Karena Kelalaian Orang Tua Dapat Menyebabkan Anak Kehilangan Identitas Diri


Islamedia -  Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL Jakarta kembali melaksanakan perkuliahan yang kesepuluh  di Kantor Suara Islam, Kalibata tengah No. 3A Jakarta Selatan. Kuliah yang dihadiri oleh 35 orang peserta ini dimulai pukul 18.30 WIB, membahas tema “Kesetaraan Gender dan Feminisme” dengan menghadirkan Akmal Sjafril, salah seorang pendiri SPI yang juga penulis buku Islam Liberal 101.

Akmal  menjelaskan kesetaraan gender merupakan sebuah konsep yang salah. “Mereka berpikiran, misalnya, jika laki-laki mempunyai hak dan kewajiban maka perempuan juga mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Misalnya jika seorang laki-laki boleh menjadi imam shalat berjama’ah dengan makmum campuran, lantas kenapa seorang perempuan tidak boleh menjadi imam seperti yang pernah dilakukan oleh Amina Wadud?” ungkap Akmal. 

Akmal menampik pandangan bahwa laki-laki dan perempuan hanya berbeda dari segi biologis semata. “Dalam ajaran Islam tidak ada konsep kesetaraan gender, karena laki-laki dan perempuan bukan hanya berbeda dari hal jenis kelaminnya, tetapi juga berbeda kewajiban dan haknya. Keliru jika kita mengatakan bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan diciptakan oleh konstruksi lingkungan atau sosial yang ada, karena perbedaan itu adalah kodrat dari Allah,” ujarnya lagi.

Agama Islam yang komprehensif menghendaki laki-laki bersikap maskulin dan perempuan bersikap feminin. “Islam tidak menghendaki laki-laki bersikap feminin atau perempuan menjadi maskulin. Perbedaan jenis kelamin harus sejalan dengan perbedaan kodratnya. Jika jenis kelaminnya perempuan tapi bersikap seperti laki-laki maka terjadilah kekacauan yang menyebabkan sulitnya memilih pasangan hidup. Seorang laki-laki harus paham kodratnya sebagai laki-laki dan seorang perempuan harus paham kodratnya sebagai perempuan,” tukas Akmal.

Seorang yang kehilangan identitas dirinya biasanya memiliki masalah dengan kedua orang tuanya. “Seorang anak laki-laki yang ayahnya bermasalah dan tidak dekat dengannya, maka anak tersebut tidak melihat sosok laki-laki yang dapat dicontoh olehnya,” ujar Akmal. Akmal juga mencontohkan bagaimana anak laki-laki yang masih kecil sudah mengetahui barang milik ayah dan ibunya. 

“Ketika anak laki-laki memegang jenggot ayahnya, secara alamiah ia memahami bahwa jenggot itu muncul karena kodratnya sebagai laki-laki dan tidak akan tumbuh pada ibunya. Semua ini mengindikasikan seorang anak yang terdidik dengan baik oleh orang tuanya secara alamiah tahu mana laki-laki dan perempuan. Demikian juga dengan anak perempuan, secara alamiah ia tahu dirinya perempuan dan secara bertahap meniru ibunya, sebab ia pun tahu bahwa ibunya adalah perempuan. Jika orang tua dekat dengan anaknya, maka mereka takkan kebingungan mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki atau perempuan,” pungkas pemilik akun Twitter @malakmalakmal ini. (faisal-SPI/islamedia/aj)



close
Banner iklan disini