Mengenang 11 Tahun Syahidnya Dr. Abdul Aziz Rantisi


Islamedia - Di depan para wartawan internasional, suatu hari ia pernah berkata tentang kesiapannya menghadapi maut.
"Kematian tetaplah kematian, meski karena dibunuh atau oleh kanker. Sama saja. Tak ada bedanya, mati disebabkan oleh sebuah apache atau serangan jantung. Tapi saya lebih memilih terbunuh oleh apache."

ujar Rantisi di hari ketika ia dipilih sebagai pimpinan Hamas menggantikan Syaikh Ahmad Yassin.
Pagi itu, sejak dini hari Rantisi sudah berdendang dengan senang.
"Agar Allah memasukkanku ke dalam surga. Itulah keinginanku yang paling tinggi."
Begitulah nasyid yang digubah oleh Hamas, ia nyanyikan dengan nada riang gembira. Berulang-ulang, berulang-ulang.
Tak biasanya ia begitu. Pagi itu ia bangun dengan wajah berseri-seri, sangat terang dan bercahaya, begitu kata sang istri mengenang hari terakhir bersama suami dan ayah yang sangat mulia itu. Pagi itu, saat ia keluar rumah, Rantisi mengenakan baju paling bagus yang ia punya. Hari itu, sejak syahidnya Syaikh Ahmad Yassin, ia sudah dua bulan tak singgah di rumah.
Hari itu, ia sudah bersiap pergi dengan baju paling bagus yang ia miliki. Dan hari itu, anak perempuannya yang masih ingin membunuh rindu, meminta sang ayah untuk menunda kepergiannya.
"Ayah hendak ke mana? Tinggallah lebih lama di sini. Kami masih rindu sekali." ujar Asma pada sang ayah.
Tetapi seperti biasa, dengan lembut Rantisi mengatakan tentang kesibukannya.
"Ayah punya kesibukan yang banyak sekali." ujarnya.
Lalu setelah itu, ia melangkah keluar rumah. Hanya dalam hitungan menit, tak lama, bahkan belum lagi hilang aroma tubuhnya di dalam rumah, suara ledakan terdengar sangat dahsyatnya.
"Allah..." Asma tersentak, sekaligus tahu bahwa sang ayah yang baru melangkahi pintu rumahnya telah pergi untuk selama-lamanya.
"Ayah syahid" bisiknya dalam hati sembari melantunkan do'a.
Padahal, belum lagi ada berita yang ia terima. Padahal, semua orang masih sibuk terpana dan terkejut karena serangan apache yang terbang begitu rendah. Tapi, untuk seorang anak yang sangat mencintai ayahnya, Asma tahu, ayahnya telah sampai pada cita-cita yang sejak pagi ia dendangkan dari bibirnya. Surga dari Yang Maha Tinggi.
Sebuah rudal menghantam mobil Abdul Aziz Rantisi hari itu, 17 April 2004. Hari pertemuan yang telah dijanjikan oleh Tuhannya. Ketika melihat helikopter apache milik Israel buatan Amerika, Abdul Aziz Rantisi sempat berlari dari mobilnya, beberapa ratus meter jauhnya. Ia berlari bukan karena takut pada kematian, atau gentar pada apache yang pernah ia sebutkan, tapi ia ingat beban dan tanggung jawab yang masih demikian besar. Namun, ledakan rudal teramat besar. Rantisi roboh, pingsan, dan kritis seketika. Ia sempat dilarikan ke Rumah Sakit Asy Syifa, tapi janji pertemuan adalah janji yang tak bisa diundur atau ditunda lagi. Abdul Aziz Rantisi syahid bertemu Rabbnya.
Pemuda-pemuda di Jalur Gaza berebut menciumi jenazahnya. Pejuang-pejuang Palestina berebut mengusap darah yang meleleh dari bagian kepala, mereka semua berharap akan mendapat syafa'at dari asy syahid. Mereka berharap mendapat kesempatan untuk menjadi seperti asy syahid. Pemuda-pemuda itu tak menangis, mereka justru sangat gembira, mereka tahu satu lagi penduduk surga telah bertambah.
Abdul Aziz Rantisi adalah seorang dokter spesialis anak. Karenanya, meski namanya begitu ditakuti oleh tentara dan negara Zionis Israel, ia adalah seorang lelaki yang lembut jiwanya. Tak ada seorang dokter anak yang tak lembut jiwanya. Tapi, tak ada yang sekeras Rantisi ketika memerangi musuh rakyatnya.
Ia lahir di sebuah desa di Palestina bernama Yibna, pada Oktober 1947. Yibna adalah desa yang indah, terletak di antara Ashkelone dan Jaffa, yang kini berada di bawah kekuasaan Israel. Ketika sudah dewasa, Abdul Aziz Rantisi pernah mengunjungi rumahnya.
"Saya pernah mendatangi rumah itu, ruang keluarganya masih ada, dan itu sangat membekas di dalam hati saya. Gambaran kota tempat kelahiran saya, seperti yang diceritakan oleh orangtua saya menjelang tidur muncul kembali saat melihat rumah itu. Ayah dan ibu menggendong saya di dalam pelukannya di rumah ini, masih terbayang dengan jelas di dalam benak saya." kenang Rantisi yang merekonstruksi ingatannya berdasarkan kisah sang ibu.
Pada saat usianya masih enam bulan, seluruh keluarga ayahnya, Mohammad Dahlan, dipaksa mengungsi, diusir oleh penjajah Israel dari tanah kelahiran mereka. 200.000 manusia terlunta-lunta dari kotanya, di penampungan pengungsi yang sudah penuh di Jalur Gaza. Mereka berharap bisa kembali setelah Perang Enam Hari usai. Tapi rupanya, itulah kali terakhir rakyat Palestina melihat rumah dan tanahnya. Mereka tak pernah kembali, dan tak pernah bisa kembali karena Israel dengan kekejamannya telah menguasai.
Abdul Aziz Rantisi tumbuh dan besar di tengah kondisi yang sangat memprihatinkan di kamp pengungsian. Bersama kedua orangtuanya, dengan delapan saudara laki-laki serta dua saudara perempuannya, Abdul Aziz Rantisi tinggal di tenda pengungsian selama empat tahun pertama mereka di Khan Younis. Setelah itu, keluaranya pindah dan bermukim di sebuah gedung sekolah, sebelum akhirnya tinggal di sebuah rumah sederhana yang dibangun oleh PBB untuk para pengungsi.
Sejak usia enam tahun, ia sudah mulai bekerja, membantu ayahnya memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sembari bersekolah di lembaga pendidikan menengah yang juga dibangun oleh PBB melalui badan UNRWA. Pada tahun 1965, ia lulus sebagai siswa terbaik di sekolahnya. Pada tahun itu, pemerintah Mesir mengeluarkan program beasiswa terutama untuk anak-anak pengungsi di Jalur Gaza yang tidak mampu membiayai pendidikannya. Maka mendaftarlah Abdul Aziz Rantisi di Universitas Alexandria di bidang kedokteran anak. Saat itu, di dalam benaknya sama sekali tak ada ambisi untuk menjadi seorang politisi, apalagi seorang pejuang yang kelak memperjuangkan kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel Raya.
Sampai suatu ketika, ia bertemu dengan seorang imam masjid yang dulu pernah ia kenal sebagai imam masjid kecil di kamp pengungsian. Syaikh Mahmud Eid namanya. Lewat tokoh ini, Abdul Aziz Rantisi berkenalan dengan ide dan gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Imam Syahid Hassan Al Banna. Melalui ide dan pemikiran Ikhwanul Muslimin, Abdul Aziz Rantisi mulai mengenal dengan persatuan dunia Arab dan Islam yang sesungguhnya, bukan Pan Arabisme yang dimunculkan oleh Presiden Jamal Abdul Nasser, presiden Mesir kala itu yang berbasis ideologi komunisme.
Abdul Aziz Rantisi juga mempelajari dengan serius gagasan dan perjuangan Sayyid Quthb yang dianggap sebagai salah satu pemikir besar dalam organisasi Ikhwanul Muslimin. Dan dari buku Ma'alim fi ath Thariq, atau Petunjuk Jalan, Rantisi menggarisbawahi dua pemikiran Sayyid Quthb yang kelak menjadi ideologi gerakan yang ia yakini.
Pertama, seorang Muslim haruslah memenuhi jiwa dan relung pikirannya dengan Islam. Di rumah, di sekolah, di rumah sakit tempatnya bekerja, sebagai insinyur, dalam hubungan sosial, dan lain-lain. Dengan begitu, potensi masyarakat Arab akan kembali muncul seperti yang dulu pernah dimunculkan oleh Rasulullah. Kedua, melalui Sayyid Quthb, Abdul Aziz Rantisi percaya bahwa seluruh ideologi dunia yang ada saat ini sudah mengalami kegagalan yang sempurna. Komunis telah gagal. Nasionalis pun juga gagal. Apalagi sekularisme, gagal total. Dunia sedang mengalami kekosongan ideologi sekarang. Dan di masa yang sangat kritis ini, seharusnya Islam muncul sebagai solusi. Sudah saatnya umat Islam memainkan peranan vital dan signifikan. Sudah saatnya bagi Islam.
Dengan berbekal pemahaman seperti itu, terjadi pematangan dalam jiwa seorang Abdul Aziz Rantisi. Pada tahun 1972, ia lulus dari studinya di bidang spesialis anak. Dan pada tahun 1973, ia mendirikan Gaza Islamic Center. Betapa besar loncatan yang dibuat oleh Rantisi. Dari seorang mahasiswa yang tak punya ambisi apapun, kecuali karir akademik, menjadi seorang yang dengan semangat mendirikan sebuah lembaga yang kelak akan digunakannya sebagai sarana melawan penjajah.
Pada periode tertentu, seluruh pimpinan Ikhwanul Muslimin di Jalur Gaza ditangkap oleh tentara Israel Raya, termasuk Syaikh Yassin yang diganjar penjara 13 tahun lamanya. Di tengah kekosongan inilah, kader muda yang bernama Abdul Aziz Rantisi muncul ke muka. Ia memulai gerakannya dari kampus. Memenangkan kepemimpinan kampus, dengan mengantongi suara 80% melawan kandidat yang didukung oleh PLO.
Bersama enam tokoh lain, Rantisi membentuk Hamas. Ketujuh tokoh ini adalah Syaikh Ahmad Yassin, Abdul Aziz Rantisi, Abdul Fattah Dukhan, Mohammad Shamma', Dr Ibrahim Al Yasour, Issa Al Najjar, dan Shalah Shahadah. Pada tahun 1988, Abdul Aziz Rantisi ditangkap dan ditahan oleh tentara Zionis Israel dengan tuduhan mendukung gerakan Intifada. Abdul Aziz Rantisi divonis 2,5 tahun penjara dan tentu saja bukan penjara yang ringan jika berada di bawah kekuasaan Zionis Israel. Berbagai penyiksaan dan dera, tentu saja membarengi selama penahanan dirinya.
Di mata istri dan anak-anaknya, Abdul Aziz Rantisi adalah seorang pria yang lembut dan penuh kasih sayang pada keluarganya. Ia memiliki empat orang anak perempuan dan dua orang anak laki-laki. Semuanya mengenang Rantisi dengan catatan tinta emas sebagai seorang ayah dan pejuang yang sungguh-sungguh menegakkan Islam.
Asma, anak perempuan Rantisi yang terkecil, suatu hari bertutur tentang puisi yang ditulis ayahnya di dalam penjara tentang dirinya. Saat ia mengunjungi sang ayah, dari balik terali besi sang ayah menyodorkan tulisan berisi puisi:
seperti cahaya
di waktu dhuha
yang menyala-nyala
tersenyum menghiasi langitNya
Begitu pujian Rantisi pada anak perempuannya. Pada Asma, Rantisi mengatakan bahwa ia adalah anak yang paling dicintainya. Dengan bangga Asma pulang ke rumah dan mengabarkan rasa cinta sang ayah pada dirinya. Tapi rupanya, Rantisi juga berkata pada setiap anaknya bahwa mereka adalah anak yang paling ia cintai. Asma pun akhirnya bertukar senyum pada saudara-saudaranya, merasa beruntung memiliki ayah seperti ayah mereka.
Bagi Rasya, istri Rantisi, ia adalah suami ideal yang kelak diharapkan syafa'atnya di surga.
"Selama kami bersama, 30 tahun, saya bersaksi bahwa akhlaknya benar-benar menyontoh Rasulullah." kenang sang istri.
Di hari pemakaman, sang istri, Rasya berucap dengan sangat syahdu tentang suami tercinta.
"Demi Allah, ini adalah hari yang paling membanggakan. Saya berdiri di sini, di pagi yang cerah ini pada pemakaman suami saya yang mulia yang telah disambut 72 bidadari hurun 'iin yang jelita. Ya Allah, berikan padanya bidadari. Ya Allah, berikan kemenanganMu pada Hamas setelah musibah hari ini. Gantilah musibah yang terjadi hari ini dengan anugerah yang indah di esok hari. Saya ingin sekali mati syahid, sepertinya, seperti suami saya yang tercinta. Tapi Allah menetapkan ajal kami di waktu yang berbeda. Ya Allah, pertemukan kami, anak dan istrinya, cucu dan keluarganya dengan lelaki yang kami cinta, Abdul Aziz Rantisi yang mulia."
Maka, berakhirlah kisah hidup sang pahlawan itu. Di mata manusia, tubuhnya memang terluka. Namun di depan Allah, ia memancarkan sinar seterang-terangnya. Semoga Allah merahmatinya dan merahmati semua orang yang berjuang di jalanNya. [atstsaurahblogspot/islamedia]