Menjadi Guru Para Netizens di Era Digital


Islamedia -  'Apa yang dianggap sangat baru hari ini, Akan kadaluwarsa di esok hari.'

Salah satu filsafat yang menjadi azas pelaksanaan pendidikan adalah aliran progressivisme. Filsafat ini berpandangan bahwa segala hal harus diarahkan pada kemajuan. Dunia memang selalu berubah, agar selaras dengan perputaran dunia ini, maka kitapun dituntut untuk selalu berubah pula. Cara-cara lama yang mungkin masih relevan masih bisa dipertahankan, namun mengambil hal baru yang baik merupakan keniscayaan jika kita tidak ingin tergilas oleh perubahan zaman. 


Pada jaman dahulu untuk melakukan kegiatan belajar mengajar harus menggunakan bebatuan, kayu, dan dedaunan untuk alat tulis menulis. Selanjutnya muncul era revolusi pertama pada dunia pendidikan dengan menggunakan media kertas sejak ditemukan pertama kalinya oleh bangsa Cina. Para siswapun sudah tidak perlu lagi membawa alat-alat berat berat menuju ke sekolah karena sudah ada buku. 


Sekarang ini lain lagi, dunia pendidikan telah memasuki era digital. Revolusi informasi telah terjadi. Segala informasi apapun dengan sangat mudah bisa didapat bahkan berhamburan setiap saat. Para siswa yang membawa alat elektronik kecil saja didalamnya sudah mencakup ratusan fitur. 


Para nitizens atau pengguna berbagai media berbau digital ini dengan sangat mudah mengakses ceramah para tokoh kesayangannya melalui youtube atau vimeo, mereka bisa melakukan browsing informasi apapun pada melalui google, mereka bisa mengirim pesan berupa tulisan, gambar, suara, atapun film melalui whats App, dan seterusnya. 

Mantan Rektor UIN Malang, Prof. Dr. Imam Suprayogo melalui tulisannya yang berjudul, “Mendidik Generasi Youtube” mengatakan bahwa pada era revolusi informasi ini para pendidik perlu selalu berinovasi. Beliau menyarankan para pendidik terutama di lingkungan Perguruan tinggi seharusnya mengarahkan pembelajarannya pada basic research. Tanpa ada muatan dan tantangan yang lebih, maka peran guru atau dosen bidang pengajaran akan bisa digantikan oleh berbagai media yang sudah serba canggih ini. 


Pemikiran untuk selalu memperbarui metode pembelajaran sesungguhnya sudah selalu didengungkan sejak dulu oleh Islam. Khalifah Ali RA. Pernah berpesan,"jangan ajari anak-anakmu dengan cara yang sama dengan cara kamu diajar, karena mereka akan menempati suatu zaman dimana kamu sudah tidak berada di zaman itu lagi.”

Mencermati tantangan yang sedemikian besar bagi para guru maupun dosen, penekanan fungsi utama dari keduanya perlu diperkuat lagi. Fungsi yang dimaksudkan adalah fungsi mendidik. Di dalam fungsi inilah para guru maupun dosen perannya tidak akan pernah bisa digantikan. Seorang guru atau dosen perlu menjadi contoh. Seorang guru wajib bisa di gugu dan ditiru. 


Pendidik adalah sebaik-baik manusia yang berjalan dimuka bumi ini, demikian kata Nabi Muhammad saw. Para pendidik akan selalu menularkan dan menanamkan nilai-nilai kebaikan walaupun dirinya belum sepenuhnya baik. Hal ini tentu tidak bisa didapat oleh para nitizens nelalui media electronik digital apapun. Karena media sejenis youtube ataupun google bersifat sangat liar. 


Dalam artian jika kita meminta layanan kepada media tersebut hal baik, maka akan ditampilkan yang baik, namun sebaliknya ketika di searching sesuatu yang tidak sepatutnya maka akan dilayani juga. Sedangkan pendidik hanya akan melayani permintaan yang baik, tidak akan pernah ada pendidik yang memang memilki jiwa pendidik bersedia melayani permintaan negatif dari yang didiknya. 

Wallahu’allam bishowwab


Dr. Taufiqi, SP 
(Kepala Sekolah SMK Unggulan An-Nur, Bululawang, Kab Malang)