Sasaran Tembak Kebajikan


Islamedia.co -  Tulisan ini beranjak dari kepedulian Penulis atas kehidupan yang berkembang di tengah masyarakat kita. Khususnya menyangkut muamalah antara lelaki dan perempuan.

Dalil-dalil syar’i, banyak memberi tuntunan di mana ada batasan yang harus ditaati para mukmin baik lelaki maupun perempuan. Keselamatan mereka terjamin, selagi menaati apa yang harus diikuti, dan meninggalkan segala bentuk larangan.

Untuk membantu mencapai tujuan demikian, sebagian kita melakukan penyelamatan baik berupa pendekatan, hingga pelaksanaan program-program formal dan non-formal. Merangkul para generasi muda agar bisa bijak dalam menyikapi cobaan hidup.

Apa yang terjadi setelahnya?

Di beberapa lini usaha kita berhasil, tapi tak mutlak, bahkan cenderung minimal. Biasanya dari dua puluh generasi muda, biasa tersaring tiga, dua, satu. Atau tidak ada yang tersaring sama sekali.

Di mana letak kesalahannya?

Tak ada yang salah. Hanya saja kita butuh manuver dari sisi lain. Fokus perlu dialihkan. Jika sebelumnya yang disasar adalah generasi bermasalah, kini kita coba menyasar ke sesuatu yang lebih mendasar, yang menjadi penentu atas perkembangan muda-mudi kita. Yakni ibu.

Banyak ungkapan familiar yang menyinggung hubungan ibu dengan anak-anaknya. Pernah dikatakan ibu sebagai perpustaakan pertama bagi anak, ibu adalah guru kehidupan, ibu adalah pelita, dan segala macamnya.

Penulis kira memang sangat tepat jika dikatakan demikian pada ibu. Misalnya ibu adalah perpustakaan pertama.

Prinsip-prinsip dasar pemikiran seorang anak, berasal dari edukasi yang diberikan seorang ibu. Baik dari teori lisan, ucapan, teladan, dan mungkin juga tulisan. Fase pembentukan prinsip berpikir inilah yang seharusnya diperhatikan.

Seperti yang Penulis bicarakan dari awal, perhatian kita bukan pada si anak. Melainkan ibu. “Perpustakaan” ini yang perlu diberikan perhatian besar.

Seyogianya seseorang dalam memilih tempat membaca. Tentulah pilihannya adalah yang menarik, nyaman, meneduhkan, serta faktor menyenangkan lainnya.

Apa “perpustakaan” remaja di lingkungan kita, meliki kondisi-kondisi demikian? Sementara faktanya, banyak “perpustakaan” itu yang terabaikan. Setiap pesan kebaikannya, tak jarang hanya menjadi angin lintas, dan terlupakan begitu saja. Nasihat seorang ibu, tak lagi senilai mutiara.

Itu dari segi kondisi. Ada hal lain lagi yang lebih menentukan, yakni dari segi isi.

Sebelumnya izinkan Penulis bercerita sedikit, untuk menguatkan penjabaran kali ini. Sekaligus memberitahukan bahwa apa yang Penulis dapatkan, tak hanya berlandaskan teori semata. Ada bukti empirisnya.

Tak berlama-lama, kita mulai saja kisahnya.

Semua bermula ketika kunjungan Penulis ke rumah salah seorang kerabat dekat. Di sana pula, cikal bakal tulisan ini digagas.

Niatnya, hanya sekedar berbasa-basi, menanyakan pekerjaan kerabat Penulis. Namun lama kelamaan—karena menarik, beralih jadi pertanyaan mengenai pendapatannya dan untuk apa digunakan.

“Biasanya tiga ratus ribu dari gajinya, diberikan kepada Ibu. Untuk membantu biaya sewa rumah. Alhamdulillah. Diberi begitu juga, Ibu sudah sangat bersyukur.”

Oh...

Kemudian tiba-tiba saja, Penulis memikirkan hal lain. Masalah rumah tangga. Secara, kerabat yang kami bicarakan, usianya sudah terbilang matang, dan dia juga seorang yang sangat hemat dalam memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga tentulah, sosok sepertinya punya tabungan kehidupan untuk masa mendatang.

“Ya, itu urusan dia. Ibu mah tidak mau ikut mengutak-atik. Walau bagaimana pun Ibu sangat membutuhkannya.”

“Alasannya?”

Nah, jawaban ini yang membuat Penulis miris.

“Kita tak pernah tahu apa yang akan menimpa kita nantinya. Bagaimana jika terjadi kecelakaan pada hubungan antar anak muda.”

Kecelakaan? Penulis awalnya kurang paham mengenai apa yang dimaksud “kecelakaan”. Sebab keluarga yang satu ini, Penulis kira adalah keluarga baik-baik.

Namun persepsi “keluarga baik-baik” itu tergoyahkan, tatkala Penulis paham bahwa yang dimaksud “kecelakaan” adalah perbuatan yang seharusnya dilakukan pasangan suami-istri, justru diterapkan oleh yang tidak berhak.

Kita yang mengetahuinya, dan paham seberapa terlaknat perbuatan itu, hanya bisa mengelus dada. Tersadar lagi, bahwa negeri kita semakin terpuruk dalam. Tinggal menunggu saja, kapan waktu teguran itu datang.

Tapi semoga saja tidak. Mumpung belum terlambat.

Nah, handai tolan. Penulis harap kita bisa memetik hikmah dari sedikit kisah ini. Menjadi bahan perbaikan diri agar tumbuh sebagai sosok yang lebih baik.

Untuk para kawan yang punya bangunan rumah tangga. Penulis berharap agar ada persiapan diri membina generasi yang baik. Mengambil tuntunan bukan sekedar dari media massa yang banyak menyesatkan.

Kita punya agama yang mengatur kehidupan manusia, dan sarat susila. Menghargai batasan-batasan dan menjaga kehormatan antara lelaki dan perempuan. Jadi mengapalah tak berpedoman pada yang nyata-nyata saja? Dengan apa yang tersirat di Quran dan Sunah, misalnya.

Pesan terakhir, untuk organisasi-organisasi perbaikan masyarakat. Penulis harap, ide ini bisa dipertimbangkan. Agar tercipta “perpustakaan” yang memang berkondisi baik, juga berisi baik.

Sehingga kawula muda, memiliki tempat yang nyaman untuk menyandarkan masalah, sekaligus tempat yang tepat peroleh solusi. Dan karenanya, perkataan seorang ibu bisa kembali menjadi sebuah mutiara indah, yang sekali keluar, tertancap kuat sampai ke dasar sanubari.


Dari Sahabatmu, 

Qalam