga Jalur Gaza kepada Al-Quran kembali menunjukkan pembuktiannya.

Sebanyak 10.000 mushaf Al-Quran dibagikan secara cuma-cuma pada hari Rabu lalu, diperuntukkan bagi masjid dan rumah di seantero Jalur Gaza yang masih tampak hancur menyusul agresi Zionis Israel tahun 2014 lalu.

Kampanye pembagian Al-Quran yang disponsori Taiba International Humanitarian Association tersebut diluncurkan di depan reruntuhan Masji Ibadurrahman, di kota Khuza'a, Khan Yunis bagian timur. Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat dari Kementerian Wakaf Palestina dan organisasi-organisasi sumbangan kemanusiaan.

Selama ini Jalur Gaza dikenal produktif dalam menghasilkan belia-belia penghafal Quran. Tidak mengherankan jika ketika dihadapkan kepada kondisi kehilangan dan kehancuran sedemikian parah pun, tetap Al-Quran menduduki prioritas utama.

Angka tingkat kesuburan di Palestina memang dikenal tinggi. Menurut hasil survey tahun 2014, total tingkat kesuburan di Palestina mencapai 4.1 kelahiran (2011 - 2013). Khusus di Jalur Gaza, meski angka itu turun dari 6.9 kelahiran pada tahun 1997, tapi tetap lebih tinggi daripada rata-rata nasional, karena mencapai angka 4.5 kelahiran. Tingkat fertilitas menunjukkan rata-rata jumlah anak yang dimiliki oleh setiap penduduk perempuan sepanjang hidupnya.

Populasi belia di Jalur Gaza sendiri terbukti besar, bahkan lebih besar dibandingkan di Tepi Barat. Badan Pusat Statistik Palestina melansir data mutakhirnya, bahwa hingga pertengahan tahun 2015 ini, jumlah warga usia 0-14 tahun di Jalur Gaza mencapai 43% dari total populasinya.

Sementara itu, data Kementerian Dalam Negeri Palestina mengungkap, bahwa pada kuartal pertama (Januasi - Maret) tahun 2014  lalu, sebelum serangan Zionis Israel, ada hampir 14.000 bayi terlahir di Jalur Gaza.

Tidak heran jika kebutuhan mushaf Al-Quran menjadi perhatian pemerintah dan warganya, apalagi di tengah serangan-serangan biadab Zionis Israel yang gelap mata menghancurkan segala.

Seperti laporan Human Rights Watch terkait serangan setahun lalu, bahwa meskipun pasukan Israel memberi peringatan kepada warga untuk mengosongkan wilayah tempat tinggalnya di Khuzaa itu, sebuah daerah kecil berpenduduk 10.000 jiwa, tetapi Zionis Israel tetap saja menembaki penduduk sipil tak bersenjata yang tengah meninggalkan area tersebut.

"Mereka bahkan menghancurleburkan sebuah sekolah yang dikelola oleh Badan Pengungsi PBB UNRWA," kata Walid dalam keterangannya. (iina/ france24/ moigovps/ pcbsgovps/ ismed)