Untuk Para Ayah, Ingat Anakmu


Islamedia - Sebagai pengemban tanggung jawab nafkah keluarga, seorang ayah tentunya memiliki kuantitas waktu yang tak seberapa untuk hadir di tengah buah hatinya. Meningkatkan kualitas kebersamaan dengan anggota keluarga menjadi sebuah kemestian bila sang ayah ingin punya pengaruh pada anak-anaknya. Memberi kualitas waktu yang sedikit ini harus punya trik sendiri yang sang ayah dituntut untuk kreatif memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Saat ayah sedang di rumah dan punya waktu luang bersama anak-anaknya, ada beberapa hal yang bisa diperbuat oleh seorang ayah agar kebersamaannya membekas.

1. Mengantar/Menjemput Anak ke Sekolah atau TPA.

Sebuah kisah nyata, seorang ayah yang bekerja di luar negeri (India) suatu saat diberi kesempatan cuti pulang ke tanah air. Kesempatan cuti itu dimanfaatkan untuk mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah. Esoknya, si anak bertanya apakah sang ayah akan kembali ke India. Dengan bijak, sang ayah menjawab bahwa kepergiannya ke India untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi kemudian si anak memberi ancaman yang mengejutkan, ia tidak mau kembali ke sekolah kalau tidak mau diantar oleh ayahnya. Terenyuh dengan ancaman seperti itu, akhirnya sang ayah menelpon perusahaan tempat ia bekerja di India dan ia resign saat itu juga.

Cerita di atas bukan untuk menakut-nakuti pembaca yang bekerja di luar negeri, atau bekerja kantoran dan tak sempat mengantar anak ke sekolah. Tapi kita bisa berkaca dari kisah ini bahwa kebersamaan dengan sang ayah ke sekolah sangat berkesan di hati si anak. Aktifitas itu bisa memberikan kualitas yang sangat tinggi dalam kuantitas waktu yang tak seberapa.

Ayah yang merasa dibutuhkan oleh anak untuk mengantarnya ke sekolah seharusnya berbangga, karena berarti si anak tak malu untuk memamerkan sosok ayahnya kepada teman-temannya.

2. Menemani Anak Belajar/Mengulang Pelajaran.

Kita semua pernah kecil dan tahu bahwa belajar itu pekerjaan yang membosankan. Saat kita harus menghafal sebuah teks, kita terbebani. Menghadapi soal matematika, kita terbebani. Berbeda dengan aktifitas bermain yang tak ada beban dan selalu having fun.

Bila anak terlihat riang saat ayahnya pulang dari kantor, itu menandakan si anak merindukan ayahnya dalam detik-detik ia menjalani hari. Kerinduan itu bisa dimanfaatkan oleh sang ayah untuk membujuk si anak untuk mengulang pelajaran di sekolah atau TPA-nya. Kebersamaan dengan sang ayah bisa menjadi penyemangat si anak. Apalagi bila sang ayah merupakan sosok yang tak pelit melempar pujian. Tentu anak akan lebih semangat lagi.

3. Menemaninya Bermain dan Rekreasi

Aktifitas ini mungkin yang paling sangat berkesan bagi seorang anak, bila ayahnya berada di dekatnya menemani. Dalam keceriaan bermain dan jalan-jalan, si anak mendapati ayahnya yang sering dirindukannya di siang hari berada di dekatnya. Tak perlu penjelasan lebih dalam untuk membuktikan bahwa aktifitas ini yang paling direkomendasikan bila bersama anak.

Merujuk pada hadits yang berbunyi: “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah”, maka tempat rekreasi dan bermain yang memenuhi anjuran Rasulullah adalah kolam renang dan kebun binatang yang di situ kita bisa menyewa kuda. Tapi setidaknya tempat outbound sudah mencukupi untuk mengajarkan anak ketangkasan.

4. Menemaninya Menonton Televisi

Dari positif dan negatifnya keberadaan televisi, benda ini tetap dibutuhkan untuk hadir di tengah rumah. Didikan yang teramat ketat, tanpa memperbolehkan anak menonton televisi, akan menjadi bumerang saat anak mendapat kesempatan kebebasan menonton televisi di rumah temannya. Dari pengalaman dari orang yang pernah dididik dengan ketat seperti itu, ia akan betah berlama-lama di rumah temannya hanya untuk menonton televisi.

Yang moderat mungkin kita perbolehkan anak menonton televisi dengan aturan dan dengan ditemani orang tua. Ini untuk mendidik anak juga, agar ia bisa membedakan mana yang baik dan buruk dari dunia luar. Orang tua bisa meng-indoktrinasi anak dengan kebaikan saat anak menonton televisi.

5. Memandikannya

Punya anak balita? Mungkin balita kita sehari-hari dimandikan oleh ibunya atau pengasuhnya. Tidak ada salahnya bila kita mengambil waktu untuk "bermain air" dengan anak. Jangan terlalu serius memandikan anak. Kita perlu mencari cara lain yang tak biasa - seperti cara ibunya memandikan sehari-hari - untuk membuat keceriaan di kamar mandi.


Ada banyak cara lain yang mengasyikkan untuk memberikan kualitas yang hebat pada kuantitas pertemuan yang tak seberapa antara ayah dan anak. Yang diperlukan adalah kreatifitas dan kemauan sang ayah untuk menyingkirkan keinginannya berleha-leha di rumah. Karena menemani anak membutuhkan pengorbanan. Saat ayah letih pulang dari kantor, kadang anak meminta main kuda-kudaan. Ini memerlukan pengorbanan luar biasa. Tapi dengan jalan ini kualitas kebersamaan itu menjadi mantap.



[islamedia]