Adaik Basandik Syarak, Syarak Basandik Kitabullah


Islamedia -  Bertempat di kantor Suara Islam, Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL kembali melanjutkan perkuliahannya pada hari Kamis (16/04). Perkuliahan yang telah dimulai sejak awal Maret 2015 ini membahas tema “Nativisasi” bersama sekitar 40 orang peserta. Dalam kesempatan kali ini, SPI mengundang Tiar Anwar Bachtiar M. Hum., Ketua Umum PP Pemuda PERSIS, sebagai narasumber.

“Selain kristenisasi dan sekularisasi, nativisasi merupakan permasalahan umat saat ini,” ungkap Ustadz Tiar. Beliau melanjutkan, “Nativisasi merupakan upaya mengembalikan peradaban ke masa-masa asli atau awal, dalam hal ini di Indonesia adalah Hinduisme.”

Selanjutnya, Tiar menjabarkan tokoh-tokoh yang berperan dalam upaya Nativisasi di Indonesia. “Thomas Stanford Raffles dengan karyanya History of Java saat ini telah menjadi rujukan upaya menumbuhkan kembali kearifan lokal yang mendiskreditkan Islam. Ia menyatakan bahwa Islam yang berkembang di Jawa terlihat hanya menekankan penampakan dan pelaksanaan, tapi hanya sedikit yang berakar di dalam hati,” ungkapnya.

Pandangan Raffles tersebut disanggah oleh Tiar. “Menjadi muslim itu berproses, tidak langsung menjadi sempurna. Itulah sebabnya seorang muslim tidak bisa menjadi ukuran untuk muslim yang lain,” ujarnya.

Ustadz Tiar juga menyayangkan betapa Candi Borobudur dijadikan ikon bagi Indonesia. “Seharusnya Masjid-lah yang menjadi ciri khas Indonesia. Coba perhatikan bagi yang pernah naik kapal PELNI, ada masjid di atas kapal. Mana ada gereja, apalagi candi?” canda Tiar yang disambut tawa para peserta.

Menyikapi pertanyaan salah satu peserta tentang adat masyarakat yang melakukan upacara Tabuik setiap 10 Muharram, pengajar di pesantren PERSIS 19 Garut ini menjelaskan bahwa agama tak bertentangan dengan adat selama itu tak menyalahi  syariat. “Adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah,” kata beliau menukil prinsip adat Minangkabau. “Sepuluh Muharram tak selalu identik dengan peristiwa Karbala yang diagungkan oleh Syi’ah. Rasulullah pun mengajarkan kita untuk memuliakan tanggal 10 Muharram dengan berpuasa. Belum tentu masyarakat yang melaksanakan Tabuik mengetahui perihal tentang ajaran Syi’ah pada tiap hari Asyura,” tandasnya. (Agung-SPI/islamedia/aj)