Pemuda Islam, Belajarlah dan Ukirlah Peradaban Gemilang


Islamedia.co -  Indonesia, negara dengan jumlah penduduk yang “melimpah”. Beban pun kian bertambah dengan ragam masalah yang mengemuka. Memang bukan suatu hal yang tersalah, tapi ianya tak bisa dianggap lumrah. Perlu kerja-kerja strategis yang teruji, dengan instruksi yang mudah diikuti. Lantas di manakah solusi bisa didapati, maka jawabnya adalah Al Qur’an dan Hadis Nabi. Inilah sebaik petunjuk dengan kisah-kisah yang menginspirasi. Bukan sebatas hasil temuan manusia yang bernama penelitian. Menyandingkan diantaranya pun tak dibenarkan, apalagi menjunjung tinggi hasil penelitian melebihi Al Qur’an dan Hadis Nabi.

Maka kata kunci selanjutnya adalah ‘generasi muda’ penerus masa depan bangsa. Mereka adalah syarat utama untuk membentuk pondasi suatu negara, Indonesia. Di mana orang-orang penting yang kini tengah memimpin, akan menuntut pengganti di kemudian hari. Lantas, siapkah generasi muda untuk memegang estafet kepemimpinan? Berjuang dan menegakan keadilan untuk rakyat Indonesia, seluruhnya dan seutuhnya? Mau tidak mau, suka tidak suka, atau bahkan siap tidak siap, mereka (generasi muda) harus bersedia. Bersiaga terhadap kemungkinan yang tidak terduga.

Ironinya, yang terjadi justru sebaliknya. Ketika Indonesia menjerit kesakitan atas pengkhianatan oknum-oknum di pemerintahan, generasi muda malah sibuk berpesta hingga larut malam. Ketika krisis ekonomi dunia mengobrak-abrik nilai rupiah, generasi muda sibuk berbelanja baran-barang serba mewah. Berselancar di dunia maya untuk umbar ‘kesenangan’, tanpa peduli nasib mereka yang butuh uluran tangan. Tentu tak masalah bagi mereka yang kaya, tapi apa jadi mereka yang serba kekurangan. Inikah keadilan yang diidamkan bangsa kita, Indonesia?

Kerusakan moral yang tengah menjangkit generasi muda, apa kira penyebabnya? Pendidikan dasar, menengah bahkan perguruan tinggi telah dijalani. Bahkan sampai jenjang maksimal yang bisa di raih. Tapi mengapa permasalahan di Indonesia tak kunjung terentaskan dengan sederert gelar yang dimiliki para generasi muda. Pasti ada hal yang luput selama ini. Sesuatu yang penting namun terlupakan. Yang membuat beda hasil generasi sebelumnya dengan generasi sekarang.

Gemilangya peradaban, itulang yang jadi ciri umat di masa sahabat (Rasul). Tapi rusaknya moral, amat identik dengan masa sekarang. Mari sejenak menilik sejarah peradaban Islam. Ajakan ini kutujukan pada generasi muda seluruhnya, tapi utamanya untuk saudaraku pemuda Islam. Kita sama-sama tahu, betapa gemar para pemuda di zaman sahabat (Rasul) mengakaji ilmu keislaman, amat kuat akhlak karimahnya terhadap sesama, terlebih pada saudara seiman. Kita tahu, betapa semangatnya mereka berlomba dalam kebaikan. Sementara kita, mungkin hanya segelintir orang saja. Betapa sibuk hari-hari mereka dengan berdzikir, tetapi kita larut dalam nyayian.

Meski hanya sekelumit sejarah peradaban Islam yang terpaparkan, kiranya cukup mewakili inti yang ingin disampaikan. Maka terjawablah sudah sebab kegagalan generasi muda zaman sekarang. Memudarnya kegemaran mengkaji nilai-nilai Islam, sehingga berimplikasi pada tenggelamnya karakter Islam pada tiap diri. Jika solusi sudah didapati, maka eksekusilah mulai sekarang. Buatlah perubahan dengan langkah kecil yang istiqomah. Hingga langkah besar yang dahsyat luar biasa. Dengan mendayagunakan segenap kemampuan yang telah Allah berikan. Untukmu pemuda Islam, belajarlah dan ukirlah sebuah peradaban gemilang. [sifa fauziah]