Perdana Mentri Israel Netanyahu Sembunyi dan Matikan Teleponnya


Islamedia.co - Kabinet tebatas pimpinan Nenyahu mengatakan, perdana menterinya bersembunyi dan mematikan telponnya, beberapa saat sebelum berakhirnya gencatan senjata 72 jam kemarin (14/8).
Koran Yedeot Aharont mengatakan, beberapa saat sebelum berakhrinya masa gencatan senjata selama 72 jam tadi malam, Netanyahu menghilang dan mematikan telepon gengamnya. Kami tidak tahu apa yang terjadi.

Sebelumnya, kabinet terbatas bidang keamanan Zionis mengumumkan, perdana menteri Benyamin Netanyahu sedang menghimpun semua informasi terkait hasil perundingan di Kairo.

Berdasarkan pantauan di Kabinet, Netanyahu belum mengetahui apapun terkait dengan perundingan terutama masalah gencatan senjata.

Ada Peluang Gencatan Senjata Riil Kalau 'Israel' Tak Permainkan Kata-kata
Sementara itu, anggota Biro politik Hamas, Khalil Hayyah menegaskan, ada kemajuan dalam perundingan antara perlawanan Palestina dan 'Israel' dengan mediasi Mesir dimana ada peluang untuk menyepakati gencatan senjata permanen jika 'Israel' tidak mempermainkan kata-kata.

“Kebiasaan 'Israel' adalah mempermainkan kata-kata dan mengulur-ulur namun kami tidak akan menandatangani kesepakatan yang tidak sesuai dengan aspirasi rakyat Palestina padahal kami memiliki fleksibelitas yang cukup untuk menyepakati.” Tegas Hayyah.

Dalam konferensi persnya saat tiba di Rafah dari Mesir untuk musyawarah di Gaza hari ini Kamis (14/8) Al-Hayyah menandaskan, “Kami sudah masuk dalam perundingan selama 13 hari. Utusan kami bersatu dalam memperjuangkan tuntutan Palestina dan kami buat perundingan serius namun kami tetap komitmen agar 'Israel' membayar hak-hak kami.”

Ia menambahkan, “Kami sudah bahas semua masalah di meja perundingan. Namun 'Israel' mempermainkan kata-kata dan bisa saya katakan “kami mampu meneken kesepakatan kalau kita berikan kesempatan baru untuk gencatan senjata kemarin agar terus ada pembicaraan dan untuk menekan 'Israel' dan memaksanya agar komitmen dengan tuntutan kami.”

Terkait dengan tuntutan pengoperasian bandara dan pelabuhan, Al-Hayyah menegaskan, bandara sudah ada dan dihancurkan oleh 'Israel' dan terkait pelabuhan ada protokoler yang sudah diteken sebelumnya dengan otoritas Palestina dan kami tegaskan ini tuntutan dan hak alami dan normal yang direnggut oleh 'Israel' dan kami ingin mengembalikannya.

Soal perlintasan Rafah, itu urusan Palestina dan Mesir murni tidak ada intervensi 'Israel' di sana, namun dipahami dari Mesir, mereka akan memberikan kemudahan di perlintasan sesuai dengan tuntutan paling ringan rakyat Palestina.

Selanjutnya, Al-Hayyah menegaskan, “Kami mampu melakukan perlawanan kembali dengan lebih keras dan sengit. Mesir juga sudah berusaha keras memenuhi tuntutan kami. Selain kami ingin jamnan Mesir kami juga ingin ada jaminan lainnya.”

Al-Hayyah menegaskan, “Perundingan Palestina pergi ke Kairo untuk beberapa masalah; pertama, menghentikan permusuhan 'Israel' dengan segala bentukna. Kedua, mengakhiri blokade selamanya dan mengangkat tangan yang berdosa dari hak kami dari tanah air kami.”[infopalestina/mh]