SPI #IndonesiaTanpaJIL Mengulas Pluralisme Agama


Islamedia.co - Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL kembali menggelar perkuliahannya yang kedelapan pada hari Kamis (30/10/2014) kemarin, di Aula Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan. Perkuliahan yang dihadiri sekitar 50 orang peserta ini mengangkat tema "Pluralisme Agama", dengan Akmal Sjafril, M.Pd.I sebagai narasumbernya.

Akmal Sjafril mengawali kuliah dengan membahas fenomena di Indonesia yang menurutnya banyak mengembangkan teori pluralisme dengan teknik ‘tambal sulam'. "Banyak artikel yang telah dibuat tentang pluralisme, namun hampir tak ada yang memberikan definisi yang jelas, karena para pengusung paham ini tidak banyak yang membangun pemikirannya sendiri," ujar Akmal.

Kesulitan yang di hadapi Barat dalam memaknai kata "religion" juga menjadi bagian dari penyebab lahirnya paham pluralisme ini. "Di Barat, mereka tidak mengerti batasan agama, sehingga segalanya disebut agama, dan membuat agama baru sangat dimungkinkan. Bahkan ada agama yang tidak bertuhan atau non-theistic. Semua orang bisa membuat agamanya sendiri, karena itu dibangunlah prinsip pluralisme agama," ungkapnya.

Karena banyaknya macam definisi pluralisme di dunia, maka pluralisme ini kemudian dipahami melalui sejumlah tren. Tren-tren pluralisme tersebut adalah Humanisme Sekuler, Teologi Global, Sinkretisme, Hikmah Abadi serta Teosofi-Freemansory.

Di akhir perkuliahannya Akmal menegaskan bahwa perbedaan definisi senantiasa memperberat kompleksitas masalah dalam kajian-kajian seputar pluralisme. Pluralisme adalah paham yang menganggap semua agama sama, meski tidak identik, menurut konsep dasar dari masing-masing tren pluralisme yang dianut. (Adif/islamedia/js)