Duh... Mbak Asma Nadia...


Hari Ahad kemarin, saya membaca tulisan dari Mbak Asma Nadia tentang Fikih Permusuhan. Menarik. Awalnya saya enggan berkomentar, lebih tepatnya enggan membaca. Apalagi memang saya cukup malas untuk membaca artikel-artikel yang disebarkan lewat aplikasi whatsapp. Saya sudah cukup kagum dengan tulisan Mbak Asma. Terlebih pecinta novel manapun di Indonesia tahu, tak kurang dari puluhan buah novel sudah beliau tulis, mayoritas best seller dan beberapa sudah diangkat ke layar lebar dan sinema elektronik. Tetapi ketika saya baca artikelnya, saya langsung tak habis-habisnya mengernyitkan dahi.


Tulisan yang diawali dengan mengutip pendapat seorang teman dari Mbak Asma –yang hingga sekarang saya belum tahu siapa teman yang dimaksud, pun saya belum tahu keberadaan temannya, apakah temannya memang benar-benar nyata atau hanya teman khayalan- tentang fikih yang seharusnya sudah ada karena diperlukan sejak lama. Fikih Permusuhan katanya. Terdengar indah memang. Apalagi ditambah dengan fakta bahwa umat Islam hari ini seakan tidak mampu menentukan musuhnya dengan baik. Kenyataannya memang begitu. Namun, yang membuat saya mulai mengernyitkan dahi ialah di dalam artikel tersebut tertulis, “Jika ingin menghukum penjahat dari sekian banyak yang ada, utamakan pelaku yang kejahatannya paling berbahaya. Daripada mengkritik karya Islam secara terbuka, lebih baik kritisi karya jahiliyah yang jauh lebih buruk.” Oh, ternyata Mbak Asma sedang misah-misuh karena ada foto cover film yang baru akan tayang menampilkan laki-laki dengan perempuan yang menurut mbak Asma setelah tabayun seolah-olah berpelukan. Film tersebut berjudul “Surga Yang Tak Dirindukan” yang diadaptasi dari novel karya Mbak Asma dengan judul yang sama.


Terlihat tak ada yang salah dengan cover tersebut. Namun ketika Mbak Asma menyebut bahwa itu adalah karya Islam, maka mau tidak mau umat Islam juga bereaksi atas foto penghinaan tersebut. Mengapa saya sebut penghinaan? Ya, jelas penghinaan. Nyata atau hasil editan photoshop, foto itu tetaplah mengandung dan mengundang fitnah. Juga tidak sesuai dengan syariat Islam. Saya berkesimpulan, tulisan Mbak Asma di Republika Online tentang ‘Fikih’ Permusuhan ini adalah komentar untuk melindungi produksi film tersebut agar tidak diganggu oleh komentar-komentar miring terkait cover filmnya.


Kiranya perlu kita bahas masalah apa itu fikih di sini. Para ulama sepakat bahwa tindakan manusia; baik berupa perbuatan maupun ucapan, dalam hal ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah (muamalah), berupa tindak pidana maupun perdata, masalah akad atau pengelolaan, dalam syariat Islam semuanya masuk dalam wilayah hukum. Hukum-hukum itu sebagian ada yang dijelaskan oleh Al-Qur’an dan Al-Sunnah dan sebagian tidak. Tetapi syariat Islam telah menetapkan dalil dan tanda-tanda tentang hukum yang tidak dijelaskan oleh keduanya, sehingga seorang mujtahid dengan perpaduan kecerdasan, keshalihan, pemahamannya terhadap dalil dan tanda-tanda hukum itu dapat menetapkan dan menjelaskan hukum-hukum yang tidak dijelaskan tersebut. Dari kumpulan hukum-hukum syariat yang berhubungan dengan tindakan manusia yang diambil dari nash-nash (teks) yang ada atau dari pembentukan hukum berdasarkan dalil syarat yang tidak ada nashnya, muncullah Ilmu Fiqh.


Fiqih menurut bahasa bermakna: tahu dan paham. Sedangkan menurut istilah, banyak ahli fiqih (fuqaha’) mendefinisikan berbeda-beda tetapi mempuyai tujuan yang sama, yakni ilmu yang menjelaskan tentang hukum syar’iyah yang berhubungan dengan segala tindakan manusia, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang diambil dari nash-nash yang ada, atau dengan mengistinbath dalil-dalil yang berkaitan dengan syariat Islam.


Dalam perjalanan sejarah Islam, para ulama mengembangkan berbagai teori, metode, dan prinsip hukum yang sebelumnya tidak dirumuskan secara sistematis, baik dalam Alquran maupun as-Sunnah. Upaya para ulama tersebut berkaitan erat dengan tuntutan realita sosial yang semakin hari semakin kompleks. Berbagai persoalan baru bermunculan yang sebelumnya tidak dibahas secara spesifik dalam Alquran dan Hadits Nabi.


Sampai di sini saja, kita dapat mengetahui bahwasanya memunculkan fikih baru tidaklah semudah membalik telapak tangan. Tidak lantas ketika kita melihat hal yang tidak sesuai kemudian kita harus buat fikihnya. Didudukkan dulu permasalahannya; fikih itu apa, dan masalahnya apa. Barulah kita bisa menentukan apa yang menjadi solusinya. Bukan sekadar uthak-athik gathuk ada masalah ‘begini’, kemudian harus ada hukum baru yang ‘begitu’. Ulama tidak hanya mengandalkan kecerdasannya menganalisis suatu masalah. Keshalihan mereka juga menjadi ‘sertifikat’ akan predikat ulama yang mereka emban. Lagipula, tentang permusuhan, dalam Islam jelas ada dalil yang mengatur kita untuk memusuhi sesiapa yang harus dimusuhi, dan berkawan dengan sesiapa yang patut dijadikan kawan. Jadi, seharusnya usulan tentang 'fikih' permusuhan ini sudah tertolak.


Lucunya adalah manakala Mbak Asma menganjurkan kita semua untuk tabayun kepada pihak-pihak yang berwenang dalam film tersebut, termasuk kepada Laudya Chintya Bella dan Fedi Nuril yang menjadi ‘pelaku’ utama foto terebut. Tetapi sayang seribu sayang, Mbak Asma seakan tidak tabayun dengan mengatakan Taliban tidak paham ‘fikih’ permusuhan, ataupun mengatakan bahwa Dunia Arab bungkam terhadap invasi Israel ke Palestina. Mohon maaf, Mbak Asma sudah khatam berapa kitab fikih, atau sudah berapa kali talaqqi dengan para fuqaha sehingga dengan mudahnya mengatakan para Taliban itu tidak paham ‘fikih’ permusuhan? Sudahkah tabayun untuk mengetahui keadaan sebenarnya? Atau apakah Mbak Asma benar-benar tahu bahwa Dunia Arab benar-benar tidak mengulurkan bantuan kepada Palestina? Mbak Asma seharusnya tahu, bahwa apabila negara-negara Arab menampakkan sikap mendukung Palestina itu sama saja dengan tindakan bunuh diri! Bahkan mereka sudah mengulurkan bantuannya jauh lebih banyak daripada mulut kita yang seringkali mencibir.


Baiklah kita kembali kepada permasalahan foto cover film “Surga Yang Tak Dirindukan”. Barangkali banyak fans Mbak Asma yang kecewa dengan sikap Mbak Asma yang justru membela habis mereka yang jelas-jelas mengundang fitnah. Mbak Asma pastilah tahu, bentuk sayangnya Allah kepada Rasulullah juga diejawantahkan dalam bentuk teguran. Pasti Mbak Asma tahu betul ketika Allah menurunkan wahyu “’abasa watawallaa”. Ya, ketika itu Nabi ditegur oleh Allah karena lebih mengurusi orang Quraisy yang belum tentu tertarik akan keindahan Islam ketimbang meladeni si buta yang sangat mencintai Islam, Abdullah bin Ummi Maktum. Begitupun bentuk sayangnya para fans kepada Mbak Asma. Semata-mata hanya ingin melihat ‘karya Islami’ itu benar-benar islami. Jika memang novel tersebut ditujukan untuk dakwah, maka ketika diangkat menjadi film, haruslah bernilai dakwah juga. Artinya, semua individu, dari mulai sutradara, produser, hingga aktor-aktrisnya berarti bertindak sebagai da’i. Sepatutnya yang dikejar adalah keridhoan Allah, bukan semata-mata keuntungan berlipat. Sepatutnya pula menunjukkan akhlak yang benar-benar islami.


Ketika saya googling dengan keyword “foto film surga yang tak dirindukan”, saya menemukan foto serupa ketika belum diedit. Nyatanya di sana juga terlihat berdekatan dan bersentuhan. Adegan-adegan filmnya juga menunjukkan Fedi Nuril dan Laudya yang notabene bukan mahram –berarti mereka haram bersentuhan- justru bersentuhan dan beradegan layaknya suami-istri sungguhan. Apakah tidak bisa diusahakan agar yang memerankan adalah suami-istri sungguhan? Atau minimal mahramnya. Mengapa tidak? Kan ini ditujukan untuk dakwah. Toh Mbak Asma sudah menyinggung bahwa ini karya Islam.


Kalau ditanya, mengapa lebih semangat ngurusin orang Islam yang berkarya daripada ngurusin orang yang terang-terangan berbuat jahat? Ya jawabannya jelas, kami peduli dengan sesama muslim yang memegang teguh keislamannya. Agar mereka tidak terjerumus ke dalam lubang nista. Kami tidak tega melihat saudara kami terkena fitnah hanya karena hal yang menurut publik adalah hal sepele. Apalagi kalau memang mau mengadakan fikih baru, kita semua harus paham dalam kaidah ushul fiqh, ada yang namanya sadd adz-dzari’ah, yakni menutup pintu-pintu masuknya dosa. Dengan kata lain, sadd adz-dzari’ah lebih menghendaki adanya mudharat (tidak bermanfaat) ketimbang mafsadat (kehancuran). Salah satu sadd adz-dzari’ah adalah memberikan pemain peran suami-istri kepada suami-istri sungguhan. Atau jangan bikin cover film yang mengandung dan mengundang fitnah. Bukankah ini membuka pintu banyak dosa? Yang berkomentar jadi berdosa karena su’uzhan sebelum tabayun, yang dikomentari –pihak film- juga berdosa karena melakukan hal yang menimbulkan fitnah.


Oh ya, daripada repot-repot buat ‘fikih’ permusuhan, apakah tidak lebih elok kita buat Fikih Perfilman? Supaya film (islami) yang dibuat benar-benar islami, tidak melanggar syariat, apalagi menimbulkan fitnah. Atas semua ini, saya harap Mbak Asma Nadia membaca tulisan saya. Sebab saya bukanlah siapa-siapa untuk menegur Mbak Asma dengan menghubungi langsung. Barangkali teguran saya takkan digubris. Saya masih menghargai cara para ulama dahulu dalam berdebat; yakni mengomentari tulisan dengan tulisan. Ke depannya, saya mendoakan Mbak Asma terus menelurkan karya-karya yang bagus dan menggugah, serta memperjuangkan dakwah Islam lewat caranya sendiri.


Duh... Mbak Asma Nadia...

Zaky A. Rivai