Beri Perhatian Khusus Soal Tragedi Chape Hill, Keluarga Korban Puji Sikap Presiden Erdogan


Islamedia.co -  Shaza Barakat, kerabat dari Deah Barakat, salah satu dari tiga mahasiswa Muslim yang tewas dalam tragedi Chape Hill mengungkapkan kegembiraannya atas sikap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang memberi perhatian pada kasus yang menewaskan dua orang anggota keluarganya, Deah dan adiknya Razan.

Sikap Erdogan, lanjut Shaza,  sangat berarti di saat negara Muslim lainnya hanya diam tidak memberikan reaksi tentang insiden itu.

"Negara Muslim belum memiliki sikap bersatu mendukung umat Islam. Sayangnya, negara-negara Muslim tidak bersatu untuk darah Muslim di Suriah atau untuk anak-anak di Gaza, Damaskus, Ghouta, Aleppo atau Homs. Tapi mereka mengirim pesawat tempur koalisi internasional untuk membunuh anak-anak,” katanya.

“Jika darah Deah mengalir ke air yang tergenang, saya harap (darahnya) menjadi cahaya di dalam kegelapan," imbuh Shaza seperti dikutip dari Anadolu Agency.

Dia mengungkapkan rasa senangnya ketika Presiden Turki Erdogan mengkritik keheningan Presiden AS Barack Obama dan pemerintahannya. Baginya, apa yang dilakukan oleh Presiden pertama Turki, yang dipilih secara langsung oleh rakyat, bukan sikap yang aneh karena ia adalah orang bebas yang tidak tunduk kepada konglomerat internasional dan membela hak-hak rakyat.

Dia juga tidak sungkan menyatakan bahwa Erdogan adalah titik terang di dunia ini.

Shaza mengungkapkan, Deah adalah warga negara Amerika yang lahir di sana dan menjadi korban rasisme karena dia Muslim.

Shaza mejelaskan bahwa wanita Muslim di AS merasa tidak aman - terutama mereka yang mengenakan jilbab – dan membuat mereka bertanya pada diri sendiri apakah mereka mungkin memiliki nasib yang sama seperti Yusor dan adiknya Razan.

Dalam kesempatan yang sama ia juga mengecam pernyataan Amerika tentang kejadian yang menggambarkan pembunuhan sebagai berasal dari sengketa parkir.

 "Mungkinkah ada seperti kasus konyol seperti membunuh seluruh anggota keluarga untuk sengketa seperti itu? Itu direncanakan, si pembunuh bersikeras melakukan pembunuhan," jabarnya.

Jika Amerika mengklaim bahwa mereka mengarah ke dunia bebas, seharusnya mereka tunduk pada hukum kemanusiaan. Seperti beberapa aksi solidaritas yang ditunjukkan kepada para korban Charlie Hebdo,  mereka juga harus melakukan hal yang sama dengan para korban Muslim. Jika pembunuh di Paris adalah teroris maka orang-orang yang membunuh anak-anak kami juga teroris, "katanya.

Shaza menyalahkan media Barat dan kebijakan luar negeri AS dan Barat yang menunjukkan Muslim dengan citra stereotip buruk. Ia mengatakan, umat Islam menjadi teroris hanya dengan standar AS.

“Seharusnya ada standar kemanusiaan yang sama dimana kita berbagi planet yang sama dan harus ada hukum kemanusiaan tunggal,” lanjutnya.
Shaza menceritakan, Deah adalah orang yang senang membantu yang tidak pernah membenci siapa saja dan mencoba untuk membantu orang melalui karirnya.

Shaza sendiri berasal dari Idlib dan bekerja di lembaga bantuan kemanusiaan sejak perang di Irak dan juga di kapal Mavi Marmara untuk mematahkan blokade Israel di Gaza. 

Setelah revolusi Suriah dimulai, dia pergi ke Turki, di mana ia bekerja sebagai guru bahasa Arab. Anaknya dibunuh oleh rezim Suriah.

Menurut Shaza, orang tua Deah adalah sepupunya yang pindah ke AS 23 tahun yang lalu. [tajuk.co/islamedia/YL]


close
Banner iklan disini