Pengungsi di Kamp Yarmuk Minta Bantuan Kemanusiaan disalurkan


Islamedia -  Kelompok bersenjata yang mengklaim oposisi Suriah di kota Yalda pinggiran Damaskus meminta warga kamp Yarmuk untuk mengosongkan kamp dalam 48 jam kedepan. 

Beredar informasi di jejaring social Facebook, spanduk yang dipasang di perlintasan Yalda bertuliskan, “Diharapkan bagi warga kamp Yarmuk untuk segera meninggalkan kamp hari ini atau besok, dengan alasan keamanan, gerbang menuju kamp akan ditutup dan dilarang masuk maupun keluar sampai waktu yang belum ditentukan.” 

Menurut LSM Palestina-Suriah, Senin (27/4) ratusan pengungsi di kamp Yarmuk menggelar aksi demo dengan slogan, “Kami akan tetap di Yarmuk” di depan kantor UNRWA di kamp Yarmuk. 

Aksi demo digagas sejumlah LSM lokal di kamp Yarmuk, menolak seruan yang dipasang di perlintasan Yalda, yang menyerukan warga kamp Yarmuk untuk meninggalkan kamp dan mengungsi dalam rentang dua hari. Para demonstran meminta pihak internasional dan bantuan kemanusiaan untuk mendistribusikan bantuan ke dalam kamp yang terblokade, dan bukan ke wilayah sekitarnya. 

Para pengungsi kamp Yarmuk sangat menderita, tak tersedia sarana kehidupan yang memadai, akibat blokade yang terus berlanjut sejak 15 Juli 2013 lalu, dan serbuan ISIS pada 1 April 2015 lalu. 

Sementara itu pesawat tempur rezim Suriah membombardir kota Muzairib provinsi Dira, selatan Suriah, yang dihuni sekitar 8500 pengungsi Palestina, yang memicu ketakutan dan mencekam di kawasan, menggunakan bom-bom gentong, dan telah menewaskan sejumlah warga. 

Sedangkan di kawasan pedesaan Damaskus, para petani di kamp Khan Syeh menjadi sasaran pemboman oleh rezim militer Suriah, informasi menyebutkan sejumlah warga menjadi korban tewas, dan bersamaan dengan adanya bentrokan senjata di kawasan Elfauz. 

Sementara pengungsi kamp Sabinah belum bisa kembali ke rumah mereka sejak 530 hari lalu, terutama sejak militer Suriah mengambil kendali kota dank amp pada 7 November 2013 lalu. 

Menurut perkiraan UNRWA, jumlah pengungsi kamp Sabinah yang mengungsi ke Libanon mencapai 21.8 % dari sekitar 50 ribu pengungsi Palestina.

Sementara di kamp pengungsi Dir’a mengalami krisis air bersih, yang terputus sejak hari 210 pertikaian, dan tak ada layanan public seperti klinik, listrik dan komunikasi. 

Di sector perumahan, sebanyak 70 % di kamp pengungsi Palestina di Yarmuk, Sabina dan Dir’a tak layak huni. Warga mengeluhkan kurangnya perhatian badan PBB UNRWA, sehingga tak ada bantuan yang sampai kepada mereka. [infopalestina/islamedia/YL]