Di Distrik Jepang ini, Para Pedagang Menutup Tokonya Saat Sholat Jumat


Islamedia - Sepekan sekali, jalanan di Distrik Shinjuku ditutup. Lantaran para pedagang di area yang disebut sebagai “Islam Side Street” itu tengah menunaikan shalat Jumat.
 
Jalanan yang di bagian kanan kirinya dipenuhi toko-toko kelontong khas India, toko bumbu ala Bangladesh, dan restoran kebab Turki itu memang lekat dengan nuansa kultur Muslim. Tampak pula sebuah masjid mungil berlantai empat sebagai penanda mayoritas kelompok warga di area tersebut.
 
Ratusan jamaah selalu memadati masjid tersebut ketika azan berkumandang. Keberadaan kawasan ini, dilansir Asahi.com memang selalu menarik perhatian turis Muslim dari negara-negara Asia lainnya.
 
Letaknya di bagian barat stasiun Shin-Okubo yang didominasi komunitas masyarakat Korea tak mengurangi kekhusyukan ibadah umat Muslim di sana. Ketika shalat Jumat berakhir sekitar pukul 13.30, barulah para pedagang tampak kembali memadati kawasan tersebut.
 
Yang menarik, meski berada di kawasan Muslim, seluruh toko dan restoran di Shinjuku mencantumkan kata halal di bagian depan bangunan. Para pengelola kawasan yang berkembang sejak tahun 2000 itu memang berkomitmen tidak menawarkan makanan berbahan dasar babi dan alkohol.
 
Salah satu mahasiswa Waseda University dari Indonesia M Firdaus (39 tahun) mengaku selalu nongkrong bersama teman-temannya di kawasan tersebut setiap hari Jumat.
 
“Kita tidak tahu ada alternatif tempat makan halal selain di sini,” katanya pada Asahi.com beberapa waktu lalu.
 
Demi menuntaskan rasa kangennya pada suasana keislaman, Firdaus menyempatkan diri sepekan sekali ke Shinjuku. Meskipun begitu, ia harus menempuh perjalanan sekitar 40 menit dengan kereta dari rumahnya di kawasan Higashi-Murayama, Tokyo Barat.
 
Firdaus merasa infrastruktur bagi umat Muslim di Jepang masih terbatas. Hanya ada sekitar 10 masjid di area Tokyo. Semuanya berdekatan dengan stasiun kereta api.
 
Salah satu mahasiswa dari Malaysia yang tak mau disebut namanya, juga kerap datang ke Islam Side Street juga merasa nyaman beribadah di sana. Lantaran ia merasa kurang nyaman ketika shalat di koridor kampusnya.
 
“Saya kadang merasa aneh ketika shalat dilihat oleh orang Jepang,” kata pria berusia 26 tahun tersebut.

Alasan lainnya, ia betah ke Shinjuku karena cocok dengan cita rasa restoran Indonesia di sana. Ia kerap menikmati menu nasi campur yang berisi nasi, ayam, dan beragam sayur berkuah.
 
Profesor sosiologi Waseda University, Hirofumi Tanada, memperkirakan komunitas Muslim Jepang sekitar 100 ribu orang. Berdasarkan data Kementerian Hukum, komunitas Muslim di Jepang bermula dari keberadaan sekitar 8.000 migran Muslim sejak tahun 1980an.
 
Ia memerinci, komunitas Muslim Jepang kini terdiri atas 20 ribu Muslim Indonesia, 10 ribu Muslim Pakistan, 9.000 orang dari Bangladesh, masing-masing 5.000 orang dari Malaysia dan Iran serta 2.500 orang dari Iran dan Turki.
 
Tanada juga menyebutkan ada pertumbuhan pembangunan masjid di Jepang. Dari 15 masjid di seantero Jepang pada tahun 1999 menjadi 81 masjid pada November 2014.
 
“Kata halal sekarang sudah umum ditemui di Jepang, tetapi secara umum Islam masih saja dikenal sebagai agama dari negara-negara tak dikenal bagi sebagian besar orang Jepang,” kata Tanada. [rol/islamedia]