Valentine Day VS Yaumul Marhamah


Islamedia.co -  Ada berbagai versi mengenai asal mula valentine’s day yang biasa dirayakan setiap tanggal 14 Februari. Diantaranya menyatakan bahwa valentine’s day berasal dari nama pendeta nasrani yang dipenggal kepalanya pada 14 Februari 280 M, yaitu Santo Valentinus. 

Ia dianggap seorang saint (orang suci) yang dengan semangat tinggi berusaha menyebarkan ajaran nasrani pada penduduk Roma. Namun penguasa pada waktu menganggap hal itu sebagai tindakan subversif sehingga Kaisar Claudius II memerintahkan agar Valentine dihukum mati. Konon, sebelum meninggal, Valentine sempat menyampaikan pesan berupa tulisan “Dari valentine-mu”.

Tentu saja hal itu menjadikan  para pengikutnya merasa sedih, mereka menjadikan Valentine sebagai sosok pejuang ideal dan pahlawan legendaris. Untuk mengenang perjuangannya, orang-orang nasrani memperingati hari tersebut sebagai hari valentine (valentine’s day) yang sering disebut hari kasih sayang.

Yaumul Marhamah


“Al yaumu yaumul malhamah!” (Hari ini adalah hari pembantaian!)”, Demikian statement Sa’ad bin Ubadah, Pembawa bendera pasukan Anshar,  ketika melewati Abu Sofyan dalam parade militer akbar yang digelar Rasulullah untuk menaklukkan Makkah (futuh Makkah).


Kontan saja Abu Sofyan ketakutan, dia langsung meminta klarifikasi kepada Rasulullah atas statement tersebut. Rasulullah membantah statemen Saad bin Ubadah, beliau bersabda, “Al yaumu yaumul marhamah! (Hari ini adalah hari kasih saying!). Beliaupun mengambil bendera dari Saad dan menyerahkannya kepada salah seorang dari putra Saad bin Ubadah dan mengintruksikan supaya dalam penaklukkan tersebut tidak membunuh kecuali orang yang memulai peperangan.


Demikianlah Fathu Makkah telah mendapatkan predikat terbaik karena ia dideklarasikan sebagai “Hari kasih sayang (yaumul marhamah)” oleh Rasulullah SAW. Sejarahpun mencatat Fathu Makkah sebagai revolusi terdamai sepanjang sejarah kemanusiaan.

Valentine’s Day VS Yaumul Marhamah


Ada yang menarik dari dua kisah di atas, bukan hanya karena sama-sama menceritakan hari kasih sayang dan ada titik temu secara konsep antara konsep “kasih”  dalam agama Nasrani dengan konsep “rahmatan lil ‘alamin” dalam Islam., namun karena ada beberapa perbedaan di antara keduanya, apalagi jika dikaitkan dengan realitas hari ini, yaitu:


Pertama, Valentine’s day  berasal dari perjuangan menegakkan agama Nasrani sedangkan yaumul marhamah merefleksikan perjuangan agama  Islam.


Kedua, Valentine’s day yang dahulu hanya dirayakan oleh umat Narani di gereja-gereja dengan upacara keagamaan, sekarang nama yang sama diperingati dan dirayakan dengan pesta mewah dan meriah di hotel, kafe dan berbagai tempat menarik lainnya. Yang merayakannya terdiri  berbagai usia terutama generasi muda, dan berbagai penganut agama, tidak sedikit di antaranya adalah generasi muda Islam. Sedangkan yaumul marhamah, sedikit sekali Kaum muslimin, terutama generasi mudanya, yang mengetahui keberadaan yaumul marhamah apalagi memperingati potongan sejarah yang spektakuler tersebut. Ironi, memang!.


Ketiga, Valentine’s day memperlihatkan wujudnya dalam bentuk saling tukar hadiah dengan kekasih tercinta, menghabiskan hari indah bersamanya di tempat-tempat romantis, bahkan tidak sedikit yang jatuh dalam perzinahan, semuanya itu dilakukan atas nama “kasih sayang”. Sedangkan Yaumul marhamah menampakkan eksistensinya dalam bentuk tegaknya kalimah Allah, tertunduknya jiwa-jiwa di hadapan Allah, berbondong-bondongnya pemeluk Islam, tasbih, tahmid, istighfar (QS 110:1-3) dan berbagai hal yang menghimpun makna keutamaan kasih sayang. Sepertinya kisah berikut cukup menggambarkan perbedaan keduanya:


Sesudah masuk Islam di hadapan Rasulullah pada hari Futuh Makkah (Yaumul marhamah), Fadhalah kembali ke rumahnya. Di tengah perjalanan, dia melewati rumah seorang wanita yang pernah dicintainya (pacarnya), wanita itu memanggil Fadhalah dan mengajaknya bicara. Tapi dari mulut Fadhalah keluar untaian syair ini:


Dia berkata: Marilah kita ngobrol!
Tidak!, jawabku
Allah dan Islam telah melarangku
Aku baru saja melihat Muhammad
Di hari penaklukan, hari dihancurkannya semua berhala
Agama Allah itu sangat jelas dan nyata
Sedang kemusyrikan adalah kegelapan


Kinilah saatnya kita memahami makna kasih sayang sejati serta menapaki hari-hari dengan semangat yaumul marhamah, biarkan ia mengisi relung jiwa kita yang paling dalam, mengaduk-aduk emosi kita, menguasai pikiran kita dan menggerakkan keseluruhan aktivitas kita. Itulah yang menjadikan hidup kita senantiasa bermakna dan akhirnya hari-hari kita senantiasa layak disebut hari kasih sayang.



Abu Jundi el Tazieky. 

@Ustadz_Socmed


close
Banner iklan disini