Aku Ingin Kembali Tarbiyah (1)


Islamedia.co -  Meski malas, Imam tetap menyeret badannya menghampiri rak buku berdebu di sudut sebuah bilik sempit yang difungsikan sebagai gudang di rumahnya. Mengenakan masker yang menutupi mulut dan hidung, ia berjalan tanpa semangat menggenggam kemoceng di tangan kanannya dan sebuah kardus besar kosong yang siap menampung tumpukan buku dari rak itu di tangan kirinya.

Dua hari lagi ia akan pindah rumah. Maka buku-buku lama itu harus dipacking. Buku-buku yang terlalu sayang untuk ia buang meski tidak terpakai lagi.

Satu persatu ia pindahkan buku-buku yang memuat berbagai kenangan masa lalu itu. Buku-buku yang masih ia simpan sejak zaman kuliah hingga kini setelah 7 tahun lamanya ia lulus dari kampus tempat ia bertemu dengan jodohnya.

Tengah asyik menurunkan buku dari rak ke kardus, tiba-tiba Imam terdiam tatkala menatap sebuah buku yang ia kenal. Buku bercover tebal dengan warna hijau garis-garis. Pada sebuah kotak putih di tengah cover buku itu terdapat tulisan, "Buku Materi Liqo'." Tertegun ia mengamati buku itu. 

Ia ambil buku itu, lalu perlahan ia buka lembaran demi lembaran dan menemukan tulisan-tulisan arab, gambar garis anak panah, dan keterangan dalam bahasa Indonesia khas tulisan tangannya. Bibirnya bergerak saat membaca judul demi judul  dalam catatan buku itu. "Ahdafut tarbiyah, sepuluh muwashofat, binaul izzah..." 

Sepertiga buku itu berisi catatan pengajian yang pernah ia ikuti, dua pertiga lainnya kosong.  Tiba-tiba hati Imam berdesir saat berada di catatan terakhir. Ia lihat tanggal di halaman itu, bulan Mei 2006. Di bulan itu terakhir kalinya ia mengikuti kajian pekanan yang dibimbing seniornya di kampus, Kak Riza. Sebelum kemudian ia tak pernah menampakkan wajah lagi dalam majelis ilmu itu karena... Karena seorang wanita yang kini jadi istrinya.

"Iya kak, saya pacaran. Saya gak pantas ikut liqo' lagi,” Imam mengenang kata-kata itu yang pernah diucapkannya di hadapan kak Riza saat mereka bertemu di kantin kampus, dua bulan setelah Imam tak pernah hadir lagi dalam majelis halaqoh.

“Ana memang gak meridhoi antum pacaran, tapi bukan berarti antum gak melanjutkan proses pembentukan pribadi muslim melalui tarbiyah. Ada kaidah dalam fiqh yang berbunyi sesuatu yang tidak sempurna dicapai, bukan berarti ditinggalkan sama sekali,” jawab kak Riza.

“Tapi maaf kak. Saya malu sama teman-teman. Mohon maaf saya gak bisa ikut liqo’ lagi. Salam buat teman-teman,” ujarnya bersikeras.



*****

Sudah lima belas menit tapi baru setengah kardus terisi, dan Imam masih dalam posisi duduk mengamati buku hijau itu. Membaca tiap catatannya.

Imam lalu mengambil handphone di sakunya, mengakses jejaring social, dan mencari nama sosok yang tiba-tiba ia rindukan itu. Mudah saja ia temukan. Sayangnya ia dan kak Riza belum menjadi teman. Dan ia klik sebuah tombol “Add Friend” yang muncul di layar handphonenya.

“Kak, ana kangen liqo’ lagi,” Imam menggumam. Ia merindukan lagi masa-masa indah penuh ukhuwah antar peserta kajian pekanan yang sudah ia ikuti sejak ia SMA. Pikirnya, kini ia dan istrinya sudah menjalin hubungan dengan halal. Tak ada lagi beban malu karena pacaran. Mungkinkah ia bisa kembali mengikuti kajian pekanan itu walaupun harus mengulang dari awal? Terserah ia harus dibina oleh siapa. Karena itu ia ingin mengutarakan kerinduannya kepada kak Riza.

Tapi sejenak kemudian ia ragu. Apakah kak Riza sendiri masih tarbiyah? Atau seperti dirinya yang sudah pensiun dari tarbiyah?

Imam cari tahu sendiri dengan melihat profil dan status-status kak Riza di jejaring sosial itu. Dan hati Imam lagi-lagi berdesir saat membaca sebuah status yang telah diposting oleh Riza lima belas menit yang lalu.

“Bersyukur masih diizinkan oleh Nya untuk istiqomah di jalan tarbiyah ini, setelah belasan tahun lamanya. Entah kenapa tiba-tiba terlintas kenangan dengan orang-orang yang dulu pernah dalam satu barisan. Semoga Allah senantiasa menjaga mereka,” begitu bunyi status itu.

Sontak Imam mengisi kolom komentar yang ada di bawah status itu.

“Kak Riza, masih ingat saya? Saya juga tiba-tiba ingat kak Riza. Makanya searching nama kak Riza, dan ketemu. Terima permintaan pertemanan dari saya ya, kak!” tulis Imam.

“Kak Riza, bisa kah saya kembali tarbiyah?” gumam Imam. Dan sebuah tombol private message diklik oleh Imam untuk menyatakan kerinduannya pada jalan itu. Imam ingin kembali…

*****


Banyak sebab seseorang terpisah dari barisan tarbiyah. Salah satunya seperti yang terjadi pada Imam, yang enggan meneruskan halaqoh karena pacaran. Padahal sebelum mengenal wanita yang menjadi pacarnya, Imam termasuk gencar menyadarkan remaja bahwa pacaran memiliki banyak mudhorot.

Dan setelah menikah, Imam merasa lepas dari perasaan bersalah itu. Ia ingin kembali menjumpai majelis pekanan yang membantunya membentuk pribadi muslim.

Mungkin saja di antara pembaca ada yang memiliki kemiripan kisah dengan Imam, yang mundur dari tarbiyah karena pacaran. Bila telah lepas dari beban itu, kembali lah menjumpai majelis ilmu yang memperdalam pemahaman keislaman kita, yang memotivasi kita untuk beribadah, tempat kita mengimplementasikan ukhuwah, tempat di mana kita merancang program untuk memperbaiki umat. Itulah majelis halaqoh yang senantiasa dirindukan.

Sejatinya, seperti yang diucapkan Riza, walau pacaran itu adalah sebuah kekurangan, tapi bukan berarti kita memutuskan sama sekali proses pembentukan menjadi pribadi muslim. 

Bila Allah telah hilangkan beban yang menghalangi kita untuk tarbiyah, maka segeralah kembali kepada jalan itu!


*****

Anda memiliki pengalaman kisah ketika akhirnya kembali tarbiyah? Ceritakan kisah Anda ke: