Kami Bersama Mursi


Islamedia - Sebuah memori. Hari itu kereta mengantarkan kami ke Komplek Sultan Ahmet. Sesuai misi di awal, agenda hari terakhir di Turki adalah tunaikan Solat Jum’at di Blue Mosque. Sebuah masjid dedikasi Sultan yang berada di depan Hagia Sophia.

Perjalanan seringkali menyuguhkan hal yang tak dapat ditebak. Salah satunya adalah berjumpa dengan orang yang tak pernah diduga.

Sesampai di komplek Blue Mosque, kami bertemu seorang kawan baru. Sesama mahasiswa Indonesia yang sedang menimba ilmu di Mesir.

“Beliau mahasiswa Al-Azhar, selagi kosong dan ada rezeki, berkunjung deh ke Istanbul”. Kata guide kami memperkenalkan.
Mahasiswa Al-Azhar itu tersenyum,

“Assalamu’alaikum..”,

Ia langsung menyodorkan tangannya. Pribadinya hangat, bagaikan sosok-sosok ikhwan dalam novel kang Abik yang khas.
Selepas solat Jum’at, kami berbincang.

Walau belum lama berkenalan, hal yang saya rasakan adalah bagai bertemu kawan lama. Ini tentang ukhuwah. Walau jaauuuh, namun Allah mendekatkan. Ukhuwah yang indah atas dasar aqidah dan dakwah.

Banyak hal yang kami perbincangkan. Mulai dari gemah ripah negeri Indonesia, hingga cerita tentang kondisi negeri Mesir.

“Akh, kalau antum mau soleh dan terjamin.. masuk saja ke penjara Mesir" Katanya anatara serius dan bercanda.

“Waduh, kok gitu bang?” jawabku spontan

“Akhi, banyak orang baik di Mesir yang saat ini di penjara. Kondisi Mesir pun masih menegangkan. Suara peluru sudah jadi hal yang biasa. Kacau balau”. Tambahnya menjelaskan

Telah menjadi pengetahuan bersama, beberapa waktu yang lalu, hiruk-pikuk mewarnai negeri para nabi tersebut. Kudeta sepihak. Ketika memperjuangkan keadilan, berjuta jiwa justru dibunuh bergiliran. Kejam tanpa perasaan.

“Tapi akh, masih ada harapan.. Kalau antum tengok, penjara di Mesir kini bagai madrasah. Orang-orang belajar Al-Qur’an. Bahkan, setiap bulan ada wisuda bagi yang menyelesaikan hafalannya. Generasi penghafal Al-Qur’an terus bertambah”. -..

Percakapan itu terjadi tiga bulan yang lalu. Setelah lama tak mendengar kabar tentang negeri Mesir, belakangan beritanya kembali hadir.

Sebuah kabar yang mencengangkan. Vonis hukuman mati terhadap ia yang menjadi korban.

Seorang presiden yang padahal terpilih secara mutlak. Sosok pemimpin Qur’ani abad kini, ialah Muhammad Mursi.

Keberanian dan pengorbananya menjadi inspirasi untuk terus menegakkan kebenaran. Tiada lelah, tanpa harap balas jasa.

Komitmen dalam berjuang ia dedikasikan untuk rakyat. Bahkan ummat. Berharap syurga menjadi ganjarannya..

Semoga Allah senantiasa melimpahkan keteguhan dan kesabaran kepadamu.

InsyaAllah, Kami di sini tetap berupaya mendukungmu.

Kami mendoakanmu.
#MorsiNotAlone

ditulis oleh :
Muhammad Farras MuMuhadzdzib
Mahasiswa Manajemen IPB
Peserta Rumah Kepemimpinan PPSDMS