Ga Pernah (Kapok) Mudik


Islamedia.co - Bagi kami kami orang yang hidup di perantauan salah satu kebahagiaan tersendiri dan mungkin juga kebanggaan adalah bisa pulang kampung minimal satu tahun sekali tiap tahun yaitu ketika lebaran tiba.

Meski hanya di Indonesia tradisi mudik saat lebaran, meski ga ada salahnya bisa sering-sering mudik tidak hanya saat lebaran saja tiap bulan misalnya atau bahkan tiap pekan, kalo yang ini mah bukan mudik lagi namanya tapi pejabat PJKA(Pulang Jum at Kembali Ahad) wkwkw

Bukan masalah detail prosesi permudikan yang akan saya bahas, cuma ingin sedikit berbagi pengalaman suka duka(eits banyak sukanya ding) mudik alias pulang kampung lebaran 2014)
Mumpung masih hangat turun dari penggorengan agar lebih nikmat dihidangkan hahah

Semoga ini bagian dari pengamalan dari surat Ad Dhuha ayat terakhir jika mendapat nikmat maka berbagilah (meski hanya cerita)

Jangan ditanya semua orang yang pernah mengenal kami terutama rekan-rekan seperjuangan tempat kami mengajar, murid-muridku faham betul bahwa bu Anin adalah aktivis berat mudik, sampai-sampai muridku yang kupasrahi buat jadwal sudah berinisiatif duluan meliburkan tanggal-tanggal yang sekiranya saya pasti pulang kampung meski hanya libur 3-4 hari apalagi akhir semester hehe.

Tiap kali lebaran selalu diagendakan pulang kampung, karena aku dan suamiku satu kampung halaman jadi tidak ada arisan jadwal kemana harus pulang(salah satu nikmat dapat jodoh satu kampung hehe).

Tidak seperti awal-awal pernikahan mudik kapan saja bisa langsung jalan, di samping pada waktu itu fasilitas pembelian tiket terutama kereta(moda favorite kami) bisa di dapatkan kapan saja dan mudah.

Sekarang tiket lebih susah di dapat karena 90 hari sebelum keberangkatan bisa di pesan, namun memang fasilitas dari PT KAI lebih berkualitas, tak ada lagi desak-desakan, copet, penjual keliling yang kadang berisik, ditambah semua kelas sudah be AC. jadi ga kepanasan.

Tapi yaitu tadi tiket lebaran sudah habis bahkan sejak hari pertama dibuka pesanan, yang lebih mudah lagi pesanan online, jadi tidak lagi ngantri seperti ngantri sembako wkwk.
Sistem tersebut mengindikasikan siapa cepat dia dapat.

Karena suamiku bekerja sebagai PNS terkadang jadwal bisa cuti atau tidak di saat lebaran belum bisa dipesan jauh-jauh hari seperti beli tiket kereta. Jadi kadang tidak sinkron antara rencana dengan kenyataan.

Alhasil tahun ini kami tidak bisa membeli tiket jauh-jauh hari seperti pesan layanan PT KAI "tiket bisa dipesan sejak H - 90 hari keberangkatan".

Kala itu teman-teman baik di dunia maya maupun nyata sudah
ramai membicarakan tentang mudik tidaknya lebaran kali ini.
Ketika ditanya "mudik ga?". "Insyaa Allah" jawabku optimis.
"Wah dah dapet tiket dong?".
Kujawab "belum, yah yakin saja pasti bisa mudik entah bagaimana caranya, heheh"

Ya aku yakin niat baik Allah pasti menolong, mudik meski mungkin bukan hal yang wajib namun didalamnya ada nilai ibadah ketika kita meniatkan kebaikan di sana, menjenguk orang tua, bersilaturrahim dengan sanak saudara, teman yang lama tidak berjumpa, nostalgia kenangan indah di sana, merupakan charge dan sumber energi tersendiri kalo yang ini. Bahkan dalam capaian lebih luas dalam ilmu ekonomi, mudik itu salah satu sarana agar ekonomi berjalan(menyebar) karena terjadi peredaran uang di daerah, tidak saja hanya di kota besar, namun juga di kota kecil kabupaten, kecamatan, desa tempat kita berasal(wuisss ada analisis ekonomi segala hahah, iya dong)

Selain itu yang jelas dengan mudik mengistirahatkan crowded dan padatnya aktifitas di kota sehingga "tradisi macet" pun kadang pindah ke daerah.

Itu yang menjadikan kami selalu bersemangat untuk pulang kampung apapun caranya haha.

Allah mengabulkan permohonan kami untuk bisa pulang kampung lebaran tahun ini meski belum beli tiket jauh jauh hari karena jadwal cuti yang takpasti. Kebetulan suami dapat tugas dinas soaialisasi suatu program Anggaran Keuangan Negara dari kantornya di kota tempat kelahiran dan orang tua kami tinggal, "Purworejo never ending tresno"(minjem istilahnnya anak CPP)*
Kebetulan Ramadhan kali ini bertepatan dengan libur sekolah, dan anak-anak sudah saya pulangkan dahulu di awal Ramadhan. Jadi tinggal aku dan suamiku berdua#eaa.

Yang menjadi bonus selanjutnya adalah kami bisa pulang seminggu lebih awal dibanding jadwal libur cuti bersama yang resmi, sehingga lebih lama di kampung halaman. Terlebih yang menjadi bonus kuadratnya adalah biaya mudik suami di tanggung negara, eits gausah curiga dulu kalo aku bayar dengan uang pribadi kami.

Qodarallah lagi meski kurang lebih H-9 dari lebaran tiket kereta sudh habis juga. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket pesawat, dan Alhamdulillahnya lagi dapet tiket promo dari Garuda.

Kalimat syukur Alhamdulillah senantiasa kami panjatkan pada Allah akan banyak nikmat dan karuniaNya saat itu.

Cerita tak selesai sampai di situ yang lebih heroik lagi adalah ketika kami memburu tiket balik. Seperti di awal bahwa kami pulangnya tidak terjadwal dan terencana karena cuti yang belum pasti ter ACC. Jadi kita baik mudik maupun balik ga ada tiket, hanya berbekal "Yakin" dan juga doa baik doa kami sendiri juga temen-temen yang sangat baik pada kami.

Tanggal 4 adalah hari pertama suami harus masuk kantor, sedangkan Aisyah anak kami, tanggal 6 masuk sekolah, adalah hal yang sangat terlalu jika dia harus bolos lagi sd tanggal 11/12 masuk sekolah, karena ketika Ramadhan lalu dia sudah izin sepekan untuk tidak masuk sekolah sebab sudah kami pulangkan dahulu.

Sedangkan aku sendiri meski tidak terlalu terikat pada sanggar tempatku mengajar masih ada beberapa agenda dan peer yang harus diselesaikan sebelum tanggal 11 ketika masuk perdana.
Singkat cerita intinya kami harus sampai di Jakarta selambat-lambatnya tgl 4 atau tanggal 5 pagi hari.

Sedang tiket terutama kereta, ketika kami cek baik via online, datang langsung ke stasiun, maupun agen tiket sudah habis sd tanggal 11, dan baru ada tanggal 12 di semua kelas. Oh nooooo,.....bgaimana ini? Kami tak putus harapan dan terus berusaha, dengan memantau terus agen-agen tiket online meski sinyal internet di kampung seperti keong wkwk. Kenapa ga nyari travel? atau bis? atau pesawat? hasilnya sama sudah pada habis di booking sampai tanggal 5. Kalaupun ada tinggal 1 kursi, sedangkan kita butuh 3 kursi. Sampai 2 hari full kita habiskan untuk nyari tiket balik, demi bisa kembali ke Jakarta menggapai asa dan cinta.#ea

Genap 12 agen tiket dan stasiun kita datangi hasilnya nol, alias full. Saking semangatnya ada kejadian lucu kalo ada tulisan agen tiket kita berhenti dan bertanya kalo-kalo masih ada tiket buat kami, atau sekedar meninggalkan nomer hp agar sewaktu waktu terjadi pembatalan tiket bisa menghubungi kami.
Dan diantaranya kami masuk agen tiket pariwisata, "maaf mas sini tidak melayani perjalanan antar kota, kami melayani perjalanan wisata". Kami tinggalkan agen tiket itu dengan langkah lesu namun lumayanlah sempat ngadem diruang AC meski sebentar heheh. Dalam hatiku masih tetap yakin Allah pasti punya rencana tersendiri untuk kami. Aku minta juga doa dari temen-temen agar bisa balik ke Jakarta. Sampai terharu dengan sambutan agar bersholawat dari ustadz ketua yayasan kami.

Namun demikian, kami takpupus harapan masih berusaha ditengah kesempitan, sambil pasang modem meski sinyal kurang bershahabat. Mengklik beberapa agen, tiket online traveloka, PT KAI, pergi pergi.com, lion air, sampai apalah yg ujung-ujungnya jual beli tiket dotcom kami klik haha.

Ditengah kegalauan suami sempat ngobrol dengan imam masjid desa kami. Salah satunya tentang rencana keberangkatan putranya ke kota Bandung untuk menuntut ilmu. Ternyata eh ternyata dia mengeluhkan belum dapat tiket juga. Kemudian suami ingat bahwa sebenarnya masih ada tiket kereta mutiara malam tinggal satu kursi ke Bandung. Kebetulan kemarin juga sempat ditawari untuk ke Jakarta via kereta lewat bandung.
Namun aku berpikir ulang kok repot amat yak?nanti sampai Bandung harus nyari angkutan lagi. Akhirnya kami lepas. Malam itu ketika online masih ada satu kursi yang akhirnya diserahkan kepada putra pak imam masjid tadi. Mereka bahagia sekali.

Aku berdoa semoga dengan membantu mencarikan tiket tadi, memudahkan kami mendapat tiket ke Jakarta.

Malam itu hari Sabtu 2 Agustus kami masih berusaha online lagi, sempat ada 1 tiket pesawat lion tersedia, itu artinya hanya bisa suamiku saja yang berangkat. Setelah berdiskusi intinya aku kurang sreg, nanti aku harus berangkat kemudian hari atau entah kapan. Nah qadarallah setelah diklik untuk pesan, ternyata sudah tdk tersedia alias sudah laku dalam hitungan menit.

Kami sempat putus asa, akhirnya kita coba lagi untuk penerbangan diluar Jogjakarta-Jakarta, pilihan suamiku ada dari Semarang-Jakarta, karena kita coba Solo-Jakarta juga sudah habis terpesan. Alhamdulillah masih tersedia 3 kursi sesuai kebutuhan kami. Untuk penerbangan Ahad 3 Agustus. Langsung kami pesan. Dan ternyata itu adalah tiga kursi terakhir yang dipesan. Setelah itu, beberapa menit kemudian sudah tidak tersedia.

Meskipun jarak Purworejo Semarang itu memakan waktu 3,5 jam perjalanan normal, kami ambil saja, daripada suami harus bolos dihari pertama, atau keberangkatan kami yang terpisah-pisah.
Balik ke Jakarta dapat bonus piknik ke simpang lima haha. Iya karena kami harus datang lebih awal takut kena macet Purworejo Semarang, eh ternyata alhamdulillah lancar jaya. Karena masih siang kami masih sempat jalan jalan di simpang lima plus wisata kuliner khas Semarang tahu gimbal.

Disini banyak hikmah yang bisa kami ambil diantaranya yakinlah pertolongan Allah itu pasti datang di detik-detik terakhir dalam kepayahan usaha yang maksimal, dimana kita sudah pasrah hanya Dia yang memampukan.


*CPP = Cah Purworejo Perantauan

Anindya Sugiyarto





close
Banner iklan disini