Urgensi Pembangunan yang Islami


Islamedia -  Bertempat di kantor Rumah Synergy di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan, pada hari Kamis, 9 April 2015, #IndonesiaTanpaJIL kembali melaksanakan agenda rutin perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI). Kuliah yang dimulai sejak pukul 18.30 WIB ini membahas tema “Sekularisme”, dan Ustadz Wido Supraha, M.Si kembali hadir sebagai narasumber.

”Kita selalu berada di antara dua pilihan, dan pilihan itu adalah jalan Islam dan selain Islam. Jalan selain Islam adalah kesesatan, sedangkan jalan Islam adalah jalan kedamaian, keselamatan,” ujar Ustadz Wido membuka materi kuliah.

“Makna dari modernitas atau pembangunan yang digunakan kini adalah menghalau agama dari ruang institusi-institusi public. Seakan-akan kita tidak menjadi tidak pantas beragama di dalam mall, tapi pantas beragama di dalam kampung, dan kita tidak jadi tidak pantas mengenakan simbol-simbol agama di luar masjid atau pengajian,” ungkap Wido saat menjelaskan realita modernisasi di dunia masa kini.

Selanjutnya, Wido juga mengkritisi corak pembangunan yang berlaku di dunia, termasuk di tanah air. “Pemerintah wajib melakukan pembangunan, tetapi bagaimana jika pembangunan yang dilakukan itu telah tercabut dari nilai-nilai agama? Islam tidak berseberangan dengan modernitas, tetapi di balik kata ‘modernitas’ itu biasanya terdapat makna ‘sekularisasi’,” pungkas Wido.

Komentar positif terlontar dari salah seorang peserta kuliah pada malam itu. “Materi kuliah yang disampaikan Ustadz Wido Supraha membuka cakrawala berpikir tentang apa sebenarnya sekularisme itu. Kita jadi tahu modus ghazwul fikri yang tersembunyi di belakang paham tersebut dan makin yakin kalau Islam itu yang sejatinya paling kompatibel di segala ruang dan zaman,” ungkap Nur Afilin yang masih berstatus sebagai mahasiswa di UHAMKA. Perkuliahan SPI akan dilaksanakan rutin setiap pekannya.  (SPI-ramadhan/islamedia/aj)