Jangan Buat Musuhmu Senang, Meski Sekedar Senyuman


Islamedia -  Kata ibu ku, "Jangan pernah membuat musuhmu senang meski hanya sekedar tersenyum karena melihatmu sedikit ketakutan dan menderita oleh perbuatan yang dilakukannya padamu."
-----------------------------------------

Suatu malam saya pulang ke rumah dari pemusatan latihan karate dengan karate-gi ( baju karate) bersimbah darah dari bibir yang pecah. Di tempat pemusatan latihan tadi, saya sedikit 'dicurangi' tim lain waktu pra seleksi.

Saat kumite dengan salah satu dari mereka, lawan saya sengaja melakukan pukulan untuk melukai padahal dalam aliran karate kami (shotokan), jika dalam sebuah pertandingan musuh kita buat terluka justru kitalah yang rugi. Dari kehilangan angka hingga harus didiskualifikasi.

Tujuan tim mereka sebenarnya adalah membuat saya terluka hingga kesakitan dan tak mampu terus mengikuti seleksi di pemusatan latihan. Jadi salah satu dari mereka, memang ditugaskan khusus untuk melukai saya meski mereka tau konsekuensinya : didiskualifikasi.

Ibu saya, langsung mencari obat untuk bibir saya yang sobek. Alhamdulillah kami punya tetangga yang punya obat bisa mengeringkan luka super cepat. Malam itu ibu merendam Karate-gi saya yang 80 persen berwarna merah karena darah.


Selanjutnya ayahlah yang terus menempelkan obat pada luka saya agar luka saya menutup, sambari meminumkan saya madu.

Sedang ibu, menyeterika karate-gi adik yang kebetulan mirip dan hampir sama ukurannya dengan punyaku. Karate-gi itu sekilas hampir tak ada bedanya dengan karate-gi saya.

Esok sore, ibu menyuruh saya tetap ikut latihan. Meski sebenarnya saya dapat dispensasi boleh istirahat dua hari karena luka yang besar kemarin. Namun, sore itu luka saya memang sudah tertutup, tak ada pembengkakan bahkan tak ada tanda-tanda pernah sobek. Saya sebenarnya menolak halus latihan sore itu, namun ibu berkata,

"Jangan pernah membuat musuhmu senang meski hanya sekedar tersenyum karena melihatmu sedikit ketakutan dan menderita oleh perbuatan yang dilakukannya padamu."

"Kamu harus siap menghadapi lawanmu disegala kondisi, jangan cengeng cuma karena mereka mencurangimu. Kamu ndak bisa berharap dapat musuh yang selalu menjunjung tinggi sportifitas bukan? " tambah beliau.

Betul, saat saya tiba di tempat latihan tanpa terlihat baru terluka kemarin dan berkarate-gi yang tetap bersih, tak terlihat pernah terkena darah, tim lawan saya terlihat sedikit keheranan dan pucat. Mereka kaget, kemana luka yang kemarin mengucurkan darah super banyak. Harapan mereka agar saya ciut karena sakit hingga tak mampu bertanding dengan lawan selanjutnya dari tim mereka, tak jadi kenyataan.

Apa yang ingin saya katakan dengan cerita tadi?
Saya cuman ingin sedikit berbagi bahwa dalam hidup ini akan selalu ada orang-orang yang memusuhi kita apalagi jika usaha yang kita lakukan adalah dakwah.

Media-media Islam baru saja di block, tetapi seyogianya itu mesti dijadikan sebagai pelajaran berharga. Misalnya esok lusa jika ingin berdakwah dengan media online siapkan cadangan beberapa website. Jadi jika satu media di block tumbuh 1000 media yang lain. Bukankah dakwah tak pernah mudah? Halangan dan rintangan adalah teman seiring sejalannya.

Muslim adalah umat terbaik. Agama kita agama yang bisa melatih umat Islam menjadi kuat dan tangguh.

Nabi kita shallallahu alahi wa sallam adalah suri tauladan terbaik ; contoh terbaik. Kita semua tahu bagaimana mulianya akhlak beliau, namun beliau pun tegas pada musuh-musuh Islam dan menghadapinya dengan strategi-strategi jitu.

Kita punya Al Qur'an, manual book kita yang tak dipunyai umat lainnya. Membacanya saja sudah membuat kita tenang, apalagi jika mengikuti petunjuk-petunjuk Allah dalam Al Qur'an. Lalu, mengapa kita tak mau jadi umat-umat yang beruntung, karena selalu berkhalwat dengan al-Qur'an?

Lihatlah, kita punya bulan Ramadhan yang menjadi bulan penuh berkah yang sekaligus bulan penempaan mental dan fisik kita.
Sebulan penuh kita berpuasa, menahan diri dari segala yang membatalkan puasa. Secara kasat mata umat lain mungkin akan melihat betapa ndak enaknya jadi umat Islam, sebulan penuh banyak larangan, bahkan makan makanan enak di siang hari tak boleh.

Namun, kita umat Islam justru selalu menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita dan bahkan berharap Ramadhan itu sepanjang tahun. Kita tak peduli meski harus lapar dan haus setahun pernuh.

Terlalu banyak jika ingin memaparkan sempurnanya syari'at agama kita. Kita saja yang jadi begini karena kurang akrab dengan agama kita.

Sedikit masalah sudah menggoyahkan kita. Tiba-tiba segala macam cerita 'penindasan' muncul. Jilbab besar diintimidasi, bercadar dilabeli ninja dan seterusnya. Semua di share, diceritakan biar dapat simpati, tapi apa? Kita malah semakin didzalimi.

Bukan tak berempati tetapi yang seperti itu bukan untuk terus menerus dishare. Justru yang perlu dishare itu kebenaran, kebaikan, kekuatan Islam.

Lihatlah ketika Arab Saudi memerangi Syiah di Yaman? Bagaimana media-media sekuler tak peduli meski harus memuat berita Hoax alias bohong demi menutupi kebenaran? Sebenarnya mereka sedang ketar ketir. Mereka tak rela jika Islam kembali jaya.

Sebenarnya musuh-musuh Islam itu paham kekuatan umat ini. Mereka tahu bagaimana kehebatan umat terbaik ini. Makanya mereka berusaha melumpuhkan Islam dengan berbagai strategi, bukan dengan langsung menantang langsung dengan perang terbuka.

Tetapi, justru kitalah yang tak paham dan lebih senang membuat musuh-musuh kita tertawa dengan mengumbar kelemahan dan kezaliman yang kita rasakan.

Jadi, kapan kalian mau mulai mempersiapkan diri jadi umat terbaik?
Mari kita mulai dengan mengaji di tempat yang benar.

oleh : Ummu Azzura