Erdogan dan Kebangkitan Turki


Islamedia - Bila orang berpikir bahwa sejarah hanya urusan masa lalu, sebenarnya ia lebih pecundang daripada Mussolini yang menelan kekalahan. Sebab tiran Italia itu sadar, sejarah sejatinya juga urusan kekinian yang menentukan masa depan.


Jadi manakala Sabtu, 30 Mei besok, untuk pertama kalinya Turki akan menggelar perayaan besar-besaran penaklukan Konstantinopel oleh Dinasti Turki Utsmani di tahun 1453, bisa kita katakan, pemerintah dan warga Turki sadar akan peran penting sejarah.

Dalam perayaan yang sengaja digeser sehari agar publik yang tengah berlibur lebih banyak datang, warga Turki akan menyaksikan kebesaran para pendahulu mereka. Mereka tak sekadar bisa menghayati kebesaran Muhammad (Mehmet) II Al Fatih, Sang Penakluk. Para penerus Al Fatih dan pahlawan-pahlawan penaklukan itu akan mereguk semangat bapak moyang mereka untuk diterapkan dalam hidup saat ini.

Yang paling penting, rakyat Turki tahu bahwa asal mereka tidaklah azali. " Jika kau tak tahu sejarah, " kata penulis terkenal Michael Crichton, " Kau ibarat daun jatuh yang tak pernah tahu dahan asalmu."

Pada Jumat subuh, 29 Mei 1453 itu, setelah enam bulan pengepungan yang nyaris membuat frustrasi, Sultan Mehmet Al Fatih, bergerak mendekati benteng kota Konstantinopel. Serangan yang dimulainyasejak Jumat, 6 April 1453 itu tak juga berhasil membawa pasukannya memasuki pantai Konstantinopel.Kota berbenteng setebal 10 meter itu sulit ditembus.Dari arah selatan Laut Marmara, pasukan laut Ottoman harusberhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani.

Sementara dari arah Timur, armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn,yang sudah dipasangi rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat. Semua itu berlangsung berbulan-bulan.

Hingga ide yang terdengar bodoh pun muncul. Melihat pertahanan paling lemah Byzantium adalah melalui Teluk Golden Horn yang sudah dirantai, Mehmet II meminta pasukannya menyerang lewat celah itu.Tak tanggung-tanggung, untuk mengakali rantai, Mehmet memindahkan kapal-kapal melalui darat, ditarik kearah Bukit Galata dengan susah payah dan nyaris mustahil terpikirkan musuh.

Dalam semalam, 70-an kapal Ottoman memasuki wilayah Teluk Golden Horn.Tak ada lagi rantai yang menghalangi. Benteng Konstantinopel yang sudah di depan mata, segera dibombardir artileri canggih buatan Hongaria. Hari itu Konstantinopel jatuh, namanya diganti menjadi Istanbul, hingga hari ini.

Namun sejatinya, bukan perayaan besar-besaran itu benar yang menarik. Perayaan itu hanya menjadi penanda besar bahwa Turki tengah kembali bangga dengan warisannya sendiri, Islam. Warisan yang sejak Mustafa Kamal memimpin negara itu, senantiasa dinafikan dan diabaikan.

Alih-alih bangga dengan sekularisme ala Ataturk, sejak bintang Recep Tayyip Erdogan menyinari langit Semenanjung Anatolia, Turki kian dekat ke pangkuan Islam. Saat ia masih menjadi perdana menteri, misalnya, Erdogan mulai mengambil keputusan penting dengan menjalin persekutuan dengan negara-negara Islam.

Erdogan tak sungkan untuk provokatif. Sejak partainya, Partai AKP, berkuasa pada 2002 lalu, hubungan Turki dengan Azerbaijan, negara Islam yang sangat pro-barat dan AS, mulai renggang. Begitu juga dengan Georgia, negara bekas Uni Soviet yang melepaskan diri.

Turki malah mendekat ke Iran, Sudan dan Syria yang rata-rata dianggap anti-barat. Bahkan kepada faksi Islam radikal Hamas di Palestina, Turki tak ragu mendukung secara terang-terangan dengan menyatakan diri sebagai patron. Kita masih dengan gampang mengingat Turki yang justru mengkritik keras kebijakan luar negeri Amerika yang menerapkan sanksi kepada Iran, dan menilainya tidak efektif.

Belum lagi manakala Presiden Sudan, Omar Hasan Bashir, dianggap teroris dan penjahat perang dalam pembantaian yang terjadi di Darfur beberapa tahun lalu, Turki tak gamang membela Bashir. " Bashir itu seorang Muslim, mana mungkin seorang Muslim membantai sebegitu banyak orang sampai 300 ribu jiwa, " kata Erdogan, sederhana.

Belum lagi saat Erdogan tak ragu mengecam Presiden Israel Shimon Peres dengan sebutan Yahudi keparat yang telah membunuh ribuan orang di jalur Gaza. Apa yang dilakukan Erdogan setelah itu? Melenggang keluar forum pertemuan alias walk out !

Embusan kabar mutakhir yang sampai ke kuping kita, Januari lalu Erdogan mengusulkan penggantian sebutan kampus pada universitas dengan sebutan kuliyye. Menurut dia, sebutan kampus yang digunakan di Turki saat ini diambil dari Bahasa Inggris. Sementara kulliye berasal dari Arab. "Saya berpikir meninjau kembali sejarah kita dan mempertimbangkan kulliye akan lebih baik. Ini akan menjadi yang pertama dalam era baru ini," ujar Erdogan.

Mungkin cara-cara Erdogan akan dianggap seperti menggaruk permukaan persoalan, bukan inti. Tetapi bisa jadi, ia justru seorang Orwellian yang yakin. Paling tidak, George Orwell percaya, cara paling efektif menghancurkan sebuah bangsa adalah dengan menolak dan melenyapkan pengetahuan mereka akan sejarahnya sendiri.

Mungkin pula di awal-awal gerakan Erdogan itu terutama perayaan 29 Mei, akan memilah warga Turki yang telah lama hidup dalam sekularisme. Namun saya teringat kata-kata yang ditulis Orhan Pamuk, penulis Turki, pemenang Nobel Sastra 2006, tentang itu.Seorang Turki, kata Pamuk, akan kelihatan dimana kakinya berada dari sikap mereka akan hari itu.

Mereka yang kaki-nya di Barat, akan menulis 29 Mei 1453 itu sebagai hari jatuhnya Konstantinopel. " Bagi mereka yang memiliki kaki yang menapak di Timur, hari itu adalah saat penaklukan Istanbul, " tulis Pamuk. [inilah/islamedia]

Bila orang berpikir bahwa sejarah hanya urusan masa lalu, sebenarnya ia lebih pecundang daripada Mussolini yang menelan kekalahan. Sebab tiran Italia itu sadar, sejarah sejatinya juga urusan kekinian yang menentukan masa depan.

Jadi manakala Sabtu, 30 Mei besok, untuk pertama kalinya Turki akan menggelar perayaan besar-besaran penaklukan Konstantinopel oleh Dinasti Turki Utsmani di tahun 1453, bisa kita katakan, pemerintah dan warga Turki sadar akan peran penting sejarah.

Dalam perayaan yang sengaja digeser sehari agar publik yang tengah berlibur lebih banyak datang, warga Turki akan menyaksikan kebesaran para pendahulu mereka. Mereka tak sekadar bisa menghayati kebesaran Muhammad (Mehmet) II Al Fatih, Sang Penakluk. Para penerus Al Fatih dan pahlawan-pahlawan penaklukan itu akan mereguk semangat bapak moyang mereka untuk diterapkan dalam hidup saat ini.

Yang paling penting, rakyat Turki tahu bahwa asal mereka tidaklah azali. " Jika kau tak tahu sejarah, " kata penulis terkenal Michael Crichton, " Kau ibarat daun jatuh yang tak pernah tahu dahan asalmu."

Pada Jumat subuh, 29 Mei 1453 itu, setelah enam bulan pengepungan yang nyaris membuat frustrasi, Sultan Mehmet Al Fatih, bergerak mendekati benteng kota Konstantinopel. Serangan yang dimulainyasejak Jumat, 6 April 1453 itu tak juga berhasil membawa pasukannya memasuki pantai Konstantinopel.Kota berbenteng setebal 10 meter itu sulit ditembus.Dari arah selatan Laut Marmara, pasukan laut Ottoman harusberhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani.

Sementara dari arah Timur,armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn,yang sudah dipasangi rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat. Semua itu berlangsung berbulan-bulan.

Hingga ide yang terdengar bodoh pun muncul. Melihat pertahanan paling lemah Byzantium adalah melaluiTeluk Golden Horn yang sudah dirantai, Mehmet II meminta pasukannya menyerang lewat celah itu.Tak tanggung-tanggung, untuk mengakali rantai, Mehmet memindahkan kapal-kapal melalui darat, ditarik kearah Bukit Galata dengan susah payah dan nyaris mustahil terpikirkan musuh.

Dalam semalam, 70-an kapal Ottoman memasuki wilayah Teluk Golden Horn.Tak ada lagi rantai yang menghalangi. Benteng Konstantinopel yang sudah di depan mata, segera dibombardir artileri canggih buatan Hongaria. Hari itu Konstantinopel jatuh, namanya diganti menjadi Istanbul, hingga hari ini.

Namun sejatinya, bukan perayaan besar-besaran itu benar yang menarik. Perayaan itu hanya menjadi penanda besar bahwa Turki tengah kembali bangga dengan warisannya sendiri, Islam. Warisan yang sejak Mustafa Kamal memimpin negara itu, senantiasa dinafikan dan diabaikan.

Alih-alih bangga dengan sekularisme ala Ataturk, sejak bintang Recep Tayyip Erdogan menyinari langit Semenanjung Anatolia, Turki kian dekat ke pangkuan Islam. Saat ia masih menjadi perdana menteri, misalnya, Erdogan mulai mengambil keputusan penting dengan menjalin persekutuan dengan negara-negara Islam.

Erdogan tak sungkan untuk provokatif. Sejak partainya, Partai AKP, berkuasa pada 2002 lalu, hubungan Turki dengan Azerbaijan, negara Islam yang sangat pro-barat dan AS, mulai renggang. Begitu juga dengan Georgia, negara bekas Uni Soviet yang melepaskan diri.

Turki malah mendekat ke Iran,Sudan dan Syria yang rata-rata dianggap anti-barat. Bahkan kepada faksi Islam radikal Hamas di Palestina, Turki tak ragu mendukung secara terang-terangan dengan menyatakan diri sebagai patron. Kita masih dengan gampang mengingat Turki yang justru mengkritik keras kebijakan luar negeri Amerika yang menerapkan sanksi kepada Iran, dan menilainya tidak efektif.

Belum lagi manakala Presiden Sudan, Omar Hasan Bashir, dianggap teroris dan penjahat perang dalam pembantaian yang terjadi di Darfur beberapa tahun lalu, Turki tak gamang membela Bashir. " Bashir itu seorang Muslim, mana mungkin seorang Muslim membantai sebegitu banyak orang sampai 300 ribu jiwa, " kata Erdogan, sederhana.

Belum lagi saat Erdogan tak ragu mengecam Presiden Israel Shimon Peres dengan sebutan Yahudi keparat yang telah membunuh ribuan orang di jalur Gaza. Apa yang dilakukan Erdogan setelah itu? Melenggang keluar forum pertemuan alias walk out !

Embusan kabar mutakhir yang sampai ke kuping kita, Januari lalu Erdogan mengusulkan penggantian sebutan kampus pada universitas dengan sebutan kuliyye. Menurut dia, sebutan kampus yang digunakan di Turki saat ini diambil dari Bahasa Inggris. Sementara kulliye berasal dari Arab. "Saya berpikir meninjau kembali sejarah kita dan mempertimbangkan kulliye akan lebih baik. Ini akan menjadi yang pertama dalam era baru ini," ujar Erdogan.

Mungkin cara-cara Erdogan akan dianggap seperti menggaruk permukaan persoalan, bukan inti. Tetapi bisa jadi, ia justru seorang Orwellian yang yakin. Paling tidak, George Orwell percaya, cara paling efektif menghancurkan sebuah bangsa adalah dengan menolak dan melenyapkan pengetahuan mereka akan sejarahnya sendiri.

Mungkin pula di awal-awal gerakan Erdogan ituterutama perayaan 29 Mei, akan memilah warga Turki yang telah lama hidup dalam sekularisme. Namun saya teringat kata-kata yang ditulis Orhan Pamuk, penulis Turki, pemenang Nobel Sastra 2006, tentang itu.Seorang Turki, kata Pamuk, akan kelihatan dimana kakinya berada dari sikap mereka akan hari itu.

Mereka yang kaki-nya di Barat, akan menulis 29 Mei 1453 itu sebagai hari jatuhnya Konstantinopel. " Bagi mereka yang memiliki kaki yang menapak di Timur, hari itu adalah saat penaklukan Istanbul, " tulis Pamuk - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2209248/turki-kian-bangga-mengakui-keislamannya#sthash.RhicRBkK.dpuf