Mengerikan! 100% Wanita Perancis Akui Pernah Alami Pelecehan Seksual


Islamedia -  Sebanyak 100% wanita Perancis ternyata pernah jadi mangsa berbagai jenis pelecehan seksual di sarana transportasi umum, demikian menurut survey, seperti dilansir Telegraph pada pertengahan April lalu.

Survey tersebut, dalam laporannya yang diserahkan kepada kementerian hak-hak perempuan Perancis, menemukan bahwa "setiap perempuan pengguna moda transportasi massal pernah menjadi seorang korban" dari "pelecehan jender ataupun pelecehan seksual"--meskipun ada sebagiannya yang "tidak menyadari" hal ini karena mereka dikondisikan untuk menerima saja pelanggaran level rendah.

Laman Independent yang berbasis di Inggris, menyebutkan hasil survey yang dilakukan atas 600 orang responden di kota Paris tersebut sebagai "hasil yang mengejutkan". Lebih mengejutkan lagi, tak kurang dari setengah yang disurvey mengaku, mereka mengalami pelecehan seksual pertama kali sebelum mereka berumur 18 tahun. Pihak kementerian sendiri menyebutkan akan menindaklanjuti laporan "berkualitas tinggi" itu.

Laporan tersebut merinci bahwa pelecehan dapat meliputi "penghinaan, perilaku mengintimidasi lainya (flirting, suit-suitan, komen atas penampilan), hingga serangan seksual dan pemerkosaan."

Pelecehan tersebut seringkali seolah "tidak kelihatan" karena memang jarang dilaporkan oleh korban. Selain itu, serangan verbal (kata-kata) maupun fisik dari pelecehan tersebut, memaksa membatasi "kebebasan wanita, karena kerap mereka terpaksa mengganti kebiasaan hidup mereka sehari-hari: mulai dari mengubah rute perjalanan, pilihan moda transportasi, jadwal, perilaku, dan pakaian, untuk menghindari konfrontasi."

Seorang perempuan usia 26 tahun yang tidak mau disebutkan namanya berkata kepada media lokal Paris, "laki-laki di Paris ini bebasnya minta ampun... kayak mereka tidak peduli atas apa yang mereka katakan atau bagaimana perasaan orang lain (gara-gara perkataan mereka)."

Ia juga melanjutkan, "kadang aku sengaja pindah gerbong kereta kalau melihat banyak laki-lakinya. Aku lebih milih tidak berada dalam situasi di mana aku sendirian dan cuma ada lelaki, karena aku tahu apa yang bakal terjadi." 


Perancis sendiri dikenal sebagai negara yang menganut sekulerisme laicite. Beberapa peristiwa diskriminasi terjadi terhadap perempuan. Masih di bulan April lalu, seorang siswi dilarang masuk oleh pihak sekolah gara-gara memakai rok panjang. (telegraph/independent/ismed)
close
Banner iklan disini