Untuk Orang Tua, Fokus Pada Kebaikan Anak


Islamedia.co -  Pernahkah kita menghadapi susana dalam lingkungan kerja, sekolah, atau masyarakat yang selalu menuntut kesempurnaan? Lebih sering fokus pada kesalahan yang kita lakukan tanpa pernah menyebut kebaikan kita? Begitu detail perhatiannya pada kesalahan yang kecil, bahkan selalu mencari kesalahan dari setiap kebaikan yang anda lakukan? Apa yang sering terjadi dalam suasana ketidaknyamanan ini? Saya rasa kita akan menjadi bingung bersikap, tidak tau harus seperti apa, dan akhirnya lebih banyak melakukan kesalahan.

Penting sekali membangun sikap positif dalam dunia pengasuhan anak. Jika ada sebuah gelas berisi setengah gelas air. Orang tua yang mengembangkan sikap positif dalam pengasuhan anak akan melihat gelas tersebut sebagai setengah isi. Sementara sebaliknya, akan melihatnya sebagai gelas yang setengah kosong. Penting sekali menyebut kebaikan anak saat mereka melakukan kebaikan seperti yang kita harapkan, karena dengannya mereka tahu mereka harus bersikap seperti apa. Sementara jika apresiasi yang kita sampaikan hanya pada saat mereka melakukan kesalahan, mereka hanya akan menjauh dari kita untuk menghindari komentar-komentar negatif kita.

Menjaga hubungan baik antara anak dan orang tua adalah investasi yang sangat berharga. Bisa jadi kesalahan yang saat ini dilakukan bukanlah kesalahan yang esensial dalam hidup seorang anak. Namun pilihan kalimat yang salah dalam berkomunikasi semakin memperenggang jarak orang tua dengan anak. Hal ini akan sangat merugi di masa yang akan datang, saat dimana kita benar-benar meminta mereka untuk mendengar pesan penting kita. Jika pola asuh di masa kecil lebih banyak dibangun dengan kritikan dan teguran, maka wajar jika saat usia remaja mereka menjauh dan tidak menjadikan kita sebagai teman berbagi cerita. Padahal masa-masa remaja adalah masa yang sangat penting bagi kita untuk terus membimbing mereka secara intens. Jika mereka tidak merasa nyaman untuk dapat bercerita dengan kita, mereka akan mencari tempat lain untuk berbagi cerita yang belum tentu dapat mengarahkan anak-anak kita menuju jalan kebaikan.

Sebagian besar orang tua memilih untuk tidak berkomentar positif saat anak melakukan kebaikan karena merasa hal tersebut sudah sewajarnya dilakukan. Padahal dalam tahapan anak masih mempelajari tetntang sebab akibat dan konsep baik buruk, bentuk apresiasi menjadi penegasan bahwa sikap tersebut adalah sikap yang diharapkan muncul dari seorang anak. Tangkaplah sebanyak-banyaknya hal positif yang dilakukan anak kita. Apresiasilah setiap peningkatanyya walau hanya sedikit. Apapun kesalahan yang mereka lakukan tidak akan mengurangi rasa cinta kita terhadap anak-anak. Mendisiplikan anak adalah wujud dari rasa cinta kita terhadap mereka. Mendisiplinkan anak bukanlah sebuah deklarasi kekuasaan orang tua. Mendisiplinkan anak adalah mengajarkan mereka tentang batasan sebuah perilaku, maka lakukanlah dengan penuh cinta dengan cara yang bijaksana.

Ingatlah bahwa tidak ada satupun manusia yang luput dari kesalahan, maka berilah ruang dalam hati kita untuk menerima kesalahan anak. Semoga keikhlasan kita untuk memberi ruang kesalahan pada anak, menjadikan hubungan kita lebih harmonis sebagai sarana yang sehat dalam proses saling menasihati. Janganlah kesalahan yang kecil menghapus pandangan kita terhadap kebaikan-kebaikan yang ada dalam diri anak sebagaimana Rasullah SWT bersabda:  


“Tidak ada seorang pun yang selamat dari kesalahan, dan tidaklah sepatutnya (kita) melenyapkan kebaikan-kebaikan seseorang karena suatu kesalahan. Sebagaimana halnya air, apabila telah mencapai dua kulah, maka air itu tidaklah mengandung kotoran.” (ini lafazh riwayat hadits Ad Darimi, 737-738; ad Daruquthni, I21-22).

Kiki Barkiah

FB:https://www.facebook.com/kiki.barkiah
Ketua Yayasan Al Kindi Batam
Komunitas homeschooling | Rumah Tahfidz | Day care