Tamu Palestina


Islamedia.co -  "Israel? Apa itu Israel? Kenapa mereka menembak ku?"

"Tenangkan diri dulu. Tarik nafas panjang, dan coba ingat kembali siapa namamu!"

"Ya ampun... Sudah kubilang aku tak ingat siapa aku, siapa keluargaku, dan mengapa aku dalam kondisi terluka parah begini. Yang kuingat adalah dari tadi aku sudah berulang kali bilang kalau aku tak ingat apa-apa."

Dokter Abdullah menatap tajam pasien yang sedang terbaring terluka parah itu yang diserahkan oleh pihak ambulan ke rumah sakit tempat ia bekerja. Tadinya orang itu ditemukan terkapar pingsan di perkebunan zaitun di perbatasan Gaza dan Israel. Diduga merupakan korban dari pertempuran yang sedang berkobar sengit antara pejuang Palestina dan tentara Israel.

Dokter Abdullah membalikkan badan dan berjalan menjauh dari ranjang tempat orang tak dikenal tadi terbaring. Ia menghampiri seorang rekannya yang sedang mengurus pasien lain.

"Posturnya bagus. Mungkin saja ia seorang tentara Brigade Al-Qossam atau Saraya AlQuds, atau tentara brigade lainnya," ujar dokter Abdullah.

"Biar saya cek kepada para komandan brigade. Siapa nama pasien itu?" Tanya rekan dokter Abdullah sambil membetulkan selang infus.

"Dia sudah bilang berkali-kali kalau dia tidak ingat apa-apa."

"Oh iya. Maaf. Saya akan sampaikan ciri-cirinya saja. Dan kita bisa tunggu laporan orang hilang. Siapa tau keluarganya melaporkan. Sekarang, mohon rawat ia baik-baik."

"Tentu, dokter Mahmud. Apakah di kota ini ada rumah sakit yang memiliki alat CT Sanner?"

“Alat itu terlalu mewah untuk kota ini, dokter Abdullah.”

*********

Langit Gaza menghitam, sedang tanahnya memerah. Hitam oleh kepulan asap dari ledakan mesiu, merah oleh tumpahan darah rakyat sipil dan tentara yang sedang bertempur. Kondisi ini terjadi sejak tiga pekan yang lalu, saat di mana enam bulan lagi Israel menggelar pemilu dan pihak yang sedang memerintah di sana berkepentingan untuk mengangkat isu keamanan nasional demi melanggengkan kekuasaannya.

Dunia tak tahu kapan perang akan berakhir, meski upaya tentara Israel memasuki Palestina melalui perang darat  senantiasa kandas. Ratusan korban jiwa telah jatuh di pihak Israel, namun mereka tutupi. Tentara yang hilang mereka rahasiakan dan tak pernah diumumkan. Israel masih bernafsu mengerahkan semua kekuatannya untuk memasuki kota Gaza dan merontokkan kekuatan militer para pejuang di kota itu.

Rumah Sakit Asy-Syifa berada tak jauh dari titik pertempuran darat. Di sana terbaring para korban perang, rakyat sipil maupun pejuang. Rumah sakit itu senantiasa sibuk 24 jam oleh tindakan medis dan senantiasa gaduh oleh erangan pasien yang kesakitan.

Di sebuah ranjang dalam rumah sakit itu, Ahmad terbaring lemas. Luka-lukanya berangsur pulih, tapi ia masih sulit menikmati makanan yang masuk ke perutnya. Ia kerap memuntahkan makanan yang ia makan sehingga harus tetap diinfus sampai sekarang.

Kini, Ahmad duduk bersandar pada kepala ranjang, pandangannya terpaku pada hidangan makanan yang ditopang nampan yang berada di atas pangkuannya. Bubur yang dihidangkan pihak rumah sakit tak terlalu membuat ia berselera. Mungkin pikirnya, selama ini ia memuntahkan makanan bukan karena ada penyakit di dalam perut, tetapi karena ia tidak suka makanan yang dihidangkan. Makanan-makanan itu terasa asing dan tak sesuai selera.

Dalam pada itu, tiba-tiba Ahmad diganggu dengan kedatangan dua orang yang menghampirinya. Seorang anak muda, dan seorang lagi sudah berusia separuh baya. Berjalan tergesa mendekat ke arah ranjangnya.

“Apakah ini keluarga anda yang hilang, tuan?” Suara anak muda setelah dekat dengan posisi Ahmad.

Laki-laki berusia separuh baya di sampingnya mengamati wajah dan badan Ahmad yang terbalut perban di beberapa tempat. “Maaf, sepertinya bukan dia orangnya. Apakah orang itu bernama Ahmad?” jawab lelaki itu.

“Mmm.. Dia mengaku hilang ingatan. Tak ingat namanya sendiri. Kami mendapatkannya sepekan lalu terluka parah di sebuah kebun Zaitun di perbatasan, dekat dengan rumah Tuan. Kami tak menemukan tanda pengenal. Jadi kami panggil saja dia Ahmad sebagai identitas di rumah sakit ini.”

Lelaki separuh baya itu menggeleng. “Bukan. Maaf sudah merepotkan dan terima kasih.”

“Tidak apa-apa tuan.”

“Saya akan cari ke rumah sakit yang lain. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam. Semoga tuan menemukan anak tuan kembali.”

Lelaki paruh baya itu pergi diikuti pandangan Ahmad kepadanya. Dan tersisa seorang lelaki muda berdiri di samping Ahmad.

“Kamu kenal orang tua tadi?” Tanya anak muda itu.

“Tidak. Saya masih belum bisa mengingat apa-apa.” Jawab Ahmad.

“Padahal sudah satu pekan kamu dirawat tapi belum ada kemajuan apa-apa. Oh iya, mungkin ada hafalan Qur’an yang masih kamu hingat? Kamu masih hafal Al-Fatihah?”

“Al-Fatihah? Tidak. Dokter Abdullah juga pernah menanyakan saya apakah masih ingat cara sholat. Saya benar-benar lupa.”

“Kalau begitu saya akan carikan pengajar untukmu agar kamu bisa segera sholat, wudhu’, dan membaca qur’an.”

“Jangan. Tidak perlu repot-repot.” Ahmad menolak.

“Tapi itu kewajiban seorang muslim. Maaf, saat saya merawat luka kamu di sekujur tubuh, maaf, saya dapati kamu sudah pernah dikhitan. Karena itu saya yakin kamu muslim. Kalau kamu lupa, kamu harus belajar kembali agar bisa menunaikan kewajiban-kewajiban kamu. Insya Allah, sebentar saja kamu sudah hafal dan terbiasa kembali dengan gerakan dan bacaan sholat.”

Ahmad terdiam tak mampu menolak.

*********

“Kondisimu sudah sangat pulih, Ahmad.”

“Iya Syaikh. Alhamdulillah. Saya tak mungkin berada di rumah sakit ini lebih lama lagi. Sementara itu saya belum juga menemukan keluarga saya. Kalau boleh, saya ingin bekerja dan tinggal di yayasan milik anda, Syaikh. Saya masih ingin belajar banyak lagi kepada anda. Atau saya akan mencari masjid yang bisa saya tinggali.”

“Sangat boleh. Ada posisi lowong sebagai staf administrasi di yayasan saya. Kamu bisa menggantikan Urwah yang syahid dua hari yang lalu. Semasa hidup, Urwah tinggal di yayasan. Kamarnya kini kosong. Kamu bisa menempati kamar bekas Urwah, dan semoga kamu kelak bisa menikmati syahid seperti dia.” Jawab seorang lelaki tua yang dipanggil syaikh oleh Ahmad. Ia duduk di pinggir ranjang, memegang Al-Qur’an, dan telah menghabiskan dua jam bersama Ahmad mempelajari Al-Qur’an dan ajaran Islam.

“Amiin. Syukron, Syaikh.” Jawab Ahmad yang duduk di sebelahnya.

“Ahmad, kamu belajar seperti orang yang baru mengenal Islam. Dua pekan saya mengajari kamu Al-Qur’an, saya perhatikan semakin lama kamu semakin antusias mempelajarinya.”

“Benar syaikh. Semakin lama saya semakin menikmati keindahan Al-Qur’an dan juga ajaran Islam. Saya tidak berdusta, semakin terasa kesejukannya sehingga membuat saya ketagihan untuk selalu bertemu dengan anda, syaikh. Di kala sendiri, saya membaca kembali Al-Qur’an itu, dan tanpa sadar air mata menetes mengaliri pipi saya. Indah sekali.”

“Kalau benar yang kamu katakan, mungkin itu hikmah kamu terluka parah, Letnan Aron.” Sebuah suara menyela percakapan mereka. Bukan dari mulut Syaikh Usamah, guru yang mengajari Ahmad Al-Qur’an, juga bukan dari mulut Ahmad. Suara itu keluar dari mulut orang yang datang tiba-tiba. Dan membuat Ahmad terkejut bukan main.

“Tapi apakah benar seperti itu keadaannya? Atau cuma siasat agar kamu tak menjadi tawanan perang dan bisa lolos kembali ke Tel Aviv suatu saat?” Tanya suara itu lagi.

Syaikh Usamah pun terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia menatap ke arah orang yang berbicara. Rupanya ada beberapa tentara pejuang yang menghampiri mereka berdua.

“Badran? Kamu tidak mengucapkan salam kepada kami?” Tanya syaikh.

“Assalamu’alaikum, syaikh. Saya senang melihat anda sehat dan aman di samping seorang tentara Israel.”

“Wa’alaikum salam. Apa maksudmu?”

“Dia bernama Aron. Tentara IDF berpangkat Letnan. Pemerintah Israel baru saja merilis tentaranya yang hilang. Silakan dilihat, Syaikh, apakah foto-foto ini mirip dengan orang yang di samping anda?”

Badran, salah seorang pimpinan batalyon dari kesatuan Izzuddin Al-Qossam, menyodorkan sebuah kertas yang berisi data orang hilang, hasil print dari sebuah website.

Syaikh Usamah memperhatikan dengan seksama foto yang ada di kertas itu. Benar-benar mirip dengan orang yang selama ini ia panggil Ahmad.

Ahmad terdiam dan terlihat ketakutan. Ia menjadi salah tingkah. Setelah agak lama, akhirnya ia angkat bicara.

“Tiga pekan lalu, saya memang terluka parah setelah baku tembak yang terjadi di perbatasan utara Gaza. Regu saya tercerai-berai. Dan saat pasukan bantuan datang untuk menyelamatkan regu kami yang terdesak, saya tidak bisa bergabung karena telah terisolir oleh posisi tentara Palestina. Saya berhasil bersembunyi sehingga tidak ada yang mengetahui keberadaan saya, sementara luka di tubuh saya terus mengalir deras. Hingga akhirnya saya punya kesempatan menjauh dari medan pertempuran dan masuk ke sebuah kebun, saya menemukan beberapa warga sipil yang tewas. Saya mengganti seragam saya dengan pakaian salah seorang yang tewas itu agar tidak diburu oleh tentara Palestina. Lalu saya meneruskan perjalanan, hingga pingsan.

Saat sadar, saya telah berada di rumah sakit ini. Saya sudah merencanakan untuk berpura-pura menjadi warga Palestina korban perang agar tidak dijadikan tawanan perang.”

“Berarti benar kamu sesungguhnya bernama Aron.” Sela syaikh Usamah.

“Dan saat saya dipaksa belajar Al-Qur’an, saya menemukan jawaban yang menjadi pertanyaan selama ini. Bertahun-tahun saya heran mengapa warga Palestina tak mau menyerah dan terus memberikan perlawanan. Saya tak mengerti mengapa mereka menghindari kehidupan yang layak dan memilih peperangan. Saat saya menjadi tentara, saya semakin heran karena rakyat Palestina bertempur seperti mencari kematian. Terlalu nekad.

Bertahun-tahun saya mempelajari Talmud, dan kini saya membandingkannya dengan Al-Qur’an. Saya jadi mengerti mengapa sampai timbul pertanyaan seperti itu. Talmud membuat kami orang Yahudi mencintai kehidupan dunia. Talmud memuji-muji bangsa kami dan merendahkan bangsa selain Yahudi. Kami menjadi besar kepala, lalim, dan membuat kami enggan dan takut menemui kematian. Sedangkan ajaran Al-Qur’an membuat saya penasaran dengan kehidupan akhirat. Kehidupan sesungguhnya ada di akhirat, sehingga wajar bila kalian mencari surga melalui kematian.”

“Indah sekali Aron. Saya jadi tidak tahu apakah harus mempercayai kamu atau tidak. Dengan bercerita begitu, kamu masih punya harapan untuk kembali ke Tel Aviv?” Pertanyaan Badran menusuk.

“Saksikanlah oleh kalian, saya menyatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Saya siap menjadi tawanan kalian. Tapi ada satu permintaan, saya ingin terus mempelajari Al-Qur’an bagaimana pun keadaannya. Kalau saya dieksekusi mati, saya ingin sampai detik terakhir masih sedang mempelajari Al-Qur’an. Kalau kalian jadikan saya alat pertukaran tawanan, saya ingin kembali ke Israel dalam keadaan muslim.”

Syaikh Usamah dan Badran saling bertatapan. Kemudian Syaikh Usamah berkata, “Kamu adalah tamu kami, Ahmad. Kamu akan diperlakukan dengan baik. Saya jamin, kamu akan semakin merasakan keindahan Islam selama masih bersama kami.”