"The Worldview of Islam" Tema Sekolah Pemikiran Islam #ITJ


Islamedia.co -  “The Worldview of Islam” menjadi tema pertemuan kedua Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL pada hari Kamis, (18/9/2014). Bertempat di Aula Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) yang terletak di daerah Kalibata, Jakarta Selatan, perkuliahan ini dihadiri oleh sekitar 60 orang peserta yang berasal dari berbagai elemen organisasi Lembaga Dakwah Kampus dan juga anggota komunitas #IndonesiaTanpaJIL. Yang menjadi narasumber pada pertemuan kali ini adalah Akmal Sjafril, M.Pd.I., seorang peneliti muda INSISTS yang dikenal aktif dalam menentang pemikiran-pemikiran Islam liberal.

Mengawali kuliahnya, Akmal menjelaskan tentang sebentuk kekeliruan yang kerap terjadi saat ini. Ada sebagian orang, misalnya, menganggap bahwa masyarakat di Jepang lebih Islami daripada masyarakat negara-negara yang penduduknya mayoritas Muslim seperti Indonesia, dengan alasan mereka lebih disiplin, tertib dan seterusnya. Menurutnya, sedisiplin dan setertib apapun masyarakat Jepang, jika mereka kafir, maka tidak bisa disebut Islami. Segala sesuatu yang tidak dilakukan karena Allah tidak lantas disebut Islami, meskipun yang dilakukan itu secara teknis sesuai dengan ajaran Islam. The Worldview of Islam adalah pandangan hidup Islam yang hanya bisa dilakukan dan dipahami sepenuhnya oleh seorang Muslim. Oleh karena itu, sangat keliru jika seorang Muslim belajar Islam kepada orang kafir. Jika orang kafir tersebut benar-benar paham tentang Islam, pastilah mereka akan memeluk Islam.

“Luar biasa, saya baru menyadari bahwa selama ini Muslim di Indonesia kebanyakan tidak Islam-oriented. Artinya, telah terjadi kemunduran yang sangat jauh dibandingkan dengan generasi-generasi muslim terdahulu. Saya rasa semua muslim harus paham the worldview of Islam. Dengannya, virus Sepilis (sekularisme, pluralisme dan liberalisme – pen.) cuma ‘numpang lewat’ saja,” begitu komentar Anila, peserta SPI asal ITJ Jakarta.

“Bahasan dalam kuliah kali ini benar-benar membuka mata kita tentang bagaimana prinsip dasar seorang Muslim untuk berperilaku. Begitu pentingnya mengetahui adab dan ilmu dalam cara perspektif Islam, membuat kita mudah memahami pentingnya berakhlak yang bukan cuma baik, tapi juga benar. Semoga pertanyaan-pertanyaan tadi bisa dijawab dengan lebih rinci di perkuliahan berikutnya,” ujar Ajeng, aktivis ITJ Bekasi. 

Perkuliahan di SPI ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari para peserta. Hal ini terlihat dari antusiasme peserta saat kuliah berlangsung dan juga komentar-komentar setelah perkuliahan selesai. 

“Another awesomeness today! Jadi tahu batasan sampai sejauh mana kita harus open mind terhadap pandangan-pandangan yang berseberangan dengan nilai Islam,” seru Susi Susanti, peserta asal ITJ Bogor ketika ditanyai pendapatnya tentang perkuliahan kali ini. (AdiZulfikar/islamedia/ds)






close
Banner iklan disini