SPI: Syi'ah Bukan Agama Baru dan Bukan Islam


Islamedia.co -  #IndonesiaTanpaJIL kembali menuntaskan agenda rutin perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) pada tanggal 6 Oktober 2014 di Aula INSISTS di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan. Perkuliahan ini dihadiri oleh puluhan pemuda yang aktif dalam berbagai organisasi dakwah kampus dan komunitas di wilayah Jabodetabek. 

Kuliah yang dimulai sejak pukul 19:00 WIB ini mengangkat tema "Sejarah Syi'ah". Pada pertemuan kali inim SPI menghadirkan narasumber ustadz Asep Sobari, Lc. Di awal pemaparannya, beliau mengingatkan kembali bahwa Islam adalah agama yang diridhai.

"Agama adalah petunjuk dari Allah nikmat yang tak terhingga. Islam adalah agama yang diridhai Allah sehingga tidak ada lagi peluang untuk mengutak-atik agama," ujar Asep yang juga seorang peneliti sejarah Islam di INSISTS.

Sebelum menjelaskan hakikat Syi'ah, Asep juga menjelaskan perihal Khawarij. "Ada dua kutub, yaitu Khawarij dan Syi'ah. Khawarij sepenuhnya membenci Ali ra., keluarganya, dan para sahabatnya, sedangkan Syi'ah habis-habisan mencintai Ali ra," ujar Ketua Sirah Club Indonesia (SCI) ini.

Asep kemudian menjelaskan sifat-sifat yang berbeda antara Khawarij dan Syi'ah. "Orang Khawarij berkomitmen dengan ibadahnya, keinginan menjadi orang shalih tinggi, namun Khawarij keliru mengkombinasikan Al-Qur'an dengan Sunnah. Akhirnya, kerusakan terjadi pada cara berpikirnya. Ayat-ayat Allah yang ditunjukkan untuk orang kafir malah digunakan untuk orang mukmin. Khawarij menganggap ketika ada orang yang melakukan dosa besar langsung masuk neraka," ungkap Asep.

Sementara itu, Syi'ah menganggap bahwa apa saja yang berasal dari Ali ra. hukumnya sama dengan hukum Allah. "Setiap sikap dan pemikiran yang aneh mendapatkan apresiasi di Syi'ah. Syi'ah lebih mengutamakan Ali daripada Abu Bakar, Umar, dan Utsman, dan menolak kekhilafahan Abu Bakar, Umar dan Utsman. Kemudian muncullah penyimpangan Islam pada zaman khalifah Ali bin Abi Thalib ra., yang pelakunya adalah orang Syi'ah," tutur Asep.

Orang-orang Syi'ah mengaku mencintai Nabi, padahal tidak. "Dalam paradigma Islam, mencintai Nabi itu harus, mengagumi Ali itu harus, tetapi tidak sampai menganggap Ali seorang yang ma'shum. Kita mengagumi Ali sebagai sahabat Nabi seperti kita mengagumi Abu Bakar, Umar, dan Utsman," ujar ustadz Asep. 

Sebelum menutup penjelasannya tentang Syi'ah, Asep juga menuturkan betapa ekstremnya ajaran Syi'ah yang beredar sekarang ini. "Ajaran Syi'ah pada intinya adalah ajaran klaim, karena tidak ada para sahabat yang mengakui ajaran mereka. Syi'ah yang ada sekarang adalah Syi'ah yang ekstrim, bahkan menghimpun seluruh ajaran ekstrem yang pernah ada sebelumnya," pungkas Asep.

"Kuliah malam ini membuat saya semakin penasaran dengan apa dan bagaimana Syi'ah saat ini. Saya rasa perlu ada kajian tentang Syi'ah dalam lingkungan kampus agar terhindar dari paham ini," ujar Yayah Uryanti, peserta SPI perwakilan dari KAMMI Al-Faruq. (ArifiaNatasrulli/islamedia/js)