Senangkan Hati Istri, Ia Akan Menyenangkan Anda


Islamedia.co -  Menjadi istri salihah yang memiliki karakter “menyenangkan jika dipandang” akan mudah direalisasikan apabila ada peran nyata dari suami untuk mewujudkannya. Akan sangat berat dan sulit bagi istri untuk menjadi salihah dan menyenangkan suami apabila tidak ada back up yang memadai. Maka suami harus aktif dan proaktif membantu istri untuk mewujudkan karakter salihah dalam diri istri.

Ada banyak peran yang bisa dilakukan suami agar istrinya bisa tampil menyenangkan, di antaranya adalah (1) peran menyediakan sarana dan fasilitas yang diperlukan istri, dan (2) peran memberikan dukungan moril untuk istri. Pada postingan sebelumnya, saya telah menyampaikan peran yang pertama. Pada postingan kali ini, saya akan menyampaikan peran yang kedua, yaitu peran suami dalam memberikan dukungan moril untuk istri.

Peran Suami dalam Memberikan Dukungan Moril untuk Istri

Dukungan sarana dan fasilitas tentu sangat berarti dan mambahagiakan bagi istri. Namun ada dukungan lain yang lebih besar dan lebih bermakna, yaitu dukungan moril. Paling tidak, ada dua peran suami dalam memberikan dukungan moril bagi istri dalam mewujudkan karakter “menyenangkan jika dipandang”, yaitu:

1. Memberikan suasana yang selalu menyenangkan hati istri

Karakter “menyenangkan jika dipandang” tidak datang secara tiba-tiba. Pasti ada proses yang menyertainya. Istri menjadi menyenangkan jika dipandang, apabila memiliki suasana hati yang senang dan gembira. Hati yang lapang dan nyaman. Bukan hati yang ketakutan, atau hati yang tertindas oleh kekasaran sikap suami. Tidak layak suami hanya menuntut kepada istrinya agar menyenangkan, namun ia sendiri tidak memberikan suasana yang mendukung untuk itu.

Jika hati istri senang, semua pekerjaan akan dilakukan dengan ringan. Hati yang gembira akan terpancar pada penampilan yang bersinar cerah, wajah menjadi berbinar, dan jiwa menjadi bahagia. Istri akan murah senyum, senang melayani istri dan tidak mudah marah atau emosi. Suami harus memberikan suasana yang bisa menyenangkan hati istri, membahagiakan hati istri, sehingga istri akan selalu merasa bahagia bersama suami.

Jika istri merasa tertekan, merasa terancam, merasa tidak nyaman bersama suami, tentu akan mudah terbaca lewat penampilan dan raut wajahnya. Wajahnya akan cemberut, atau bahkan wajah yang ketakutan, sehingga sulit untuk tersenyum dan bernampilan cerah. Di sinilah pentingnya peran suami dalam memberikan suasana hati istri yang menyenangkan, sehingga semua aktivitas istri juga akan dilakukan dengan hati yang lapang, tenang, damai dan senang.

Istri yang menyenangkan jika dipandang, tidak bisa muncul dari perilaku ancaman, paksaan dan intimidasi.

“Kamu harus menyenangkan aku. Kalau tidak awas, aku akan menyiksa kamu”.

“Kamu harus menyenangkan aku. Kalau tidak, akau akan menceraikan kamu dan membuang kamu ke lautan”.

Ancaman, paksaan dan intimidasi, hanya akan membuat sakit hati. Tidak ada istri yang senang dengan ancaman dan paksaan. Istri akan senang apabila ada suasana yang mendukung dan nyaman yang diberikan oleh suami. Karena senang itu tidak bisa dipaksakan kehadirannya. Perasaan senang hanya akan muncul dari suasana jiwa yang kondusif.

Di antara suasana yang menyenangkan hati istri adalah sikap suami yang lembut dan hormat kepada istri. Suami tidak boleh menganggap istri sebagai budak, pelayan atau pembantu bayaran yang bisa diperlakukan dengan semena-mena. Walaupun suami adalah pemimpin dan istri wajib taat kepada suami, namun ketaatan istri bukanlah tanpa syarat. Karena ketaatan hanya bisa terjadi dalam hal-hal yang benar dan baik. Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, kesalahan dan ketidakbaikan.

Demikian pula gaya komunikasi suami yang menyenangkan istri, ini akan menjadi faktor yang menyenangkan hati istri. Sikap romantis dan penuh cinta dari suami, pasti akan sangat membahagiakan istri. Pengertian dan bantuan dari suami, juga akan sangat menyenangkan hati istri. Itulah berbagai suasana yang bisa menyenangkan hati istri, sehingga istri juga akan tampil menyenangkan jika dipandang suami.

2. Memberikan contoh teladan

Hal yang lebih penting lagi adalah contoh teladan. Suami adalah pemimpin dalam kehidupan keluarga, maka ia harus memberikan contoh teladan dalam kebaikan. Suami tidak bisa serta merta menuntut istri untuk melakukan berbagai macam hal, jika ia tidak memberikan contoh teladan. Baik teladan dalam konteks spiritual maupun dalam tindakan praktis.

Misalnya dalam hal kebaikan secara umum. Semestinya suami memberikan contoh teladan dalam berbagai sisi kebaikan agar istri mengikuti kebaikan suami. Jika suami taat beribadah akan bisa memberi teladan bagi istri sehingga iapun taat beribadah. Jika suami setia, maka istri akan setia pula. Jika suami suka membantu istri, maka istripun akan suka membantu suami. Jika suami bertutur kata lembut, maka istri akan meneladani. Jika suami bersikap tenang, maka istri juga akan tenang.

Demikian pula dalam hal yang bercorak praktis. Jika suami menghendaki istri rajin berdandan, sudah sepatutnya suamipun berdandan untuk istri. Jika suami menghendaki istri selalu harum mewangi, semestinya ia memberikan contoh teladan rajin membersihkan diri sehingga harum dan wangi di hadapan istri. Jika suami menghendaki istri patut dalam penampilan, selayaknya suami memberi contoh kepatutan dalam penampilan. Demikian seterusnya.

Tidak adil jika suami menuntut istri cantik berdandan, sementara suami bernampilan acak-acakan. Suami tidak rapi dan tidak patut dalam bernampilan. Tidak adil jika suami menuntut istri selalu harum mewangi, sementara dirinya jarang mandi dan gosok gigi. Kadang kita saksikan suami yang bau keringat dan bau tubuhnya menyengat, namun menghendaki istri selalu harum dan wangi. Tentu saja ini kondisi yang tidak sebanding dan tidak seimbang.

Tidak bisa suami menggunakan prinsip, “Lakukan apa yang aku katakan dan jangan ikuti apa yang aku lakukan”. Maunya hanya memerintah istri, namun dirinya tidak memberikan contoh teladan. Tentu ini justru menjadi hal yang sangat menyakitkan hati istri. Jika suami sudah memberikan contoh teladan dalam kebaikan, akan menyebabkan istri menjadi bersemangat untuk memberikan kepatuhan kepada suami, memberikan pelayanan terbaik kepada suami, memberikan pengorbanan dengan tulus bagi suami. Jika istri merasa terdukung secara moril , ia akan bahagia dan nyaman bersama sang suami. Jika istri bahagia, maka akan menyenangkan jika dipandang.

Demikianlah dua dukungan moril dari suami yang akan sangat membantu istri dalam mewujudkan karakter menyenangkan jika dipandang. Hendaknya para suami dengan suka rela memberikan bantuan yang diperlukan istri agar bisa menjadi istri salihah.


Cahyadi Takariawan