Memahami Serangan Udara Saudi ke Yaman - 1


Islamedia -  Sebelum Arab Spring peta kekuatan koalisi di kawasan minimal terbagi menjadi 4 poros: Poros Sunni Sekuler (Mesir, Saudi dan Negara Teluk minus Qatar, Yordania, Marocco, Tunisia, Aljazair, Libya dan Yaman); Poros Syiah (Iran, Syria,Lebanon, setengah Irak dan beberapa jaringan di Yaman dan Bahraen); Poros Israel; dan Poros Sunni konservatif (Turki, Qatar, Hamas dan Ikhwan).

Setelah Arab Spring peta kekuatan koalisi itu berubah total. Kekuatan koalisi Sunni konservatif muncul menjadi kekuatan baru di mana Ikhwan dapat mengambil alih kekuatan sunni sekuler.

Arab Spring yang tidak direncanakan oleh Ikhwan dan tidak juga dipimpin oleh Ikhwan mampu meledak secara natural karena komplikasi kemiskinan dan tirani sudah sampai pada titik ledaknya.

Pada peristriwa Arab Spring ini, Ikhwan menjadi kekuatan yang paling leading dan mendapat keuntungan paling besar mengingat Ikhwan merupakan kekuatan sosial politik yang paling luas dan solid di kawasan.

Kondisi ini sedikit banyak memunculkan semacam euforia di Ikhwan di seluruh kawasan dan karena kejadiannya berlangsung begitu cepat, maka secara politik kekuatan utama dunia harus menerima realitas politik kawasan. Hal ini sebenarnya sudah terlihat ketika Amerika mengucapkan selamat atas terpilihnya Mursi sebagai presiden Mesir pasca reformasi dari pemilu yang demokratis.

Euforia Ikhwan itu berlanjut dalam langkah-langkah politik yang relative kurang tepat di kawasan sehingga berubah menjadi “Ancaman Ikhwan” di kawasan yang sangat berakibat menimbulkan kekhawatiran yang luar biasa bagi kekuatan lain di kawasan.

Tindakan yang memicu kekhawatiran itu misalnya ketika Presiden Mursi mengunjungi Negara-negara di luar poros Amerika dan sekutunya di awal masa kepresidenannya. Juga ketika beliau memecat Thanthawi dari jabatan Menhan dan menggantinya dengan As-Sissi.

Situasi itu mendorong kekuatan lain di kawasan untuk berkonsolidasi, terutama antara Poros Sunni Sekuler dan Poros Israel.

Uni Emirat Arab menjadi pusat konsolidasi ini. Saudi dan Emirat menjadi sponsor utama konsolidasi ini. Kuwait dan Bahrain juga tidak ketinggalan, mereka ikut poros konsolidasi ini sesuai ukurannya.

Salah seorang arsitek utama dalam konsolidasi ini adalah Muhammad Dahlan dari Fatah, Palestina. Tokoh yang punya hubungan istimewa dengan Israel. Tokoh lainnya adalah Khalid At-Tuwaijiri, penasihat Raja Abdullah dan Bandar Bin Sultan, kepada intelijen merangkap Kepala Dewan Keamanan Nasional Saudi.

Hanya butuh waktu sekitar 6 bulan tim itu bekerja dan berhasil menggalang kekuatan untuk menggulingkan Mursi di Mesir. Pada realitasnya, Gerakan Anti Arab Spring berkembang sangat cepat dan massif, sehingga tidak terantisipasi oleh Ikhwan.

Berhasil di Mesir gerakan itu dengan cepat menyebar di seluruh kawasan dengan hasil yang berbeda-beda.

Nahdhah di Tunisia lebih fleksibel menghadapi gerakan anti Arab spring ini, hasilnya Nahdhah tidak jadi pemenang pemilu tapi masih tetap eksis dalam percaturan politik Tunisia.

Di Libya gerakan itu berkembang menjadi gerakan militer dan menghasilkan perang saudara yang masih berlangsung sampai sekarang.

Kebencian kepada Ikhwan ini terus dikembangkan terutama oleh Khalid At-Tuwaijiri yang memanfaatkan kondisi Raja Abdullah yang renta dan sakit-sakitan. Bersama Muhammad Bin Zayed An-Nahyan, wakil raja Emirat Khalifah Bin Zayed yang sakit-sakitan. Mereka menggelontorkan dana milyaran dollar untuk mengobarkan kebencian itu dan melakukan manuver yang sangat jauh, termasuk membantu Asad di Suriah.

Yang lebih gila lagi mereka berkoalisi dengan Ali Abdullah Saleh yang terguling waktu Arab Spring dan kelompok Syiah Hutsi utk mengkudeta pemerintah Yaman. Inilah konspirasi Sunni-Syiah melawan Sunni konservatif.

Ikhwan di Yaman tampaknya memahami peta ini lalu merespon dengan baik. Mereka sadar tentang adanya konspirasi terhadap pemerintahannya, termasuk dengan orang-orang dalam Yaman. Kemungkinan besar Presiden Yaman, Abdu Rabbih Hadi Mansour terlibat dalam konspirasi ini (kudeta).

Ishlah memutuskan untuk tidak melawan dan membiarkan Hutsi merebut Shan’a dan menggulingkan presiden. Perlu diketahui bahwa kekuatan militer Ishlah lebih besar dari kekuatan militer Syiah Hutsi. Militer Yaman lebih memilih mengikuti presidennya yang juga terlibat dalam konspirasi ini.

Setelah menguasai Yaman, kelompok Hutsi segera membentuk pemerintahan baru dan yang mengagetkan adalah mereka “melepeh” Ali Abdullah Saleh yang didukung Saudi.

Jadilah pemerintahan baru itu murni Syiah Hutsi, tanpa Ali Saleh. Ini membuat Saudi gigit jari dan jadi bahan tertawaan di kawasan. [dakwatuna.com]


Ahmad Zainuddin, Lc. ME