Kebijakan Baru Raja Arab Saudi dan Kelanjutan Kudeta di Mesir


Presiden Morsi ketika ke Arab Saudi disambut Pangeran Salman
Islamedia.co -  Setelah wafatnya Raja Abdullah, hari Kamis lalu dan digantikan Putera Mahkota Pangeran Salman bin Abdul Aziz. Publik dunia -terutama dunia Islam- berharap-harap cemas, kebijakan apakah yang akan dilakukan Raja ketujuh Saudi Arabia dan putera ke 25 dari anak-anak lelaki pendiri Saudi Arabi Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Faishal Al-Saud dari istrinya Hisshah binti Ahmad As-Sudairi. 

Dunia Islam menunggu-nunggu, adakah gebrakan positif yang membanggakan dunia Islam di tengah keterpurukan umat di seluruh dunia? Sebab terbukti, lemahnya Saudi Arabia berimbas pada lemahnya dukungan dunia Islam ke negeri-negeri minoritas. Malah sejak peristiwa 11/9, donasi Saudi untuk pengembangan Islam berkurang drastis. 

Ada secercah harapan positif

Pertama: Raja Salman bin Abdul Aziz, sedari kecil mendapatkan pendidikan Islam yang militan. Khatam (hafizh) Al-Qur'an di usia 10 tahun di Madrasah Syaikh Abdullah Khayyath, imam dan khatib Masjidil Haram. 

Kedua: Raja Salman bin Abdul Aziz menurut situs Asrar Arabiyyah, langsung memecat Khalid At-Tuwaijiri dari tugas kenegaraan. Khalid At-Tuwaijiri dikenal luas sebagai "amin sirri" (penjaga rahasia) raja-raja Saudi Arabia dan "orang ketiga" paling menentukan kebijakan Saudi Arabia. 

Ketiga: As-Sisi melalui media massa prokudeta, sempat mempermasalahkan pengangkatan Pangeran Salman sebagai putera mahkota. Kita menunggu, apakah Raja Salman akan melanjutkan dukungan fullpower ke pemerintahan kudeta di MEsir yang membantai ribuan anti kudeta? 

Secercah harapan itu bisa pupus, ketika memperhatikan kondisi berikut: 

1. Di usia 62 tahun saat ini, Raja Baru sudah menderita penyakit parah.
2. AS dan Israel tentu tidak akan membiarkan Saudi mandiri dalam segala kebijakannya. AS akan terus menekan Saudi, agar melanjutkan perannya sebagai partner strategis AS dan Israel di Timur Tengah. 

Oleh karena itu, harapan kepada Raja Salman adalah melakukan rekonsiliasi dengan jamaah Ikhwanul Muslimin yang cukup kuat di Saudi Arabia. Sebagai antisipasi gerakan Syiah yang makin meluas di Jazirah dan Teluk. Jika saja ini terjadi, kudeta di Mesir berakhir!



Nandang Burhanudin