Kader Otonom


Islamedia.co - Li kulli marhalatin ahdafuha, li kulli marhalatin rijaluha — Dalam setiap tahapan dakwah ada tujuan dan tokohnya masing-masing. Setiap tahapan dakwah bersifat unik dan spesifik, bukan sesuatu yang bersifat umum. Prinsip ini tidak dapat dipungkiri dalam kerja-kerja berjamaah dengan generasi yang silih berganti menjadi garda terdepan dalam perjuangan dakwah. Kader-kader dakwah bertransformasi dan melakukan mobilitas ke berbagai pusat kebijakan, membuka diri dan beraktualisasi untuk berijtihad menerjemahkan konsep dan nilai ajaran Islam menjadi kebijakan publik. Kader-kader dakwah juga melakukan mobilitas horizontal, membuka wawasan dan menyebar ke berbagai kalangan serta lapisan masyarakat, membimbing masyarakat agar siap menerima manhaj Islam sebagai tumpuan kehidupan bernegara.

Gerakan dakwah tarbiyah kini sudah memasuki orbit terakhir untuk menentukan keberhasilan perjuangan yang telah dirintis sejak puluhan tahun lalu. Pada orbit ini interaksi partai dakwah dengan publik telah dilakukan secara institusional melalui organisasi partai politik dengan doktrin al-hizb huwal jama’ah, al jam’ah hiyal hizb, bukan lagi secara individu atau parsial melalui perwajahan LSM. Dakwah harus memasuki pengelolaan negara secara penuh secara institusional. Lalu kader seperti apa yang harus jamaah dakwah ini miliki agar pengelolaan negara berjalan dengan baik?

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berjumpa dan berbincang dengan Dr. Mohamad Sohibul Iman, M. Eng. Beliau saya ketahui adalah seorang kader senior yang ikut membidani gerakan dakwah ini. Tentu banyak pengalaman membina kader yang beliau miliki. Perbincangan dimulai dengan pembahasan problematika ummat hingga menyinggung istilah kader otonom. Awalnya saya berpikir, kader otonom ini adalah kader yang dicap sebagai pembelot yang tak patuh terhadap keputusan jamaah. Namun jika dimaknai lebih dalam, istilah kader otonom merujuk kepada kondisi kader di masa depan yang diharapkan mampu membawa pengelolaan negara berdasarkan manhaj Islam.

Kader otonom erat kaitannya dengan profesionalitas. Mereka adalah kader dakwah yang telah memahami nilai-nilai Islam dan memiliki komitmen tinggi untuk mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari, memiliki kredibilitas moral, kredibilitas sosial, dan kredibilitas profesional. Pilar profesionalitas yang menjadi titik tekan bagi kader otonom, yaitu berkaitan dengan kepemilikan kompetensi, kecakapan managerial, berpikir strategis, dan berpikir terbuka. Mereka menjadi seorang profesional yang mampu menjadi ilmuwan, manager, hingga berpikir secara strategis (negarawan), mampu mengelola sumber daya yang ada di sekitarnya secara sinergi untuk kepentingan dakwah, dan memiliki kualifikasi sebagai pakar.

Kader otonom adalah mereka yang dapat berijtihad dalam otoritas dirinya dengan memahami terlebih dahulu materi tarbiyah. Kader otonom adalah mereka yang sudah mampu berpenghasilan sendiri dan tidak pernah menyusahkan jamaah. Kader otonom memang harus kritis, namun seberapapun kritisnya jangan sampai keluar dari tubuh jamaah. Biarlah kekritisan itu tumbuh di dalam dengan membuka ruang diskusi yang lebih besar di dalam internal jamaah. Kritis bukan untuk ngeyel, namun kritis untuk membuka ruang kreatif gerak langkah kader dakwah. Kritis habis, sekaligus taat bulat layaknya sikap Nabi Ibrahim AS akan menjadikan gerakan dakwah ini semakin kuat mengakar.

Kadang saya bertanya kepada diri sendiri, mengapa terlalu banyak hal yang dibebankan kepada para kader? Harus menjadi seorang profesional, ada yang menjadi politisi, tak sedikit pula yang harus memendam keberpihakannya karena ia masuk ke ranah birokrasi, hingga menjadi pakar dan ilmuwan yang menjadi rujukan ilmu-ilmu kauniy? Tak ada lagi pilihan. Jika saya membaca kembali Platform Pembangunan PKS, kita memasuki zaman dimana kompetisi ideologis menggunakan bahasa infrastuktur sosial-budaya-politik yang semakin canggih. Hanya mereka yang fasih dengan bahasa infrastruktur canggih ini yang dapat menanamkan pengaruh dan meraih kemenangan. Kita memerlukan tokoh yang siap melakukan Islamisasi kehidupan dengan mengalahkan pengaruh para kompetitornya.

Terakhir, saya ingin mengajak kepada para kader untuk terus membina, melahirkan kader-kader militan baru yang profesional. Saya sering mengatakan kepada binaan-binaan saya bila kader tanpa membina itu seperti orang mandul yang tak bisa meneruskan darahnya. Kader tanpa membina tak akan punya penerus pemikirannya. Mereka hanya akan bertahan satu generasi saja. Mari bekerja meski dalam kesunyian dalam membina dan melahirkan kader-kader baru penerus perjuangan.


Deslaknyo Wisnu Hanjagi
Kota Bogor, Jawa Barat 

close
Banner iklan disini