[Penyerangan Charlie Hebdo] Siapa Menabur Benih, Maka dia yang Menuai Hasil


Stephane Charbonnet, Pemred Charlie Hebdo yang juga kartunis penghina Nabi
Islamedia.co -  Penembakan di Prancis terhadap sebuah kantor majalah mingguan satir 'Charlie Hebdo' pada Rabu (7/1/2015) lalu mendapat kecaman dari berbagai pihak.

Namun beberapa pihak memiliki pandangan lain, mengingat track record tindakan 'Charlie Hebdo' yang menghina Nabi Muhammad dalam kartun-kartunnya.

Isi konten Charlie Hebdo, bukan hanya diprotes oleh umat islam namun kelompok Kristen Prancis saja mengecam pelecehan Charlie Hebdo terhadap Nabi Muhammad.

“Orang yang mengecam penyerangan kantor Charlie Hebdo terkadang tidak melihat akar masalah kenapa penyerangan itu bisa terjadi. Kita sudah tahu bagaimana dulu dengan arogannya Charlie Hebdo memuat kartun yang menghina nabi Muhammad namun tidak mau meminta maaf atas tindakannya tersebut,” ujar pengamat media MU Salman seperti dikutip Islampos, Kamis (8/1/2014).

Lebih lanjut mantan wartawan media Islam terkemuka ini menegaskan, dalam ajaran Islam sudah tegas bagaimana sikap Islam terhadap para penghina nabi yaitu hukuman mati.

“Kalau dalam Islam sudah tegas bagaimana para penghina Islam dihukum seperti termaktub dalam surat Al-Maidah ayat 33 yang artinya sesungguhnya balasan orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dan berbuat kerusakan di muka bumi adalah dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kakinya secara silang atau dibuang ditempat yang terpencil, ” jelas pria paruh baya ini.

Setiap ada aksi selalu ada reaksi. Penyerangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang, termasuk kartunis serta pemimpin redaksi majalah tersebut, adalah reaksi dari apa yang telah Charlie Hebdo lakukan.

“Setiap aksi selalu ada reaksi. Siapa menabur benih maka dia akan menuai hasil,” Tutup MU Salman. 

Tahun 2006, Charlie Hebdo menyerang Islam dengan mempublikasikan kembali kartun satire Jyllands-Posten, sebuah koran Denmark, tentang Nabi Muhammad. Salah satu kartun, yang memicu protes seluruh umat Islam di dunia, memperlihatkan Nabi Muhammad dengan sorban dan bom di atasnya.

"Ada ancaman konstan sejak pemuatan karikatur Nabi Muhammad diterbitkan," ujar Richard Malka, pengacara Charlie Hebdo, kepada RTL. "Kami hidup di bawah ancaman selama delapan tahun. Ada perlindungan, tapi tidak ada yang bisa dilakukan ketika orang-orang dengan Kalashnikov datang dan menembak."

Malka terguncang, tapi tidak mengatakan; "Charlie Hebdo hanya membela kebebasan berekspresi. Cukup sederhana. Para wartawan dan kartunis harus membayar mahal untuk sesuatu yang sederhana."

Tahun 2008, Pengadilan Prancis membebaskan Charlie Hebdo dari semua tuduhan menghina umat Islam lewat kartun Nabi Muhammad. Pengadilan beralasan, karikatur yang diterbitkan Charlie Hebdo bertujuan mengkritik ekstremis Islam, bukan seluruh komunitas Muslim di dunia.

Tahun 2011, Charlie Hebdo mengubah masthead untuk 'Syariah Hebdo, dan menampilkan gambar Nabi Muhammad tertawa. Akibatnya, kantor majalah berusaha dibakar, dan pemerintah mengklaim tindakan itu dilakukan Muslim fundamentalis.

Stephane "Charb" Charbonnier, pemimpin redaksi Charlie Hebdo, adalah satu satu korban serangan brutal itu. Ia juga kartunis. Bersamanya, tiga kartunis lain menemui ajalnya dalam penembakan itu.

Selama tiga tahun terakhir, Charbonnier meminta pengawalnya mendapat pengawalan. Ia seolah tahu serangan bersenjata akan terjadi kapan saja.

Situs Charlie Hebdo juga di-hack pada tahun 2011. Tampilan depannya diganti dengan foto Mekkah dan tulisan Tiada Tuhan selain Allah.

Tahun 2012, kartikatur Charlie Hebdo memicu kritik keras banyak negara Muslim, dan memaksa pemerintah Prancis bereaksi.

Yang menjadi pertanyaan apakah dengan cara itu Charlie Hebdo hidup?

Tiras Charlie Hebdo kini tinggal 30 ribu per pekan, dan baru-baru ini manajemen majalah meminta sumbangan kepada para pembaca setianya agar bisa hidup lebih lama. - See more at: http://dunia.inilah.com/read/detail/2168333/inilah-serangan-charlie-hebdo-terhadap-islam#sthash.QgHeU9p1.dpuf
Tahun 2006, Charlie Hebdo menyerang Islam dengan mempublikasikan kembali kartun satire Jyllands-Posten, sebuah koran Denmark, tentang Nabi Muhammad. Salah satu kartun, yang memicu protes seluruh umat Islam di dunia, memperlihatkan Nabi Muhammad dengan sorban dan bom di atasnya.

"Ada ancaman konstan sejak pemuatan karikatur Nabi Muhammad diterbitkan," ujar Richard Malka, pengacara Charlie Hebdo, kepada RTL. "Kami hidup di bawah ancaman selama delapan tahun. Ada perlindungan, tapi tidak ada yang bisa dilakukan ketika orang-orang dengan Kalashnikov datang dan menembak."

Malka terguncang, tapi tidak mengatakan; "Charlie Hebdo hanya membela kebebasan berekspresi. Cukup sederhana. Para wartawan dan kartunis harus membayar mahal untuk sesuatu yang sederhana."

Tahun 2008, Pengadilan Prancis membebaskan Charlie Hebdo dari semua tuduhan menghina umat Islam lewat kartun Nabi Muhammad. Pengadilan beralasan, karikatur yang diterbitkan Charlie Hebdo bertujuan mengkritik ekstremis Islam, bukan seluruh komunitas Muslim di dunia.

Tahun 2011, Charlie Hebdo mengubah masthead untuk 'Syariah Hebdo, dan menampilkan gambar Nabi Muhammad tertawa. Akibatnya, kantor majalah berusaha dibakar, dan pemerintah mengklaim tindakan itu dilakukan Muslim fundamentalis.

Stephane "Charb" Charbonnier, pemimpin redaksi Charlie Hebdo, adalah satu satu korban serangan brutal itu. Ia juga kartunis. Bersamanya, tiga kartunis lain menemui ajalnya dalam penembakan itu.

Selama tiga tahun terakhir, Charbonnier meminta pengawalnya mendapat pengawalan. Ia seolah tahu serangan bersenjata akan terjadi kapan saja.

Situs Charlie Hebdo juga di-hack pada tahun 2011. Tampilan depannya diganti dengan foto Mekkah dan tulisan Tiada Tuhan selain Allah.

Tahun 2012, kartikatur Charlie Hebdo memicu kritik keras banyak negara Muslim, dan memaksa pemerintah Prancis bereaksi.

Yang menjadi pertanyaan apakah dengan cara itu Charlie Hebdo hidup?

Tiras Charlie Hebdo kini tinggal 30 ribu per pekan, dan baru-baru ini manajemen majalah meminta sumbangan kepada para pembaca setianya agar bisa hidup lebih lama. - See more at: http://dunia.inilah.com/read/detail/2168333/inilah-serangan-charlie-hebdo-terhadap-islam#sthash.QgHeU9p1.dpuf
Inilah Catatan Serangan Charlie Hebdo terhadap Islam

Tahun 2006, Charlie Hebdo menyerang Islam dengan mempublikasikan kembali kartun satire Jyllands-Posten, sebuah koran Denmark, tentang Nabi Muhammad. Salah satu kartun, yang memicu protes seluruh umat Islam di dunia, memperlihatkan Nabi Muhammad dengan sorban dan bom di atasnya.

Tahun 2008, Pengadilan Prancis membebaskan Charlie Hebdo dari semua tuduhan menghina umat Islam lewat kartun Nabi Muhammad. Pengadilan beralasan, karikatur yang diterbitkan Charlie Hebdo bertujuan mengkritik ekstremis Islam, bukan seluruh komunitas Muslim di dunia.


Tahun 2011, Charlie Hebdo mengubah masthead untuk 'Syariah Hebdo, dan menampilkan gambar Nabi Muhammad tertawa. Akibatnya, kantor majalah berusaha dibakar, dan pemerintah mengklaim tindakan itu dilakukan Muslim fundamentalis.


Stephane "Charb" Charbonnier, pemimpin redaksi Charlie Hebdo, adalah salah satu korban serangan itu. Ia juga kartunis. Bersamanya, tiga kartunis lain menemui ajalnya dalam penembakan itu.


Tahun 2012, kartikatur Charlie Hebdo memicu kritik keras banyak negara Muslim, dan memaksa pemerintah Prancis bereaksi.


Yang menjadi pertanyaan apakah dengan cara itu Charlie Hebdo hidup?


Tiras Charlie Hebdo kini tinggal 30 ribu per pekan, dan baru-baru ini manajemen majalah meminta sumbangan kepada para pembaca setianya agar bisa hidup lebih lama. 



[islampos/inilah/Islamedia/YL]



close
Banner iklan disini