Ketika Adikmu Hafizh


Islamedia - Bahagia, haru, dan malu. Begitu perasaan aa mendapati engkau menjadi seorang adik.


Dik, beberapa pekan yang lalu, dalam telepon Ummi mengabarkan, “insyaAllah tiga minggu lagi selesai”. Gemetar aa mendengarnya. Aa paham, maksudnya ialah engkau yang selesai atas hafalan Al-Qur’an. Kholas 30 juz. Betapa bahagia rasanya mendengar kabar engkau menjadi seorang Hafizh, menjadi keluarga Allah. Sosok yang memiliki ketuamaan. Sosok yang atas izin-Nya dapat memberi syafaat kepada keluarga di hari akhir kelak. Dik, aa mulai membayangkan, ketika nanti berkumpul di rumah, jika hendak berjama’ah untuk sembahyang biarlah engkau yang menjadi imam. Engkau yang telah pandai nan hafal Al-.Qur’an. Engkau yang dapat melantunkannya dengan keindahan. Ya, Ummi dan Abi pun sepakat atas suaramu yang merdu menggugah.

Dik, masih jelas dalam benak aa ketika kami meninggalkanmu di sebuah pondok yang jauh dari rumah. Meninggalkanmu dalam keluguan dan kepasrahan. Aa ingat, walau belum lama kendaraan melaju, air mata telah membasahi wajah ummi. Abi terlihat lebih tegar. Adik bungsu tersenyum dengan arti kehilangan. Dik, aa pun ingat hari-hari terakhir sebelum keberangkatanmu ke pondok. Ketakutan sangat jelas nampak dalam wajahmu. Kekhawatiran pun tersirat pada gerak-gerik kedua orang tuamu. Hampir setiap hari Ummi selalu bertanya memastikan, “tidak apa-apa kan?” engkau yang masih kecil justru membesarkan hati, “iya enggak apa-apa ummi, biar nanti aku bisa ngasih mahkota dan jubah buat ummi sama abi.” Alhamdulillah.. Dik, insyaAllah kelak engkau mewujudkannya.

Dik, guru aa pernah berpersan, seorang hafizh itu bukan hanya sekedar hafal Al-Qur’an, melainkan selalu menjaga dan mengulangnya. Semoga engkau senantiasa istiqomah. Oh iya dik, aa pun sempat mendengar. Katanya cukup banyak ya akhwat yang melirikmu? Hati-hati, itu ujian tersendiri bagimu, jaga pandanganmu. Dik, seorang hafizh itu menjaga Allah, ia takut Allah. Maka jaga selalu Al-Qur’an dalam dadamu, jangan biarkan syahwat menjadi kendalimu. Dik.... 

...aa cukupkan menasihatimu. Aa khawatir nanti celaka. Malu rasanya jika hanya menasihati namun diri sendiri tak kunjung diperbaiki. Karena terkadang, aa pun enggan untuk menghafal. Mengaku ingin berprestasi namun Al-Qur’an seringkali ditinggali. Astaghfirullah. Semoga Allah mengampuni aa mu ini, dik.

Dik, selamat atas keberhasilanmu telah selesai menghafal Al-Qur’an. Ummi dan Abi pasti sangat bangga dan bersyukur atas capaianmu. Doakan aa dan adik bungsu ya agar bisa menyusulmu. Agar kita sama-sama menjadi keluarga Allah. Agar kita sama-sama menjadi kesayangan Rasulullah.

Untukmu dik, yang malam ini selesai menyetorkan hafalannya,
Muhammad Daffa Syuhada



Catatan :
Muhammad Daffa Syuhada, usia 15 tahun
santri SMPIT Al - Hikmah Bobos, Cirebon


Penulis :
Mahasiswa departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB
Peraih beasiswa PPSDMS Nurul Fikri


close
Banner iklan disini