Bukankah yang Penting Substansi, Bukan Simbol?


Islamedia.co -  Mungkin sudah menjadi sifat manusia, bahwa ia menyukai simbol-simbol sebagaimana ia ingin meraih substansi. Islam, sebagai risalah fitrah, tentunya sangat memperhatikan kecenderungan ini. Substansinya adalah, bahwa kegelapan jahiliyah dan penganutnya tidak sama dengan cahaya Islam dan penegak-penegaknya.

“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Dan tidak sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak sama (pula) yang teduh dengan yang panas!” (Fathir 19-20)

Dalam keseharian, seorang muslim harus memiliki karakter dan identitas. Bahkan juga penampilan yang berbeda dengan kaum-kaum yang terhukumi jahiliyah. Bukan karena Islam bersifat eksklusif dan elitis. Tetapi Islam adalah sistem menyeluruh yang ingin menjadikan revolusi diri para pemeluknya kaffah. Ada jaminan perlindungan, kebanggaan identitas dan keterakuan bagi yang baru memasuki. Ada ketertarikan atas keunikannya bagi orang yang terpesona.

“Baguskanlah pakaian-pakainmu, dan baguskanlah kendaraan-kendaraanmu, agar kamu menjadi (ibarat) tahi lalat di tengah-tengah manusia.” (HR Al Hakim dari Sahl ibn Ar Raba’i)

Hal-hal sepele menjadi perhatian untuk menegakkan identitas keislaman, sampai pernah Rasulullah Saw. mengubah belahan sisiran rambutnya agar berbeda dengan Yahudi dan Nasrani. Janggut seorang lelaki muslim disunnahkan untuk dirawat, sedang kumisnya dicukur, untuk membedakannya dengan pemuka Nasrani yang klimis atau Majusi yang berkumis lebat. Bahkan sampai soal warna rambut pun, ada arahan dari sang Uswah untuk pengikutnya.


“Sesungguhnya Yahudi dan Nasrani tidak menyemir rambut mereka, maka kamu harus meyelisihi mereka.” (Muttafaq ‘Alaih dari Abu Hurairah)

Kamu harus menyelisihi mereka! Ketika melihat Yahudi suka menumpuk sampah di halaman rumah, maka seorang muslim dianjurkan untuk berbeda. Bahkan perbedaan ciri sosial ini dikaitkan dengan sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Sesungguhnya Allah itu thayyib dan menyukai yang thayyib, bersih dan menyukai yang bersih, mulia dan menyukai kemuliaan, dermawan dan menyukai kedermawanan. Maka bersihkanlah rumahmu dan jangan meniru-niru orang Yahudi” (HR At Tirmidzi)

Mengapa kita harus selalu berbeda penampilan dengan orang kafir? Bukankah yang penting substansi, bukan simbol? Saudaraku, bila penampilan identik, tak ada bedanya, maka keterpautan hati lebih mudah menjangkit. Seperti dua orang dengan ciri khas budayanya yang bertemu di rantau, jadilah itu kedekatan, lalu pencampuran pola fikir dan pola tindak. Manusia itu kondisinya hanya dua, mempengaruhi dan dipengaruhi. Dan alangkah rugi, jika pola pikir kita saat menerima apa-apa yang datang dari Allah telah tercampur dengan pola fikir materialisme (kebendaan), liberalisme (kebebasan agama), atau sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan).

Kata Sayyid Quthb, di balik perbedaan zhahir selalu ada perasaan batin yang membedakan satu konsepsi dengan konsepsi lain, sistem kehidupan dengan sistem kehidupan lain, dan cirri khas suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lain. Ini bukan fanatisme tanpa makna, tetapi merupakan pandangan yang mendalam kepada apa yang ada di balik bentuk lahiriah tersebut. Setiap orang kafir, kata Ibnu Taimiyah, akan gembira jika tatacara dan seleranya diikuti. Merek akan bangga. Dan kebanggaan itu akan terbawa dalam pola pikir, konsep hidup, dan cara pandangnya terhadap segala sesuatu. Kalau itu terjadi, alangkah kasihan mereka. Karena mereka akan bangga selalu berada dalam kesesatan.

Mengapa harus berbeda, berbeda, dan berbeda? Agar orang yang telah mereguk manisnya iman tidak kembali termasuk ke dalam golongan-golongan jahiliyah yang hina hanya karena masalah-masalah sepele semacam penampilan.

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka!” (HR Abu Dawud)

Salim A. Fillah

Dari buku "Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim"

close
Banner iklan disini