Fatah: Rezim Kudeta Mesir Yang Memvonis Pimpinan Hamas Bertentangan dengan Hukum


Islamedia -  Petinggi Gerakan Pembebasan Nasional Palestina “Fatah”, Yahya Rabah, menegaskan bahwa vonis hukuman pengadilan Mesir yang dikeluarkan pada hari Sabtu (16/5) lalu terhadap rakyat Palestina membutuhkan review dan peninjauan yang sangat akurat. Karena di dalamnya ada informasi dan keterangan yang rancu dan palsu.

Petinggi Fatah ini berpendapat, “Ada kesempatan sangat besar untuk mengatasi keputusan ini dan membatalkannya melalui perangkat hukum Mesir sendiri karena ada informasi yang rancu dan palsu.”

Dia merujuk kepada putusan yang dikeluarkan melalui salah satu pengadilan Mesir atas gerakan Hamas yang memutus bahwa gerakan Hamas adalah “organisasi teroris”, yang didasarkan kepada bukti-bukti palsu dan sembrono.

Dia menjelaskan bahwa putusan yang dikeluarkan hari Sabtu (16/5) terkait hukuman mati atas Hasan Salam, ada jarak besar agar bisa berakhir pada formula yang final. Dia mengatakan, “Kita harus berusaha untuk itu melalui jalan hukum.” Dia menjelaskan, “Putusan itu bisa dihadapi melalui perangkat yang diberikan peradilan Mesir, yang mencakup banding dan dan pengadilan kasasi Mesir.”

Rabah mengingatkan bahwa tokoh-tokoh yang didakwa dalam sidang-sidang pengadilan tersebut tidak jelas secara detail. Sebagian nama-nama tersebut bisa jadi sama sekali tidak bersalah.

Karena itu dia kaget dengan banyaknya jumlah terdakwa yang divonis oleh pengadilan Mesir ini. Dia mengingatkan bahwa dalam sejarah, banyak rakyat Palestina yang terancam nyawanya karena tuduhan pada kasus-kasus yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan mereka. Hal itu disebabkan oleh tipu daya dan upaya sebagian pihak yang dicurigai mempengaruhi demi membahayakan nyawa orang-orang Palestina, sehingga memberikan laporan yang sama sekali tidak akurat dan tidak bertanggung jawab.

Seperti disebutkan, pengadilan Mesir pada hari Sabtu memutus hukuman mati komandan Brigade al Qassam, Raid Athar yang gugur dalam serangan terakhir Zionis ke Jalur Gaza tahun 2014 lalu dan juga petinggi Hamas Hasan Salamah yang saat ini mendekam di penjara Zionis sejak 19 tahun yang lalu.[PIP/Islamedia/YL]