PM Turki: Kebijakan Kesetaraan Gender Memicu Makin Tingginya Tingkat Bunuh Diri


Islamedia.co - Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu mengatakan kebijakan kesetaraan gender telah memicu tingkat bunuh diri lebih tinggi.
 
“Kesetaraan mekanis” dalam kesetaraan gender di negara-negara berkembang sangat ini terkait dengan bunuh diri yang lebih tinggi , “ demikian ujar Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu dalam pidatonya hari Kamis (04/12/2014).
 
“Mengapa Produk Nasional Bruto (PDB) di negara-negara yang paling maju, tingkat pertumbuhan tertinggi di satu sisi, tetapi tingkat bunuh diri juga di tertinggi di sana, khususnya di Skandinavia. Kenapa?,”tanya Davutoglu,” sebagaimana dikutip Hurriyet Daily News, Jumat (05/12/2014).
 
Davutoglu mengatakan hal ini dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan cabang perempuan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Selain itu ia juga menekankan pentingnya ibu sesuai ajaran Islam. Tak lupa ia juga menyatakan pemerintahannya sebagai “juara” tentang masalah tersebut.
 
Sebelumnya ia sempat menjelaskan tentang “kesetaraan mekanis ” sebagai sesuatu yang mulai “menghancurkan hubungan saling melengkapi dalam hidup.
 
“Itu sebabnya, karena perempuan kami memenuhi misi ilahi untuk menjaga kelestarian manusia, maka mereka memiliki hak untuk beristirahat sebelum dan setelah menjadi seorang ibu serta waktu luang untuk anak-anak mereka. Pemberian ini bukan bantuan, itu hanya membayar utang, ” tambahnya.
 
Ia juga menyinggung isu kekerasan terhadap perempuan. “Siapa pun yang menggunakan kekerasan terhadap perempuan, dia benar-benar menampilkan kelemahan dan aib sendiri,” katanya.
 
“Tidak peduli, apakah itu di jalan, apakah itu adalah di antara keluarga, bahkan oleh seorang ayah terhadap anak perempuannya dalam bentuk tamparan di wajah walau dikatakan sebagai tanda kasih sayang, tapi itu akan meninggalkan jejak yang mendalam di hati anak-anak,” kata Davutoglu.
 
Menurutnya, kekerasan terhadap wanita sebagai tindakan rasis terhadap kehormatan manusia.
“Kekerasan terhadap seorang wanita yang dianggap lemah, semua ini adalah rasis secara langsung kepada kehormatan manusia, dan untuk melawan rasis ini adalah misi bagi kita semua,” tambahnya.
Menurutnya, sejak AKP berkuasa pada 2002 lalu, telah ada kemajuan besar dalam representasi perempuan di parlemen.
 
“Mengutip fakta bahwa 14,5 persen dari anggota AKP terpilih dalam pemilihan parlemen terbaru 2011 adalah perempuan,” katanya.
 
Ia berjanji meningkatkan sekurang-kurangnya 25 persen dalam waktu singkat.
 
Turki di peringkat ke-120 dari 136 negara pada tahun 2013 dalam The Global Gender Gap Index namun turun 15 tempat sejak 2006. [hidcom/islamedia]


close
Banner iklan disini