Akmal: Sekularisme adalah Ideologi yang Menyingkirkan Agama dari Ruang Publik


Islamedia -  “Sekuralisme adalah ideologi yang menyingkirkan agama dari ruang publik,” ujar Akmal Sjafril ketika membuka kuliah di Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL, Selasa (14/04), di aula Mi’raj Tours and Travel, Bandung. Pada pertemuan keenam SPI ITJ ini, “Sekularisme” menjadi tema yang dibahas oleh Akmal setelah pada pertemuan sebelumnya ia membahas tentang “Konsep Diin”.

Peneliti di Institute for the Study of Islamic Thoughts and Civilizations (INSISTS) ini memulai pemaparan kuliahnya dengan membedah sejarah munculnya ideologi sekularisme. Menurutnya, ideologi ini muncul setelah berlalunya Jaman Kegelapan (Dark Ages, abad 5-15 M) di Eropa. Pada jaman tersebut terjadi kemunduran kualitas hidup yang luar biasa di Eropa karena kerap terjadi peperangan dan berbagai persoalan kehidupan lainnya. “Ironisnya, di jaman itu pula terjadinya masa-masa Kristen menghegemoni di seluruh Eropa,” ujarnya.

Akmal melanjutkan, gerakan sekularisme kemudian timbul akibat ketidakpuasan terhadap Gereja yang mendominasi Eropa lewat kebijakan-kebijakannya. Gerakan ini kemudian berusaha menyingkirkan doktrin agama Kristen dari kehidupan masyarakat Eropa.

Mengutip pernyataan Cendekiawan Muslim Indonesia Adian Husaini, Akmal menjelaskan ada tiga poin yang menyebabkan Barat memilih untuk menjadi sekuler. “Pertama, problem sejarah Kristen. Banyak tindak kekerasan yang diinstruksikan oleh gereja hingga berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh pemuka agamanya di masa lalu. Kedua, problem teks Bibel. Banyak terdapat ayat-ayat Bibel yang saling bertentangan, kemudian mengajarkan moralitas buruk serta bertentangan dengan sains. Ketiga, problem teologi Kristen. Trinitas dan aspek-aspek teologi Kristen lainnya amat sulit untuk dipahami dengan akal sehat. Bahkan, sejarah memastikan bahwa aspek-aspek teologi tersebut adalah hasil kesepakatan,” ungkapnya.

Ketiga poin inilah yang kemudian membuat masyarakat Barat memilih sekuler dan mengesampingkan agama dari kehidupannya. Selain itu, masyarakat Barat juga beranggapan bahwa jika mereka masih menuruti agama, kehidupan mereka tidak akan berkembang seperti halnya di Jaman Kegelapan sebelumnya. “Jika Anda ngotot pada agama maka Anda tidak akan maju,” tutur Akmal mengungkapkan pemikiran tipikal masyarakat sekuler Barat dalam memandang agama.

Pada akhir kuliahnya, Akmal menyimpulkan bahwa ideologi sekularisme merupakan produk spesifik hasil dari pengalaman masyarakat barat. Sekularisme ini membawa dampak pemikiran yang sangat dahsyat kepada Barat sehingga Kristen tidak lagi mewarnai Barat, namun sebaliknya, Kristen-lah yang ter-Barat-kan. Ideologi ini sangat berbeda dengan Islam yang tidak menerima intervensi atau pencampuran dengan ideologi apa pun. “Itulah sebabnya, sampai kapan pun, Islam pasti bertentangan dengan sekularisme,” tutup penulis buku Islam Liberal 101 ini. (Eko-SPI/islamedia/aj)