Catatan Aktivis Dakwah Soal Toleransi di Papua


Islamedia - Mengapa acapkali saya menyebut bahwa toleransi di Papua itu sudah clear? Ini salah satunya.

Saya secara berkala 'keluar masuk gereja' dengan aman. Bahkan di daerah 'merah' rawan konflik sekalipun. Pertama kali saya menawarkan diri. Selanjutnya secara rutin, saya yang diminta datang. Berbagi cerita, inspirasi, dan motivasi.

Apa yang saya sampaikan kebanyakan dari kisah-kisah agung dalam Al Quran yang saya modifikasi penyebutannya agar tidak ada 'blocking'. Karena bagi saya, firman-Nya berlaku universal, bagi siapa pun dan keindahan Islam pun berlaku universal, bagi dan kepada siapa pun.

Apakah mereka tahu saya seorang Muslim? Tahu. Sangat tahu. Dari perkenalan nama saya saja mereka sudah tahu bahwa saya adakah seorang muslim (bahkan pada awalnya mereka menganggap saya teroris karena nama tengah saya Mujahid). Tidak lama, mereka memanggil saya dengan Bapak Pendeta Muslim.

Di Papua saya pun membuat sekolah non formal, gratis, bagi muslim dan non muslim. Pendatang dan putra daerah. Belajar membaca, menulis, berhitung, komputer, hingga belajar merakit dan membuat robot.

Beberapa sahabat mungkin tidak setuju dengan apa yang saya lakukan. Tidak mengapa. Saya menghargainya. Namun jika saya tidak memulai melakukannya, pertanyaan yg selalu hadir di benak saya adalah "Lalu siapa yang akan menyampaikan keindahan Islam kepada mereka? Siapa yang berdakwah baik dengan lisan atau dengan perbuatan kepada mereka?".

Bagi saya, betul bahwa keyakinan dan agama saya dan mereka berbeda. Saya meyakini bahwa hanya Islam agama yang benar. Dan mereka pun meyakini bahwa agama mereka adalah benar. Namun, kita diciptakan sebagai manusia dari Pencipta yang sama. Ada titik-titik persamaan yang membuat kita saling menjaga keharmonisan kehidupan.

***

Nah, inilah sebabnya saya sampaikan bahwa jika ada kejadian intoleran yang berujung pada penistaan agama di Papua, dapat dipastikan bukan berasal dari hal yang sepele. Bahkan sangat mungkin aktor intelektualnya bukan orang Papua. Perlu dan butuh effort yg sangat besar untuk menyusun skenario dan menjalankannya. Dan ini pasti 'berbiaya' mahal.

#‎SelamatkanIndonesia‬
‪#‎SaveMuslimPapua‬
‪#‎LintasanPikiran‬

Azzam Mujahid Izzulhaq
close
Banner iklan disini