Sebuah Catatan Kerinduan


Islamedia.co - Betapa bahagianya Ka'ab bin Malik ketika "sangsi" untuknya telah berakhir sudah. Ka'ab dihukum tersebab tanpa alasan syar'i tidak menyertai Rasulullaah SAW dalam peperangan dahsyat melawan Romawi di Tabuk. Rasulullaah SAW melarang sesiapapun untuk berbicara dengannya.

Mari kita bayangkan bagaimana perih dan pedihnya, apabila sahabat, saudara, keluarga dan orang-orang yang kita cintai membuang muka saat kita bermanis senyum kepadanya atau pergi menjauh di kala kita ingin sekedar bercengkrama dengannya.

"Aku keluar untuk shalat jamaah dan keluar masuk pasar..." kata Ka'ab bin Malik sedih saat menceritakan kisahnya. "Meski tidak seorang pun yang mau berbicara denganku atau menanggapi bicaraku. Aku juga datang ke majlis Rasullah saw. sesudah beliau shalat. Aku mengucapkan salam kepada beliau, sembari hati kecilku bertanya-tanya memperhatikan bibir beliau, “Apakah beliau menggerakkan bibirnya menjawab salamku atau tidak?” Aku juga shalat dekat sekali dengan beliau. Aku mencuri pandang melihat pandangan beliau. Kalau aku bangkit mau shalat, ia melihat kepadaku. Namun, apabila aku melihat kepadanya, ia palingkan mukanya cepat-cepat."

Betapa rindunya Ka'ab bin Malik... Betapa inginnya menatap wajah guru yg dicintainya, Rasulullaah SAW...

Saat hukuman 50 hari itu berakhir, terdengar teriakan dari salah seorang sahabatnya. "Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah! Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!”

Mendengarkan itu, seketika itu juga menyungkurkan tubuhnya ke tanah, bersujud syukur kepada Allah SWT. Ia yakin hukumannya telah usai dan selesai. Dan benarlah feeling yang ia rasakan, ia telah diampuni Allah SWT dan telah dimaafkan oleh Rasulullaah SAW.

Berlomba-lombalah orang mendatanginya, hendak menceritakan berita germbira itu. Ada yang datang dengan berkuda, ada pula yang datang dengan berlari dari jauh mendahului yang berkuda. Sesudah keduanya sampai di hadapannya, Ka'ab-pun memberikan kepada dua orang itu kedua pakaian yang ia miliki.

Setelah itu, ia beranjak untuk mendatangi orang yang paling dicintainya, Rasulullaah SAW. Sesampainya di sana, beberapa orang menyambutnya dan memeluknya dengan hangat. Kebahagiaanya semakin memuncak ketika, Rasulullaah SAW sambil tersenyum bersabda, "Bergembiralah kau atas hari ini! Inilah hari yang paling baik bagimu sejak kau dilahirkan oleh ibumu." Air matanya mengalir syahdu, bercucuran membasahi pipi.

Jadi kawan, bagaimana ekspresi kerinduanmu saat bertemu dengan saudara yg kau cintai karna Allah? Bagaimana luapan cinta engkau ekspresikan kepada guru/ustadz/murabbi ketika sudah tak lama engkau bersua dengannya? Apakah meluap-luap dan membuncah seperti Ka'ab bin Malik? ataukah lempeng-lempeng dan biasa saja?

Faisal
 
Aktivis KSP (Kelompok Studi Palestina)


close
Banner iklan disini