Israel Manfaatkan Charlie Hebdo untuk Agenda Politik


Islamedia.co -  Parlemen Perancis beberapa saat lalu mengakui Palestina sebagai Negara. Di sisi lain, imigran Yahudi asal Perancis yang ke ‘Israel’ selama 2014 lalu adalah tertinggi di banding dari Negara lain. Tiba-tiba meletus serangan ke majalah penghina Islam bersamaan penyanderaan di toko swalayan milik Yahudi. Ada apa di belakang peristiwa ini?  

Situasi keamanan di Paris ibukota Perancis berlangsung cepat dan kuat. Sejak dirilis video penyerangan kantor majalah penghina Islam Charlie Hebdo hingga pengumuman tewasnya dua bersaudara Said Kouachi dan Cherif Kouachi bersamaan dengan tewasnya penyandera sejumlah sandera di toko swalayan milik Yahudi, dunia mengecam tindakan kejahatan penyerangan ini dan memberikan simpati kepada rakyat Perancis dan kepada majalah penghina Islam ini. Dunia mengecam tindakan terorisme dan mendukung kebebasan pers dan media.

Hingga kini yang menjadi sumber utama berita ini adalah pihak keamanan Perancis. Belum jelas hendak kemanan isu ini dibawa. Menurut pengamat Palestina, Mabruk El-Hani, ada tiga unsur dalam pentas kejadian ini; unsur manusia, dua pelaku bersaudara Kouachi Perancis berdarah Aljazair dan Coulibaly warga Negara Perancis asal Afrika tertangkapnya Bumindin asal Aljazair semua Muslim berdarah non Perancis. Kedua, Charlie Hebdo adalah majalah penghina Islam, melecehkan Rasulullah melalui kartun beberapa waktu lalu. Factor waktu mungkin menjadi pertanyaan. Ketiga, toko swalayan milik Yahudi menjadi tempat penyanderaan.

Barangkali dengan ketiga unsur ini bisa menyimbulkan dan memetakan apa di balik operasi ini; terorisme Islam anti kebebasan pers dan anti Semit. Kata-kata terkakhir disinggung oleh presiden Perancis setelah selesai mengumumkan pembebasan sandera dan tewasnya kelompok teroris.

‘Israel’ juga ikut memantau kasus Charlie Hebdo dengan sangat detail. Israel sendiri belakangan tidak tertarik dengan sikap Perancis di parlemennya dan PBB yang membela hak Palestina.

Hubungan sejarah Perancis dan ‘Israel’ perlu mengaitkan masalah ini. Apalagi laporan terakhir menunjukkan imigran Yahudi ke ‘Israel’ di tahun 2014 terbanyak berasal dari Perancis di urutan pertama yang mencapai 7 ribu padahal di tahun 2013 hanya berjumlah 3500. Tahun 2015 imigran Yahudi Perancis yang akan ke ‘Israel’ diperkirakan akan mencapai 10 ribu.

Kembali ke kasus Charlie Hebdo. Tiga unsur kejadian di atas begitu kuat di kalangan ‘Israel’. PM ‘Israel’ Netenyahu sejak awal memanfaatkan kasus ini untuk menyerang Islam dan Palestina. Ia berkali-kali mengklaim, bahwa Palestina adalah kelompok teroris dan tidak ingin perdamaian. Dalam statemennya usai serangan, tujuan terorisme Islam bukan solusi konflik dan bukan perbatasan atau ‘Israel’ namun tujuan utamanya adalah membersihkan masyarakat kita dan Negara-negara kita, mencerabut peradaban kemanusiaan yang didasarkan kepada kebebasan dan akan menggantinya dengan kekuasaan otoriter fanatic.

Inilah politik media ‘Israel’ dimana mereka memanfaatkan kasus serangan ke Charlie Hebdo untuk kepentingan agenda terselubung dan politik penjajahan. Sebagian media ‘Israel’ memuat judul rasis seperti; “Ini perang nilai” “Ini penjajahan Islam” “Perancis akan kehilangan Negara mereka” “Perang antara Barbar dan peradaban” dan “11 September Perancis”.

Ternyata perisriwa Charlie Hebdo merembet jauh di luar Paris dan sekitarnya. Peristiwa serupa akan berulang di masa mendatang. (at/infopalestina.com)