Tertawa Sejenak Ala Pak Cah


Islamedia.co - Awal tahun 2000, saya masih “menjabat” sebagai Wakil Ketua DPW Partai Keadilan (PK) D.I. Yogyakarta. Saat itu Ketua DPW PK DIY adalah pak Cholid Mahmud. Sebagai Wakil Ketua yang bertanggung jawab atas berbagai urusan internal, saya bermarkas di Kantor DPW Timoho. Setiap hari saya mengantor bersama Sigit dan beberapa ikhwah, bahkan tidak jarang bermalam di Kantor DPW. Saya bahkan sempat punya springbed yang ditempatkan di salah satu ruangan kantor DPW.

Salah satu yang sangat kita kembangkan waktu itu –sampai akhirnya sempat menjadi legenda—adalah Tarbiyah Tsaqafiyah yang lazim disingkat TTS. Kita membuat sendiri sistem manajemen TTS model DPW PK DIY. Sangat serius. Bahkan DPP pun waktu itu belum memberikan panduan perangkat manajemennya, namun kita di DIY sudah memiliki dan menerapkan. Sejak dari konsep tertulis, hingga aplikasinya.

Di antara kegiatan yang kita lakukan untuk memulai Tarbiyah Tsaqafiyah adalah Placement Test, untuk menentukan setiap kader akan dimasukkan “kelas” berapa. Seluruh kader berkumpul di kantor DPW, dan mengerjakan soal-soal dalam Placement Test. Tentu saja, kader waktu itu belum sebanyak sekarang.

Selasa, 27 September 2011, saya tengah membuka-buka arsip lama di komputer, ternyata menemukan catatan harian yang belum pernah saya publikasikan selama ini. Saya merasa sayang kalau catatan ini hilang atau terbuang begitu saja, maka sekarang saya coba publikasikan untuk mengingat kembali peristiwa jadul itu.

Semoga ada manfaatnya untuk nostalgia. Berikut ini catatan harian tersebut.

AWET MUDA LEWAT TARBIYAH TSAQAFIYAH

Tarbiyah Tsaqafiyah memiliki banyak urgensi, salah satunya adalah membuat awet muda. Buktinya ? Pada Placement Test 23 Januari 2000 yang baru lalu, banyak jawaban pertanyaan yang membuat awet muda.

Saya lagi mengkonsep SK nomor 03 tatkala hasil ujian tersebut dikoreksi di kantor DPW, hari Ahad 23 Januari 2000 mulai jam 14.00 wib. Saya demikian terganggu oleh tim korektor, karena sebentar-sebentar terdengar suara tertawa yang kompak dari mereka. Saya menjadi penasaran dan akhirnya bergabung bersama mereka yang tengah asyik mengkoreksi hasil ujian. Rupanya inilah biangnya, yang membuat mereka tak bisa menahan geli.

Anda mengerti macam-macam Nifaq ? Nah, ternyata ikhwah memang kreatif. Macam-macam Nifaq menjadi banyak sekali variasi jawabannya. Perhatikan jawaban beberapa peserta Placement Test untuk pertanyaan tersebut:

1. Nifaq ada dua, yaitu Nifaq Dzimmi dan Nifaq Harbi (peserta dari DPD Kota Jogja)

2. Nifaq ada dua, yaitu setelah haidh dan setelah melahirkan (peserta dari DPD Sleman)

3. Nifaq ada dua, yaitu darah haidh dan darah persalinan (peserta dari DPD Sleman)

4. Nifaq ada dua, yaitu zakat dan shadaqah (peserta dari DPD Sleman)

Kita tahu ikhwah Yogya memang pandai plesetan, sampai akhirnya kepleset betulan. Mungkin jika ditanyakan kepada mereka, apakah Nifas itu, mereka akan menjawab: Nifas I'tiqadi dan Nifas Amali. Atau jika ditanyakan kepada mereka, ada berapa macam Infaq, bisa jadi akan dijawab: Infaq ada dua macam, yaitu Infaq I'tiqadi dan Infaq Amali. Dasar anak Yogya. Coba, bagaimana kita tidak awet muda !

Anda tahu siapakah Munafik Amali ? Perhatikan jawaban seorang peserta ini. "Munafik amal yaitu orang yang suka jlang-jlong dalam beramal" (peserta dari DPD Sleman). Bisakah anda membantu tim korektor untuk mencari arti kata "jlang-jlong" dalam Kamus Bahasa Indonesia? Mungkin malah dari bahasa Arab, dengan wazan "jlang-jlanga, yujlang-jlingu, jlang-jlong"! Saya jadi kepikiran untuk memasukkan mata kuliah bahasa Indonesia dalam kurikulum Tarbiyah Tsaqafiyah.

Tahukah anda apa syarat-syarat seorang Mufasir ? Saya kira anda perlu tahu. Perhatikan syarat Mufasir versi jawaban peserta Placement Test dari DPD Sleman berikut. (1) Dalam perjalanan (2) Tidak ada tempat tinggal (3) Beragama Islam.

Seorang peserta menambahkan dua persyaratan lagi, yaitu (1) Fi sabilillah (2) Keluar dari rumah.

Mungkin ia berpikir, tafsir akan lebih bersifat realistis apabila ditulis dalam perjalanan. Rupa-rupanya memang budaya plesetan ikhwah cukup kuat. Jika ditanyakan apakah syarat Musafir, mungkin akan dijawab dengan: memahami kaidah bahasa Arab, menguasai Ulumul Qur'an dan seterusnya. Lah, kapan perginya kalau syarat musafir kayak begitu.

Anda tentu mengenal Arkanul Bai'ah. Coba perhatikan jawaban peserta placement Test berikut. Arkanul bai'ah : (1) ada yang dibai'ahi (2) ada yang berbai'ah (3) ada tema bai'ah (4) ada isi bai'ah. Temannya yang lain menjawab arkanul bai'ah sebagai berikut: "Yubayyiukum 'ala sam'i wat tha'ati ...". Yo ora opo-opo.... Karo konco dewe kok...

Belum lagi tambahan bid'ah dalam arkanul bai'ah. Di antara tambahan yang paling banyak disebut adalah at tadaruj. Selain itu: al istiqomah, al iman, as shabru, at taqwa, at tawakal, ad da'wah, al ilmu, bahkan ada yang at tabaruj! Masya Allah. Masih banyak ikhwah yang kesulitan untuk membedakan nama-nama masjid dengan poin arkanul bai'ah.

Jawaban dari pertanyaan esai nomor 9 juga beragam. "Dalam keadaan shalat saya baru tahu kalau rukuh saya terkena najis", demikian bunyi pernyataannya. Berikut jawaban penyelesaian dari peserta Placement Test:

1. Saya belum pernah shalat pakai rukuh (peserta dari DPD Gunung Kidul)

2. Kok ingat-ingatnya, berarti tidak khusyu' (peserta dari DPD Kota Jogja)

"Ketika mendengar khutbah Jum'at saya tertidur dalam posisi duduk sampai khutbah selesai, kemudian dibangunkan untuk shalat Jum'at", demikian pernyataan esai nomor 10. Berikut jawaban peserta test: "Wong Jum'atan kok tidur…" (DPD Gunung Kidul). Sederhana ya, jawabannya.

Yang lain, untuk menjawab soal nomor 10 tersebut memberikan kaidah sebagai berikut: "Apabila mata tertutup maka dubur terbuka, dan apabila mata terbuka maka dubur tertutup" (DPD Sleman). Saya tidak tahu, apakah kaidah itu diambil dari pengalaman pribadinya atau pengalaman pribadi murabinya.

Mungkin anda baru kali ini mendengar ada kitab tafsir bernama Tafsir Jaelani. Sedangkan tafsir Jalalain ternyata ditulis oleh Jalal Bersaudara (DPD Sleman), jadi kira-kira temannya Panjaitan Bersaudara (Panbers) atau Koes Bersaudara (Koesbers).

Anda pernah mendengar nama-nama peperangan yang terjadi di zaman Nabi ? Jangan lupa, perhatikan jawaban peserta Placement Test atas pertanyaan check poin nomor 26 berikut: Perang Bi'tsah, Perang Amul Huzni, Perang Jarras dan Perang Liwa'ul Ulya. Tolonglah bantu tim korektor untuk mencarikan kitab Sirah Nabawiyah yang menceritakan adanya perang-perang tersebut.

Ada sekitar 21 orang peserta memilih Perang Bi'tsah, sekitar 15 orang memilih Perang Amul Huzni, 4 orang memilih Perang Jarras, dan 2 orang memilih Perang Liwa'ul Ulya. Ustadznya siapa ya? Yak opo kon iku cak, perang kok perang Bi'tsah…. Perang Jarras itu yang mana sih?

Mungkin soal-soal dalam Placement Test kemarin memang sulit, kendati sederhana. Sehingga, untuk mempercepat dalam menjawab, seorang peserta dari DPD Kota Jogja menjawab soal-soal esai mulai nomor 2 sebagai berikut:

2. dst
3. dst
4. dst

Lalu ia menuliskan di bagian bawah lembar jawaban: "Pilih kelas I saja !" Nah, simpel kalau sudah begini. Tidak memusingkan tim korektor.

Saya juga menghimbau bagi anda yang terbiasa khutbah Jum'at, jangan mengutip hadits yang diharakati oleh seorang peserta test dari DPD Sleman sehingga bunyinya menjadi sebagai berikut: Ataqullaha haitsuma kanata wa ataba'al hasanatas sayi'ata tamahaha wa khalaqannasi bikhalaqi husni. Percayalah, dengan bunyi seperti itu telah mengubah hadits shahih menjadi hadits palsu! (Timoho, 23 Januari 2000)

Cahyadi Takariawan