Awal Tahun 2015, Islamophobia di Prancis Meningkat 500 Persen


Islamedia - Abdallah Zekri, kepala Observatorium Nasional Prancis melawan Islamopbohia, mengatakan insiden anti-Muslim meningkat 500 persen dalam empat bulan pertama 2015.


"Sejak Observatorium Nasional Prancis melawan Islamophobia tahun 2011, baru kali ini terjadi ledakan tindakan anti-Muslim dan ancaman terhadap Muslim dan Muslimah. Terutama pada jaringan sosial," ujar Zekri kepada worldbulletin.net.

Menurut Zekri, terjadi 222 tindakan anti-Muslim dalam empat bulan pertama tahun ini. Rincinya, 56 serangan dan 166 ancaman. Periode sama tahun sebelumnya hanya ada 37 tindakan anti-Muslim.

Jumlah tindakan anti-Muslim tertinggi terjadi Januari 2015, dengan 178 ancaman dan penyerangan. Penyebabnya adalah serangan ke kantor redaksi Charlie Hebdo dan penyanderaan di supermarket Yahudi.

"Kejahatan-kejahatan mengerikan itu tidak dapat membenarkan terjadinya peningkatakan kebencian atau dendam terhadap Muslim di Prancis," lanjut Zekri.

Muslim Prancis, masih menurut Zekri, tidak bertanggung jawab atau bersalah melakukan aksi teroris yang menghancurkan negara.

Serangan terhadap Muslim, demikian Zekri, umunya terjadi di tempat-tempat umum. Sasarannya tidak hanya wanita, namun juga pria. Dalam beberapa kasus, korban serangan adalah ibu-ibu hamil.

Dalam kasus-kasus tertentu, serangan diarahkan ke tempat ibadah, yaitu berupaya pelemparan granat dan penembakan.

"Saya tidak tahu apakah motto; Liberte, Egalitet, dan Fraternite, masih berlaku di Prancis," ungkap Zekri.

Menariknya, semua itu terjadi tanpa reaksi dari politisi. Tidak ada politisi yang mencela. Mereka justru mencoba menemukan alasan pembenar.

"Jadi, tidak mengherankan jika orang-orang muda yang merasa tersisihkan, dan dituduh melakukan segala kejahatan, serta dibiarkan terbunuh secara gratis, tidak memiliki masa depan di Prancis," Zekri mengakhiri.[inilah/islamedia]

Abdallah Zekri, kepala Observatorium Nasional Prancis melawan Islamopbohia, mengatakan insiden anti-Muslim meningkat 500 persen dalam empat bulan pertama 2015.

"Sejak Observatorium Nasional Prancis melawan Islamophobia tahun 2011, baru kali ini terjadi ledakan tindakan anti-Muslim dan ancaman terhadap Muslim dan Muslimah. Terutama pada jaringan sosial," ujar Zekri kepada worldbulletin.net.

Menurut Zekri, terjadi 222 tindakan anti-Muslim dalam empat bulan pertama tahun ini. Rincinya, 56 serangan dan 166 ancaman. Periode sama tahun sebelumnya hanya ada 37 tindakan anti-Muslim.

Jumlah tindakan anti-Muslim tertinggi terjadi Januari 2015, dengan 178 ancaman dan penyerangan. Penyebabnya adalah serangan ke kantor redaksi Charlie Hebdo dan penyanderaan di supermarket Yahudi.

"Kejahatan-kejahatan mengerikan itu tidak dapat membeanrkan terjadinya peningkatakan kebencian atau dendam terhadap Muslim di Prancis," ujar Zekri.

Muslim Prancis, masih menurut Zekri, tidak bertanggung jawab atau bersalah melakukan aksi teroris yang menghancurkan negara.

Serangan terhadap Muslim, demikian Zekri, umunya terjadi di tempat-tempat umum. Sasarannya tidak hanya wania, tapi juga pria. Dalam beberapa kasus, korban serangan adalah ibu-ibu hamil.

Dalam kasus-kasus tertentu, serangan diarahkan ke tempat ibadah, yaitu berupaya pelemparan granat dan penembakan.

"Saya tidak tahu apakah motto; Liberte, Egalitet, dan Fraternite, masih berlaku di Prancis," kata Zekri.

Menariknya, semua itu terjadi tanpa reaksi dari politisi. Tidak ada politisi yang mencela. Mereka justru mencoba menemukan alasan pembenar.

"Jadi, tidak mengherankan jika orang-orang muda yang merasa tersisihkan, dan dituduh melakukan segala kejahatan, serta dibiarkan terbunuh secara gratis, tidak memiliki masa depan di Prancis," Zekri mengakhiri. - See more at: http://dunia.inilah.com/read/detail/2197033/islamophobia-di-prancis-meningkat-500-persen#sthash.nXS3DDZn.dpuf
Abdallah Zekri, kepala Observatorium Nasional Prancis melawan Islamopbohia, mengatakan insiden anti-Muslim meningkat 500 persen dalam empat bulan pertama 2015.

"Sejak Observatorium Nasional Prancis melawan Islamophobia tahun 2011, baru kali ini terjadi ledakan tindakan anti-Muslim dan ancaman terhadap Muslim dan Muslimah. Terutama pada jaringan sosial," ujar Zekri kepada worldbulletin.net.

Menurut Zekri, terjadi 222 tindakan anti-Muslim dalam empat bulan pertama tahun ini. Rincinya, 56 serangan dan 166 ancaman. Periode sama tahun sebelumnya hanya ada 37 tindakan anti-Muslim.

Jumlah tindakan anti-Muslim tertinggi terjadi Januari 2015, dengan 178 ancaman dan penyerangan. Penyebabnya adalah serangan ke kantor redaksi Charlie Hebdo dan penyanderaan di supermarket Yahudi.

"Kejahatan-kejahatan mengerikan itu tidak dapat membeanrkan terjadinya peningkatakan kebencian atau dendam terhadap Muslim di Prancis," ujar Zekri.

Muslim Prancis, masih menurut Zekri, tidak bertanggung jawab atau bersalah melakukan aksi teroris yang menghancurkan negara.

Serangan terhadap Muslim, demikian Zekri, umunya terjadi di tempat-tempat umum. Sasarannya tidak hanya wania, tapi juga pria. Dalam beberapa kasus, korban serangan adalah ibu-ibu hamil.

Dalam kasus-kasus tertentu, serangan diarahkan ke tempat ibadah, yaitu berupaya pelemparan granat dan penembakan.

"Saya tidak tahu apakah motto; Liberte, Egalitet, dan Fraternite, masih berlaku di Prancis," kata Zekri.

Menariknya, semua itu terjadi tanpa reaksi dari politisi. Tidak ada politisi yang mencela. Mereka justru mencoba menemukan alasan pembenar.

"Jadi, tidak mengherankan jika orang-orang muda yang merasa tersisihkan, dan dituduh melakukan segala kejahatan, serta dibiarkan terbunuh secara gratis, tidak memiliki masa depan di Prancis," Zekri mengakhiri. - See more at: http://dunia.inilah.com/read/detail/2197033/islamophobia-di-prancis-meningkat-500-persen#sthash.nXS3DDZn.dpuf

Abdallah Zekri, kepala Observatorium Nasional Prancis melawan Islamopbohia, mengatakan insiden anti-Muslim meningkat 500 persen dalam empat bulan pertama 2015.

"Sejak Observatorium Nasional Prancis melawan Islamophobia tahun 2011, baru kali ini terjadi ledakan tindakan anti-Muslim dan ancaman terhadap Muslim dan Muslimah. Terutama pada jaringan sosial," ujar Zekri kepada worldbulletin.net.

Menurut Zekri, terjadi 222 tindakan anti-Muslim dalam empat bulan pertama tahun ini. Rincinya, 56 serangan dan 166 ancaman. Periode sama tahun sebelumnya hanya ada 37 tindakan anti-Muslim.

Jumlah tindakan anti-Muslim tertinggi terjadi Januari 2015, dengan 178 ancaman dan penyerangan. Penyebabnya adalah serangan ke kantor redaksi Charlie Hebdo dan penyanderaan di supermarket Yahudi.

"Kejahatan-kejahatan mengerikan itu tidak dapat membeanrkan terjadinya peningkatakan kebencian atau dendam terhadap Muslim di Prancis," ujar Zekri.

Muslim Prancis, masih menurut Zekri, tidak bertanggung jawab atau bersalah melakukan aksi teroris yang menghancurkan negara.

Serangan terhadap Muslim, demikian Zekri, umunya terjadi di tempat-tempat umum. Sasarannya tidak hanya wania, tapi juga pria. Dalam beberapa kasus, korban serangan adalah ibu-ibu hamil.

Dalam kasus-kasus tertentu, serangan diarahkan ke tempat ibadah, yaitu berupaya pelemparan granat dan penembakan.

"Saya tidak tahu apakah motto; Liberte, Egalitet, dan Fraternite, masih berlaku di Prancis," kata Zekri.

Menariknya, semua itu terjadi tanpa reaksi dari politisi. Tidak ada politisi yang mencela. Mereka justru mencoba menemukan alasan pembenar.

"Jadi, tidak mengherankan jika orang-orang muda yang merasa tersisihkan, dan dituduh melakukan segala kejahatan, serta dibiarkan terbunuh secara gratis, tidak memiliki masa depan di Prancis," Zekri mengakhiri. - See more at: http://dunia.inilah.com/read/detail/2197033/islamophobia-di-prancis-meningkat-500-persen#sthash.nXS3DDZn.dpuf