Saya harus Membayar Rp. 300.000,- Agar Tak Berkhalwat


Islamedia.co - Berdua-duaan dengan lawan jenis (khalwat) memang penyakit yang mematikan iman bagi seorang bujang. Ia pintu masuk bagi mereka yang ingin mendekati zina, dan mengabaikan ‘laa taqrobuzzina’. Khalwat juga menjadi momok yang perlu di wanti-wanti bagi ikhwan dan akhwat, baik yang lajang maupun sudah menanggalkan status bujang.


Dalam kondisi ‘pengawasan mata’ dan dalam kondisi lingkungan yang kondusif tentu cukup mudah untuk menghindari khalwat. Nah, bagaimana bila menghindari khalwat dalam keadaan sepi dari tatapan mata-mata ‘bercahaya’ Illahi?

Pada sebuah kesempatan, saat arus balik ke Jakarta, penulis merasakan pengalaman yang cukup melumatkan jawaban dari pertanyaan di atas. Ceritanya, ketika sampai di terminal Terboyo dan naik bus Trans Semarang, ada seorang perempuan muda berjilbab dengan celana ketat duduk di depan penulis, bertanya kepada penulis tentang keberadaan stasiun Poncol. Rupanya dia baru pertama kali naik kereta dan baru setahun berada di Jakarta. Penulis pun memberi tahu di mana harus turun di stasiun Poncol. Tak lama perempuan yang berjaket sebuah kampus negeri di Jogjakarta itu balik nengok lagi ke arah penulis.

“Mas, ternyata saya harus turun di Stasiun Tawang!” katanya berseru seraya menunjukkan tiket yang katanya beli secara online jauh-jauh hari.
Penulis hanya meng-oh-kan saja. Juga kaget.
“Ternyata kita satu tujuan, Mas!” ucapnya lagi.

Penulis pening, karena waktu itu langit sudah gelap, malam makin gulita. Tak terbayang harus berjalan berduaan dengan perempuan bukan mahram. Perempuan tersebut juga menyebut nama kereta, tujuan dan jam keberangkatan yang kebetulan sama. Bikin penulis makin pening tujuh tikungan.

Bus pun berhenti di jalan Pemuda. Kami pun turun. Penulis coba menjauh untuk mencari tahu kepada seseorang jalan menuju stasiun Tawang. (Sekadar untuk diketahui, penulis ketika mudik lebih sering naik bus AKAP, sekalinya naik kereta biasanya lewat stasiun Poncol dan informasi tentang bus dari Terboyo menuju Tawang penulis dapat dari hasil bertanya ke PKS Jawa Tengah via akun Twitternya @PKSJateng). Setelah dapat informasi, penulis pun jalan kaki dan si perempuan itu ternyata membarengi. Sepertinya dia benar-benar tidak tahu jalan—mungkin juga ketakutan dengan kejahatan malam.

Melihat seorang laki-laki yang sepertinya tadi penulis lihat di bus, penulis dekati dan sekonyong-konyong si perempuan tersebut juga ikut mendekati. Benar, ia ternyata mau ke Tawang juga dan untuk pertama kali. Kami saling ngobrol hangat. Si laki-laki tersebut ternyata dari Rembang, perempuan berkerudung dari Kudus dan penulis sendiri dari Demak. Laki-laki tersebut mengira penulis dan perempuan itu sudah saling kenal. Kami pun berjalan cepat menuju stasiun diselingi dengan obrolan. Di bagian ini penulis merasa aman karena ada pihak ketiga (baca: bukan setan). Sesampainya di stasiun penulis mengajak untuk sholat Isya terlebih dahulu dan si perempuan tersebut ternyata mau ikut, entah apa alasannya padahal penulis lihat perempuan tersebut tidak melakukan sholat juga, menunggu di selasar masjid.

Seusai sholat Isya, teman perjalanan laki-laki tadi ternyata duluan, karena jam keberangkatannya jam 20.00 WIB. Itu artinya penulis harus…akhirnya penulis memutuskan untuk berjalan menuju ke sebuah mart dengan alasan membeli minuman bekal perjalanan, ini untuk menghindari berdua-duaan. Ternyata ia ngintil juga di belakang, katanya mau membeli air mineral. Pffuh!

Keluar dari mart penulis menuju Mesin Cetak Mandiri masih dengan perasaan yang was-was, karena waktu keberangkatan masih 1,5 jam lagi yang artinya selama itu si perempuan bakal ikut membarengi meski penulis sudah mencoba menjauh. Ketika mencetak tiket, betapa kaget. Usai memasukkan kode bayar, klik cetak, keluar lah remind: kereta sudah melakukan keberangkatan!

Shock!

Bingung!

Ternyata di bukti transfer tertulis pukul 18.00 WIB, sementara penulis ketika booking pesan jam keberangkatan jam 21.00 WIB dan dari pihak call centernya pun mengiyakan. Baiklah, ini sebuah keteledoran.

“Sudah hangus tiketnya, Mas. Ndak bisa diuangkan.” Kata petugas stasiun yang memandu para pencetak tiket mandiri dengan dialek Jawa medok.
“Apakah bisa pesan tiket yang berangkat malam ini?” Tanya penulis.
“Bisa, Mas. Tinggal bawa KTP ke Pusat Informasi. Buruan, Mas. Keburu diambil orang. Semoga masih ada.” Kata petugas berbadan tegap itu.

Penulis dihadapkan oleh dua pilihan: pulang saja dan pesan di lain hari karena biasanya tiket arus balik cepat sekali habisnya, atau tetap beli dengan konsekuensi harganya lebih mahal ditambah lagi nanti jika dapat jadwal keberangkatan yang sama dengan perempuan tersebut, artinya dia angkat mengikuti dimana saya berada. Ini bahaya!

Dengan berbagai pertimbangan, penulis pun meluncur ke Pusat Informasi. Alhamdulillah, segala puji memang milik Allah, tiket tersisa satu dan penulis langsung mengambilnya dengan harga agak lumayan mahal untuk kelas ekonomi AC yaitu Rp.300.000,- dan berita baiknya 15 menit kemudian kereta akan berangkat. Penulis langsung bergegas dari pusat informasi dan perempuan itu, Ya Tuhan…dia masih tetap mengikuti hingga di tempat pemeriksaan tiket oleh petugas.

Penulis tidak tahu apa yang akan terjadi jika dapat jadwal yang sama dengan perempuan tersebut. Memang bukan khalwat yang ‘terlalu’ membahayakan. Namun yang perlu diingat diantara hikmah diharamkan khalwat adalah karena khalwat merupakan salah satu ‘tiket’ yang mengantarkan kepada perbuatan zina, sebagaimana mengumbar pandangan merupakan awal langkah yang akhirnya mengantarkan pada perbuatan zina. Oleh karena itu bentuk khalwat yang dilakukan oleh kebanyakan pemuda meskipun jika ditinjau dari hakikat khalwat itu sendiri bukanlah khalwat yang diharamkan, namun jika ditinjau dari fitnah yang timbul akibat khalwat tersebut maka hukumnya adalah haram. Para pemuda-pemudi dan remaja-remaji yang berdua-duaan tersebut telah jatuh dalam hal-hal yang haram lainnya seperti saling memandang antara satu dengan yang lainnya, sang wanita mendayu-dayukan suaranya dengan menggoda, belum lagi pakaian sang wanita yang tidak sesuai dengan syari’at—mungkin berjilbab tapi lebih ke jilboob, dan lain sebagainya yang jauh lebih parah. Khlawat yang tidak aman dari munculnya fitnah maka hukumnya haram.

Ketika sudah menemukan tempat duduk yang sesuai dengan tiket, penulis pun menaruh tas di atas dan duduk di dekat jendela. Tak lama ada perempuan kira-kira berumur jelang 40-an tahun datang dan menaruh koper di bawah bangku karena yang bagian atas tempat menaruh tas sudah penuh. Penulis dan tiga penumpang lain yang saling berhadapan mulai ngobrol hangat menceritakan keberangkatan dan cara mendapatkan tiket.

Tak lama perempuan penaruh koper yang sedari tadi tampak kuyu pun bicara.
“Saya ketinggalan kereta. Uang saya hangus Rp.400.000,” ucapnya dengan mata yang sayu.


Muhammad Sholich Mubarok
Mahasiswa STIU Alhikmah Jakarta
twitter : @paramuda