Memprihatinkan, Pengungsi Palestina Sudah 5 Generasi


Islamedia.co - Salah satu dampak penjajahan Zionis atas Palestina adalah terusirnya sebagian besar warga Palestina dari kampung halaman mereka. Tragedi kemanusiaan ini mengguratkan luka dan derita sebagai bangsa terjajah.  

Menurut data Biro Pusat Statistik Palestina tahun 2012, dari 11,5 juta jumlah keseluruhan bangsa Palestina sekitar 6,8 juta diantaranya bernasib sebagai pengungsi. Jumlah ini termasuk warga Palestina yang berada di dalam dan luar Palestina. Ini artinya hampir 67% warga pengungsi Palestina bernasib sebagai pengungsi. Mereka tersebar di Gaza dan Tepi Barat atau wilayah Palestina terjajah, dan di segala penjuru bumi. Jumlah ini adalah yang terbanyak dari jumlah pengungsi yang ada di dunia, juga pengungsi ini yang paling lama mengungsi dan terusir dari kampung halamannya.

Inilah yang menjadi salah satu program misi kemanusiaan Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) dalam memberikan bantuannya kepada para pengungsi Palestina, yang masih dalam rangkaian program “Humanitarian Aid For Palestine 2014”. Demikian disampaikan Sekretaris Umum KNRP Heri Efendi, di Tyr Libanon, Jum’at (17/10).

Heri melanjutkan, dan dari mereka juga banyak yang berstatus pengungsi yang mengungsi, seperti contoh pengungsi Palestina di Suriah. Ketika Suriah bergejolak, para pengungsi pun harus menempati negeri yang aman untuk sekedar bertahan hidup, seperti ke Yordania dan Libanon, “Jumlah pengungsi yang ada di Libanon sendiri berjumlah 450ribu jiwa, sekitar 50ribunya adalah pengungsi dari Suriah, yang kondisinya sangat memprihatinkan,” ungkapnya. 

Awal dari banyaknya gelombang pengungsi Palestina itu bermula tahun 1948, penjajah zionis yahudi melakukan sejumlah pembantaian di beberapa kota di Palestina, atau yang dikenal dengan peristiwa Nakbah, sekitar 800ribu rakyat Palestina menjadi pengungsi, ke wilayah-wilayah yang berbatasan dengan wilayah kampung halaman mereka.

Yang berbatasan dengan Palestina Utara, para pengungsi menuju Libanon, termasuk ke Suriah, sementara untuk Palestina bagian Tengah, yang didalamnya ada kota Al Quds, para pengungsi menuju Yordania, dan gelombang besar pengungsi terjadi pada sekitar tahun 1967.

“Hingga saat ini, mereka masih terus berada di pengungsian, dari tahun 1948 sampai 1967, bahkan sudah 3 (tiga) sampai 5 (lima) generasi pengungsi yang tersebar di wilayah Libanon, Suriah, Yordania dan negara lainnya,” imbuh Heri yang juga alumnus Universitas Al Azhar, Kairo Mesir.

Kini di sejumlah negara, pengungsi Palestina mendapat perlakuan yang berbeda-beda, ada yang disetarakan dengan warga negara dimana tempat mereka mengungsi, dan tidak sedikit dari mereka yang menderita, “Sampai tidak bisa mendapatkan hak untuk memiliki apapun dan hak bekerja meskipun pengungsi tersebut memiliki kapasitas yang mumpuni, kecuali pekerjaan-pekerjaan yang rendah atau kasar,” pungkas Heri.

Dalam misi kemanusiaan kali ini, selain KNRP yang diwakili relawan KNRP Pusat, KNRP Wilayah Sumatera Utara, KNRP Jawa Barat, juga turut serta Adara Relief International, PB Mathla’ul Anwar dan Rumah Zakat. Rencananya rombongan relawan ini akan menemui pengungsi di Libanon sekitar 3 (tiga) hari kedepan, dan selanjutnya akan beranjak ke pengungsi Palestina di Yordania. (knrp/islamedia/js)


Kontak :
Sekretaris Umum KNRP – Heri Efendi, Lc | 081381638843 (WA)
Biro Humas KNRP – Zakaria M. Alif | 08161191182 (WA)