Lebaran Kita Beda



Islamedia.co - Memang, apa sih istimewanya hari Lebaran? Karena kamu udah enggak wajib puasa lagi, karena kemaren udah takbiran keliling kampung, karena mama masak banyak makanan spesialnya kupat plus sambal goreng kentang nikmat, karena keluarga besar pada ngumpul semua dan kamu bisa dapat angpao buat beli-beli barang baru. Ya! Itu semua alasan yang kuat untuk bersuka cita di hari Lebaran. Oke lah, lebaran sepertinya memang momen yang tak bisa dilewatkan.
 

Ikut-ikutan saja, orang-orang makan kupat aku juga makan, orang sholat ied aku juga sholat, orang halal bi halal aku juga halal bi halal, orang ngucapin selamat lebaran aku juga ngucapin ‘met hari raya!’. Walaupun aku lakukan semua itu, sebenarnya aku hambar, untuk apa? Puasa Ramadhan untuk apa, kenapa harus? Tapi karena semua puasa, aku ikut puasa. Takbiran keliling kenapa harus? Tapi, apa harus untuk semua umat muslim? Ya sudahlah, karena semua melakukan, aku juga deh. Sholat Ied di lapangan? Iyeaah, harus bin wajib plus jalan ke lapangan bareng keluarga besar. Tapi, kenapa harus sholat? Kenapa bareng-bareng berangkatnya? Sampai keluarga yang tinggalnya di Sabang sama di Merauke aja bela-belain naik perahu lima hari lima malem buat kumpul bareng keluarga saat Lebaran. Baiklah, anggap semua memang harus begitu dan Lebaran memang seperti itu, berarti Lebaran itu adalah selesai bulan puasa, lalu makan kupat, kumpul bareng keluarga dan maaf-maafan.
 

***
 

Beberapa tahun belakangan ini, Lebaranku berubah. Kakak-kakak pindah ke luar kota dan keluarga tak sering kumpul bersama. Begitu juga Lebaran tahun ini. Aku masih tetap puasa, tetap takbiran, tetap makan kupat dan Sholat Ied. Semua masih menyenangkan, tapi tanpa kumpul keluarga Lebaran rasanya biasa saja. Euphoria Lebaran? Sudah lewat! Kalau arti bulan puasa dan Lebaran hanya itu saja, lalu apa arti Lebaranku tahun ini? Tanpa kumpul keluarga? Tanpa Sholat Ied bersama? Tanpa dapat angpao? Semua terasa tidak lengkap! Ohya, dulu lebaran selalu indah dengan baju baru. Tapi, sekarang juga tak ada lagi..
 

Di jalan menuju lapangan Sholat Ied, aku berjalan cepat dengan ibuku. Arloji menunjukkan pukul tujuh kurang lima, artinya Sholat Ied akan segera didirikan. Aaahh... sebenernya males juga karena cuma berangkat bertiga dengan ayah dan ibu. Makanya telat.
 

Di tengah kerusuhan orang-orang yang bergegas dan di tengah pemikiran yang tak jelas tentang arti Lebaran, “Gedebuk!”
 

Seorang kakek jatuh tersandung batu. Telungkup dan tak ada yang menolong. Ayahku dan orang di sampingnya membantu beliau bangun dan mengambilkan tongkatnya yang ikut jatuh. Aku hanya bisa mematung menatap kejadian di sampingku. Kakek yang malang, di hari Lebaran, di usia senjanya dia jalan sendirian, jalan pun sebenarnya sulit baginya, ia harus dibantu tongkat kayu untuk berdiri dan berjalan. Wajahnya keriput dan sayu. Kopiah, baju koko dan celana yang digunakan setua orangnya. Oh God, hidung kakek itu berdarah.. Saat ditanya apakah baik-baik saja, kakek itu masih terlihat shock, pusing dan tak sadar apa yang baru terjadi barusan. Kakek-kakek gitu lho, jatuh telungkup di aspal berbatu. Yang masih muda aja sakit pastinya, apalagi yang sudah tua?
 

Aku jadi makin penasaran apa sebenarnya arti semua ini. Khotib sholat Ied benar-benar tegas meminta kita jadi manusia berilmu. Ya, ilmu membuat manusia bisa menjawab segala pertanyaan. Mungkinkah bisa menjawab pertanyaanku dari dulu? Tentang arti semua ini.. Sekarang, pertanyaanku bertambah. Kenapa ilmu itu penting? Saat akan ditegakkan sholat, imam berkata dengan nada tinggi, “Katanya mau masuk surga, tapi diatur kok susah? Ayo, rapatkan shaf sholatnya! Rapatnya shaf adalah salah satu syarat sholat berjamaah.” Dalam pikiranku, sebegitu pentingnyakah shaf yang rapat? Serapat apa? Begini..begini..atau begini, nih? Dan, “Auuuh!!” ibu di sebelahku menjerit karena kakinya terinjak kakiku yang sibuk mematut rapatnya shaf. Ups..
 

Saat sholat Ied selesai selalu ada khotbah Idul Fitri. Walaupun aku bukan orang pintar agama, logikanya kalau ada orang bicara di depan (apalagi seorang ustad) ya didengarkan. Namun, pemandangan di barisan jamaah putri sangat fantastis. Ada anak yang jalan-jalan sambil makan, ada ibu-ibu yang sibuk benerin kerudungnya, ibu-ibu yang makan bekalnya, ada yang langsung sigap melepas mukena beres-beres sajadah dan pergi, ada yang berselfie-selfie ria. Padahal, ceramah baru dimulai. Lalu, apa arti ceramah buat kita?
 

***
 

Ternyata aku hidup di peradaban yang tak jauh beda dengan zaman Allah menurunkan Nabi. Jahiliyah. Eits, jangan marah dulu dan jangan sembarangan menuduh kaum Arab itu bodoh karena julukan jahiliyah mereka. Orang Arab itu pintar dalam ilmu-ilmu dunia, pintar berdagang, dan pintar strategi perang. Suku Quraisy adalah suku terhormat di jazirah Arab kala itu. Mereka disebut bodoh karena tidak mengenal Tuhannya. Maka, Allah menurunkan Nabi untuk mengajarkan tentang Tuhan. Kealpaan mereka akan Tuhan membuat masyarakat masa itu berkembang menjadi kaum yang tak beradab, suka berjudi, minum khamr, berzina, menganiaya budak dan lain sebagainya, maka Nabi diutus Allah untuk memperbaiki akhlak.
 

Peradaban saat ini juga tak jauh beda. Walaupun Nabi telah datang menyempurnakan risalah dan mengajarkan kebenaran, umat saat ini berjarak begitu jauh dengan Nabi dan makin menjauhi ajarannya. Alqur’an makin ditinggalkan, lalu makin mundurlah peradaban ini. Mereka sudah tak mengenal Tuhannya lagi. Kebiasaan jahiliyah dulu, minum minuman keras, berzina, dan berjudi dilakukan lagi oleh masyarakat sekarang. Mereka juga mulai melupakan agama dan Tuhannya, dimulai dari mengesampingkan perihal agama, lalu memisahkan urusan dunia dan urusan agama kemudian hidup tanpa aturan agama.
 

Well, dunia ini kembali ke siklus awal hidupnya. Bedanya, karena bumi berkembang dan masyarakat juga berkembang, mereka jadi semakin kreatif dalam hal melupakan Tuhannya. Orang-orang sulit dinilai jahiliyah karena semua terlihat kabur. Mereka melaksanakan ibadah, tapi tak jelas apa niatnya, tak tahu sesuai tuntunan tidak, tak tahu tujuan akhir dari ibadah itu hingga ibadah tidak lagi terasa nikmat, hanya formalitas belaka dan rasanya datar.

Saat bulan Ramadhan datang, orang-orang ramai membicarakannya bulan suci. Padahal, sebenarnya bulan Ramadhan bukan bulan suci, tapi bulan penuh Rahmat, bulan saat amalam dilipatgandakan, bulan saat syaithan dibelenggu dan lain sebagainya. Kenapa bukan bulan suci? Karena bulan suci lebih tepat diartikan bulan diharamkannya pertumpahan darah, atau biasa disebut bulan haram. Sedangkan, bulan haram dalam islam hanya empat yaitu Dzul Qaidan, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Seperti firman Allah "Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu." (At Taubah: 36).
 

Selama Ramadhan pula, banya orang mengingatkan kanan-kirinya untuk bersabar, untuk tidak bermaksiat, untuk sedekah, untuk beramal baik. Semua perbuatan itu tidak ada salahnya, tapi apakah harus hanya di bulan Ramadhan? Lalu, setelah ramadhan usai, boleh tidak sabar, boleh maksiat, boleh menahan kekayaan tidak sedekah, dan boleh beramal buruk, dong?
 

Kegiatan wajib lain selama bulan Ramadhan di peradaban sekarang adalah ritual buka puasa bersama atau nama kerennya “BuBer”. Sebenarnya, kegiatan ini positif karena buka bersama, andai ada orang yang menyiapkan menu buka bersama, ia bisa dapat pahala ‘memberikan makanan untuk orang yang buka puasa, sehingga mendapat pahala orang yang berbuka itu tanpa mengurangi pahala yang ia dapat’. Bisa juga buka bersama untuk mensyukuri nikmat terbesar mukmin, yaitu berbuka setelah puasa. Hanya saja, yang membuat sedih, buka bersama jadi salah kaprah kalau bukanya bareng pacar, bukanya lebih ke kesan hura-hura, bukanya Cuma untuk seneng-seneng tapi jadi telat banget sholat maghrib (apau malah lupa?), telat sholat isya karena buka barengnya kelamaan, atau bahkan buka bersama Cuma jadi ajang reuni teman-teman sekolah dan yang bukan islam pun ikut-ikutan buka puasa. Nah, jadi bias kan esensi kegiatannya?
 

Taraweh. Buka puasa, sholat maghrib, siap-siap ke masjid. Sholat isya’ di masjid, tarawehan lanjut ngaji. Kalau taraweh dilakukan dengan rutinitas kayak di atas itu mah keren banget, sob! Karena taraweh itu sunnah, jadi dia melengkapi wajib. Asal hati-hati aja, jaman sekarang manusia jarang bisa mikir mana sunnah mana wajib. Sholar maghrib telat-telat hampir isya’ (masih untung sih sholat), tapi tarawehan harus tepat waktu. Sholat wajib ogah-ogah di masjid, tapi karena bareng-bareng sholat taraweh paling rajin di shaf pertama. Sholat jumat (buat yang cowok) pake parfum aja enggak, sholat taraweh mandi kembang tujuh rupa, kan mau ketemu si dia!
 

Hampir sebulan Ramadhan berlalu, petasan, kembang api, lampion laku dijual. Toko baju muslim penuh sesak. Pasar tempat beli kupat, ayam dan bumbu opor harga-harga naik saking larisnya. Tapi masjid, yang awal Ramadhan penuh orang sholat dan ngaji, shaf sholatnya tinggal shaf paling depan, orang ngajinya udah enggak kelihatan, semua rame-rame hijrah dari masjid ke toko-toko belanjaan. Lebaraan sebentaar lagii.. Bulan Ramadhan, kiss bye! (Mana? Katanya rindu Ramadhan?! Tapi, ditinggal Ramadhan bahagia banget?)
 

Ramadhan benar-benar pergi tanpa menoleh mukanya ke kita. Ia tak dapat kesan indah di penghujung kesinggahannya. Malam Idul Fitri, manusia sudah lupa sampai mana dia ngaji di bulan ini. Takbiran, petasan, kembang api, lampion, makanan, baju baru.. Semua lebih indah..
 

Satu Syawal jadi hari menggembirakan. Sholat Idul Fitri bareng keluarga, ribet kayak mau tamasya. Pakai baju baru, kerudung, baru, sajadah baru, semuaaaa baru, untung bukan suami baru. Rame-rame pamer gadget bisa ini bisa itu, rame-rame pamer anak sekolah disini sekolah disitu, rame-rame punya sodara kerja disini kerja disitu, rame-rame pamer udah punya rumah, mobil, emas ini dan ituu..
Manusia sekarang sepertinya hanya muslim saat Bulan Ramadhan. Dan yaah, kita tahu, syaithan dibelenggu di Bulan Ramadhan saja, manusianya masih kemakan nafsu. Apalagi syaithan sudah dilepas dari karantina? Bebas!
 

***
 

Kian waktu berlalu, aku sadar Allah mengirimkan Ramadhan untuk umatnya karena banyak alasan dan cara kita menyambutnya cukup meniru Rasulullah. Mau tau seperti apa Rasulullah bersahabat dengan Ramadhan? Tidak akan diulas di sini karena panjaaang sekali bahasannya. Kalau ingin tahu, maka belajarlah. Dari mana? Dari alquran, al hadits, ulama dan ustad yang lurus.
 

Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az Zumar: 9).

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin membawakan dan menjelaskan ayat diatas di awal bab “Keutamaan Ilmu” dalam “Kitabul Ilmi” beliau. Diantaranya beliau berkata, “Tidak sama orang yang berilmu dan tidak berilmu, sebagaimana tidak sama orang yang hidup dengan yang mati, yang mendengar dengan yang tuli, yang melihat dengan yang buta. Ilmu adalah cahaya yang dengannya manusia mendapat petunjuk, yang denganya manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Dengan ilmu Allah mengangkat/melebihkan siapa yang dikehendakinya dari para makhluqNya. Allah berfirman, Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Al Mujadalah: 11)…” [kitabul Ilmi, hal 13].
 

Jika tahu ilmunya, Ramadhan kita beda maknanya, hinga Lebaranmu, Lebaranku, dan Lebaran kita pasti beda dari ilustrasi yang ada di atas. Kita bisa paham kenapa tetap ada kakek tua yang berjalan sendiri demi ikut Sholat Ied. Ramadhan lebih indah dari gemerlap dunia semata dan Lebaran lebih nikmat dari sekedar kumpul keluarga, baju baru atau anglapo saja. Indahnya hanya bisa kau rasa setelah menyelami nikmatnya ilmu. Seperti yang kualami.

Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. (Albaqarah 138).


Semoga bermanfaat.



A.Zahra
dewi.alfina93@gmail.com