Mahasiswa Indonesia ini Laris jadi Imam Tarawih di Sudan


Islamedia.co - Sudan atau negara yang dikenal dengan julukan negeri dua nil tidak diragukan lagi sebagai salah satu negara Muslim yang memiliki banyak ulama-ulama besarnya dan penghafal A-Quran.
 
Karena itu, setiap Ramadhan, para ulama dan penghafal quran bertebaran masjid-masjid. Yang menarik, tahun ini, suara putra Indonesia ikut menambah semaraknya Ramadhan di Sudan.
 
Selama Ramadhan, permintaan dan tawaran menjadi imam dan muadzin banyak ditujukan pada mahasiswa asal Indonesia yang saat ini belajar di negeri itu.
 
Salah satu mahasiswa yang merasakanya Muhammad Fajar. Meski mahasiswa Indonesia asal Solo , Jawa Tengah ini belum genap setahun di Sudan, ia ia telah mendapat permintaan menjadi imam shalat tarawih di dua masjid dengan permintaan bacaan 10 lembar atau satu juz permalam.
 
Kebingungan dua pilihan ini membuatnya harus memilih salah satu, yang akhirnya pada satu masjid di kawasan Sya’biy, Khartoum, Ibu Kota Sudan.
 
Tidak hanya Muhammad Fajar, ada juga Juma Saputra beserta kedua temannya Umar Alfaruq dan Abdul Muiz. Ketiga mahasiswa asal Indonesia ini juga harus sibuk bergantian menjadi muadzin dan imam shalat maktubah (wajib) dan tarawih di salah satu masjid yang terletak di taman kota Khartoum.
 
Di tempat berbeda, mahasiswa asal Indonesia lain; Muhammad Yasir, Heggy dan Maliadi ketiganya juga menjadi imam dan muadzin di salah satu masjid yang terletak kawasan elit, yang dihuni oleh imigran yang berasal dari luar Sudan seperti; Turki, Iraq, Negeria, Libya,dll.
 
Orang Kaya
 
Tawaran imam dan muadzin kepada mahasiswa asal Indonesia tidak saja di bulan Ramadhan. Di hari-hari biasa, di luar bulan Ramadhan, permintaan seperti ini juga sering terjadi.
 
Contohnya Abdul Al-Manan. Ia diminta menjadi imam masjid di saat baru saja tiga hari menginjakkan kakinya di Sudan.
 
“Awalnya menjadi imam di masjid yang terletak di Bahri kemudian menjadi imam di masjid Al-Kiblat.”
 
Masjid Kiblat, sebuah masjid milik pengusaha sukses Sudan yang terletak di Bandara Internasional Sudan.
 
Abdul Al-Manan bahkan sempat diamanahi menjadi imam shalat Ied bagi warga Indonesia yang di Sudan.
 
Abdul Al-Manan sendiri sudah menjadi imam selama 7 tahun ini sejak datang ke tempat ini tahun 2007.
 
Kini Abdul Al Manan tinggal bersama istrinya dan satu orang anaknya di sebuah rumah yang dibiayai oleh pemilik masjid yang terletak yang tidak jauh dari masjid Al-Kiblat.
 
Selain tawaran menjadi imam di masjid tawaran itu juga ada di tempat tempat selain masjid seperti tawaran dadakan menjadi imam di rumah-rumah saat ketika ada acara atau ketika buka bersama dengan warga kompleks perumahan di lapangan terbuka.
 
Sebagaimana diketahui, di Sudan, warga Indonesia dipandang memiliki sifat ramah dan baik hati. Begitu juga dengan suaranya yang dinilai lembut. Maka tak heran bantuan-bantuan orang orang kaya Sudan mudah mengalir ke tangan tangan mahasiswa Indonesia. [hidcom/im]