Jurnalis Perancis Curhat Larangan Jilbab


Islamedia.co -  Pekan ini seperti yang dihimpun tim Islamedia dari tribuntimur berlokasi di lima jurnalis wanita di Perancis mengunjungi Kompas Gramedia Group(19/11), guna berdiskusi mengetahui gerakan para perempuan dalam pembangunan di Indonesia.

Salah satu pembahasan menarik dan terbilang mengejutkan adalah mengenai gaya berbusana perempuan muslim di Perancis. Ternyata, menurut para jurnalis yang berasal dari kapital mode tersebut, mengatakan bahwa ada larangan mengenakan atribut keagamaan, tak terkecuali hijab dan kerudung.

Kondisi tersebut tentu sangat jauh berbeda dengan kondisi Indonesia. Sebab, tren hijab di Tanah Air terus berkembang dan kaya dengan inovasi busana yang penuh daya pikat. Hal ini tak hanya diakui oleh para hijabers dalam negeri saja, tapi juga dari para hijabers mancanegara.

Karima Peyronie, seorang jurnalis yang bekerja di sebuah majalah muslimah Perancis, Magazine Gazelle, mengisahkan bahwa menjadi seorang perempuan islam di Perancis bukan hal yang mudah. Sebab, tentu saja karena aturan yang melarang mengenakan hijab di tempat-tempat umum.

Namun, kenyataan aturan tersebut tak hanya berlaku di ranah publik saja, tapi juga dibatasi di lingkungan rumah sendiri.

Karima menceritakan, ibu rumah tangga muslim di Perancis tak diperbolehkan menjemput anaknya di sekolah atau ikut dalam pertemuan orang tua anak di sekolah, jika mengenakan hijab.

Lebih parah, Karima mengatakan bahwa perawat bayi atau anak di rumahnya sendiri akan melepas hijab, apabila orang tua anak asuhnya memintanya untuk tak memakai hijab.

Julie Dungelhoff, jurnalis perempuan dari stasiun televisi France 24 menambahkan, aturan yang menurutnya paling tak masuk akal adalah saat pemerintah Perancis melarang hijab bagi para turis. Pernah ada suatu kejadian di mana seorang turis asal Dubai menggenakan hijab dan memasuki suatu objek pariwisata. Tiba-tiba, petugas keamanan di objek wisata tersebut memintanya untuk keluar apabila masih menggenakan hijab.

Karima mengatakan bahwa peraturan tersebut, perempuan di Perancis banyak yang merasakan penolakan.

“Ada sisi perempuan muslim di Perancis dapat menerima hal tersebut. Sebab, sedari awal Perancis memang bukan negara agama. Namun, ada saat mereka (perempuan muslim) tak dapat menerima hal tersebut," ujar Karima.

Akhirnya, Karima menjelaskan rasa penolakan yang dirasakan oleh perempuan muslim ini, membuat sebagaian perempuan muslim mengisolasikan diri dan pindah ke pinggir daerah suburban, atau pinggiran kota. Perempuan-perempuan ini memberontak tak mau bersekolah dan berkumpul dalam satu komunitas.

"Gawatnya dengan berkumpul dalam satu lingkungan dan mengisolasi diri dari lingkungan luar, akhinya perempuan-perempuan ini mencuci otak sendiri. Mereka akhirnya pergi ke Suriah bergabung bersama ISIS," jelasnya Karima.

Meskipun kasus tersebut terbilang sedikit, tapi tentunya sangat mengkhawatirkan. Julie menambahkan, sebenarnya bukan hanya kaum muslim yang menjadi minoritas di Perancis, beberapa etnis dari Afrika yang datang pada abad pertengahan sampai sekarang pun masih kesulitan sulitnya berbaur untuk di terima dengan baik di negara yang popular dengan sebutan kiblat mode dunia tersebut.[munawir/islamedia]